Hadits dan Hubungannya dengan Alquran

HADIST DAN HUBUNGANNYA DENGAN AL-QUR’AN

A. Kedudukan Hadist dalam Islam

Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

Bayan Tafsir

Bayan Taqrir

Bayan Tasyri’

1. Merinci

2. Membatasi

3. Mentakhsis

Menguatkan Isi Al-Qur’an

Menetapkan Hukum Baru

Seluruh umat telah sepakat bahwa Hadist merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Ia menempati kedudukan setelah al-Qur’an. Keharusan mengikuti Hadist bagi umat Islam baik berupa perintah maupun larangan sama halnya dengan kewajiban mengikuti al-Qur’an. Al-Qur’an dan Hadist merupakan sumber syariat yang saling terkait seorang muslim tidak mungkin dapat memahami syariat kecuali dengan merujuk kepada keduanya sekaligus dan seorang mujtahid tidak mungkin dapat memahami syariat kecuali dengan merujuk keduanya sekaligus dan seorang mujtahid tidak mungkin mengabaikan salah satunya.

Jadi Al-Hadist dipandang dari segi kebendaannya wajib diamalkan dan sumbernya dari wahyu sederajat dengan al-Qur’an. Ia berada pada posisi setelah al-Qur’an dilihat dari kekuatannya. Karena al-Qur’an berkualitas Qathy secara global saja, tidak secara rinci. Disamping itu, al-Qur’an merupakan pokok, sedang sunnah merupakan posisinya menjelaskan dan menguraikan.

Untuk mengetahui sejauh mana kedudukan Hadist sebagai sumber ajaran Islam, dapat dilihat beberapa dalil berikut ini :

a. Al-Qur’an

Banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang kewajiban untuk tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Iman kepada Rasul sebagai utusan Allah SWT merupakan satu keharusan dan sekaligus kebutuhan individu. Dengan demikian Allah SWT akan memperkokoh dan memperbaiki keadaan mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ali Imron 17 dan An-Nisa 36.

Selain Allah memerintahkan umat Islam agar percaya kepada Rasul SAW, juga menyerukan agar menaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan yang dibawahnya, baik berupa perintah maupun perundang-undangan tuntutan taat dan patuh kepada Allah. Banyak ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah ini.

Firman Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 32 :

قل اطيعوا الله و اطيعوا الرسول وان طولوا فان الله لا يحب الكافرين

“Katakanlah ! taatilah Allah dan Rasulnya. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir”

Dalam Surat An-Nisa ayat 59 Allah juga berfirman :

ياايها الذين امنوا اطيعوا الله و اطيعوا الرسول و اولي المر منكم فان تتنازعتم في شىئ فردوه الى الله و الرسول ...........

“Hai Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang suatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya).....”

Disamping banyak ayat yang menyebutkan ketaatan kepada Allah dan Rasul secara bersama-sama, banyak yang memerintahkan menaati Rasul secara terpisah pada dasarnya ketaatan kepada Rasul berarti ketaatan kepada Allah sebagaimana firman Allah yang berbunyi :

من يطيع الرسول فقد اطاع الله

“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (An-Nisa :80)

Allah juga berfirman :

وما اتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

“Apa yangdiberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr:7)

Berdasarkan kenyataan ini maka sebenarnya Allah SWT juga menyebutkan secara eksplisit dalamal-Qur’an kewajiban mengamalkan sunah sebagaimana didalam ayat yang menerangkan kewajiban taat kepada Rasul. Semua itu merupakan dalil bahwa al-Hadist dijadikan salah satu sumber pembentukan syariat dalam al-Qur’an.

b. Hadist Nabi SAW

Banyak Hadist yang menunjukan perlunya ketaatan kepada perintah Rasul. Dalam satu pesannya, berkenaan dengan keharusan menjadikan Hadist sebagai pedoman hidup disamping Qur’an, Rasul SAW bersabda :

تركت فيكم امرين لن تضلوا ما ان تمسكتم بهما كتاب الله و سنتي

“Aku tinggalkan kepada kalian 2 perkara. Kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”

Dalam Hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda :

عليكم سنتي و سنة اخلفاء الراشدين المهتدين تمسكوا بها...............

“Kalian wajib berpegang teguh dengan sunah-sunahku dan sunah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya...” (HR. Abu Dawud)

c. Ijma’

Umat Islam telah mengambil kesepakatan bersama untuk mengamalkan sunnah. Bahkan hal ini mereka anggap sejalan dengan memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasulnya. Kaum muslim menerima hadist seperti mereka menerima al-Qur’an, karena keduanya sama-sama dijadikan sebagai sumber hukum Islam.

Kesepakatan umat Islam dalam mempercayainya, menerima dan mengalakan segala ketentuan yang terkandung dalam hadist berlaku sepanjang zaman, sejak Rasul masih hidup dan sepeninggalnya, maka Khulafaurrasyidin, tabiin, tabiin-tabiin, athba’u tabiin serta masa-masa selanjutnya dan tidak ada yang menahannya memahami dan mengamalkan isi kandungannya, akan tetapi mereka menghapal mentadwin dan menyebarluaskan dengan segala upaya kepada generasi-generasi selanjutnya. Dengan ini, sehingga tidak ada satu hadist pun yang beredar dari pemeliharaan. begitu pula tidak ada satu Hadit palsu pun yang dapat mengotorinya.

d. Sesuai dengan petunjuk akal

Kerasulan Nabi Muhammas SAW telah diakui dan dibenarkan oleh umat Islam. Ini menunjukan adanya pengakuan bahwa Nabi Muhammad membawamisi untuk menegakan amanat Dzat yang mengangkat kerasulan itu, yaitu Allah SWT. Dari aspek akidah, Allah SWT bahkan menjadikan kerasulan itu sebagai salah satu prinsip keimanan dengan demikian manifestasi dari pengakuan dan keimanan itu mengharuskan semua umatnya menaati dan mengamalkan segala peraturan atau perundang-undangan serta inisiatif beliau baik yang beliau ciptakan atas bimbingan wahyu maupun hasil ijtihadnya sendiri.

Didalam mengamban misi itu, terkadang beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang diterima Allah SWT baik isi maupun formulasinya dan terkadang pula atas inisiatif sendiri dengan bimbingan ilham dari Tuhan. Namun juga tidak jarang beliau membawakan hasil ijtihad semata-mata mengenai suatu masalah yang tidak ditunjuk oleh wahyu yang tidak dibimbing oleh ilham. Kesemuanya itu merupakan Hadist Rasul, yang terpelihara dan tetap berlaku sampai ada Hadis yang menasihkannya.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa Hadist merupakan salah satu hukum ajaran Islam yang menduduki urutan kedua setelah Al-Qur’an. Sedangkan bila dilihat dari segi kehujjahannya, Hadist melahirkan hukum Zahanni kecuali Mutawatir.

B. Fungsi Hadist terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an dan hadist sebagai ajaran Islam, satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Al-Qur’an memuat ajaran yang bersifat umum dan global, yang perlu dijelaskan dan diperinci lebih lanjut. Dalam hal ini Hadistlah yang berfungsi sebagai penjelas dari Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Surat An-Nahl 44 yang berbunyi :

وانزلنا اليك الذكر لتبين للناس

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia........

Fungsi Hadist sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an tersebut, dapat diperinci sebagai berikut :

1. Bayan At-Taqrir

Disebt juga Bayan At-Ta’kid dan Bayan Al-Isbat yaitu menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan didalam Al-Qur’an. Fungis Hadist dalam hal ini hanya memperkokoh kandungan Al-Qur’an. Seperti contoh ayat Al-Qur’an Surat Al-Maidah 6 tentang keharusan berwudhu sebelum sholat, yang berbunyi :

ياايها الذين امنوا اذا كنتم الى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وايديكم الى المرافق وامسحوا برؤوسكم وارجلكم الى الكعبين..............................

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.......”

Ayat diatas ditaqrir oleh Hadist Nabi riwayat Bukhari dari Abu Hurairah yang berbunyi :

قال رسول الله صلعم لا تقبل صلاة من احدث حتى يتوضا

Rasulullah SAW berdabda : “Tidak menerima shalat seseorang yang berhadast sebelum ia berwudhu”.

Menurut sebagian ulama bahwa Bayan al-taqrir atau Bayan at-ta’kid ini disebut denganBayan al-Muwafiq li Nash al-Kitab al-Karim. Hal ini karena munculnya Hadist-Hadist itu sesuai dan untuk memperkokoh nash Al-Qur’an.

2. Bayan At-Tafsir

Yang dimaksud dengan Bayan At-tafsir adalah penjelasan Hadist terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut seperti pada ayat-ayat yang mujmal, mutlaq dan ‘aam. Maka fungsi Hadist dalam hal ini memberikan perincian (tafsir) dan penafsiran terhadap ayat-ayat yang masih mutlak dan memberikan takhsis terhadap ayat-ayat yang masih umum.

a. Memerinci ayat-ayat yang Mujmal.

Yang Mujmal artinya ringkas atau singkat. Dari ungkapan yang singkat ini terkadang banyak makna yang perlu dijelaskan. Hal ini karena belum jelas makna mana yang dimkasudkannya, kecuali setelah adanya penjelasan atau perincian. Dengan kata lain, ungkapannya masih bersifat global yang memerlukan Mubayyin.

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mujmal yang memerlukan perincian sebagai contoh, ialah ayat-ayat tentang perintah Allah SWT untuk mengerjakan shalat, puasa, zakat, jual beli, nikah, qiyas dan hudud. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan masalah-masalah tersebut masih bersifat global atau garis besar atau meskipun diantaranya sudah beberapa perincian, akan tetapi masih memerlukan uraian lebih lanjut secara pasti. Hal ini karena dalam ayat tersebut tidak dijelaskan misalnya, bagaimana cara mengerjakannya, apa sebabnya, apa syarat-syaratnya atau apa halangannya. Mala Rasul SAW menafsirkan dan menjelaskan secara terperinci. Diantara contoh perincian itu dapat dilihat dalam Hadist dibawah ini yang berbunyi :

صلوا كما راتموني اصلى...................

“Shalatlah sebagaimana kamu melihatku Shalat........”

Dari perintah shalatnya, sebagaimana dalam Hadist disebutkan bahwa Rasul memberikan contoh yang dimaksud secaram sempurna. Bahkan bukan hanya itu, beliau melengkapinya dengan berbagai kegiatan lainnya yang harus dilakukan sejak sebelum shalat sampai dengan sesudahnya. Dengan demikian maka hadist diatas menjelaskan bagaimana seharusnya shalat dilakukan, sebagaimana perincian dari perintah Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 43 yang berbunyi :

واقيموا الصلاة و اتوا الزكاة........................

“dan dirikannlah shalat tunaikanlah zakat....”

Masih juga berkaitan dengan ayat diatas Rasul SAW memberinya berbagai penjelasan dan perincian mengenai zakat secara lengkap baik yang berkaitan dengan jenisnya maupun ukurannya, sehingga menjadi suatu pembahasan yang memiliki cangkupan sangat luas.

b. Men-taqyidkan ayat-ayat yang mutlaq

Kata Mutlaq artinya kata yang menunjukan pada hakekat kata itu sendiri apa adanya, dengan tanpa memandang kepada jumlah maupun sifatnya. Mentaqyidkan dan mutlaq artinya membatasi ayat-ayat yang mutlaq dengan sifat, kebendaan atau syarat-syarat tertentu. Penjelasan Rasul SAW yang berupa men-taqyidkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat Mutlaq, antara lain dapat dilihat dari sabdanya, yang berbunyi :

لا نقطغ يد السارق الا فى ربع دينارا فصا عدا

“Tangan pencuri tidak boleh dipotong melainkan (pencurian senilai) sepermpat dianr atau lebih.” (HR. Muslim)

Hadist diatas mentaqyidkan ayat Al-Qur’an yang mengharamkan semua bangkai dan darah, sebagaimanafirman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 38, yang berbunyi :

السارق والسارقة فاقطعوا ايديهما جزاء بهما كسبا نكالا من الله

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan ari Allah”

c. Man-Takhsisayat yang lain.

Kata ‘am adalah kata yang menunjukan atau memiliki makna dan jumlah yang banyak. Sedang kata, Takhsis atau Khash adalah kata yang menunjukan arti khusus, tertentu atau tunggal. Yang dimaksud men-Takhsis yang ‘am adalah membatasi ayat Al-Qur’an sehingga tidak berlaku pada bagian-bagian tertentu. Mengingat fungsinya ini maka ulama berbeda pendapat pendapat apabila mukhasisnya dengan Hadist ahad. Menurut Imam Syafii dan Imam Hambali, keumuman ayat bisa ditahsis oleh Hadist ahad yang menunjukan kepada sesuatu yang Khas, sedang menurut ulama Hanafiyah sebaliknya contoh Hadist yang berfungsi untuk men-takhsis ayat-ayat Al-Qur’an ialah Sabda Rasul SAW yang berbunyi :

لا يرث القاتل من المقتول شيئا

“Pembunuhan tidak berhak menerima harta warisan” (HR.Ahmad)

Hadist tersebut men-takhsis keumuman Firman Allah Surat An-Nisa 11 yang berbunyi :

يوصكم الله اولادكم للذكر مثل حظ الانثين.......................

“Allah mengisyaratkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anak-anakmu yaitu bagian anak laki-laki sama dengan bagian 2 anak perempuan.”

3. Bayan At-tashri’

Kata tashri’ artinya perbuatan, mewujudkan atau menetapkan aturan atau hukum. Maka yang dimaksud dengan Bayan Tashri’ disini adalah penjelasan hadist yang berupa mewujudkan, mengadakan, atau menetapkan suatu hukum atau aturan syara’ yang tidak didapati nashnya dala Al-Qur’an. Rasul SAW dalam hal ini berusaha menunjukan suatu kepastian hukum terhadap beberapa persoalan yang muncul pada saat itu dengan sabdanya sendiri.

Banyak hadist Rasul SAW yang termasuk dalam kelompok ini, diantara Hadist tentang penetapan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antara isteri dnegan bibinya), hukum syuf’ah, hukum merajam pezina wanita yang masih perawan, hukum membasuh bagian atas sepatu dalam berwudhu, hukum tentang hak waris bagi seorang anak.

Suatu contoh dapat dikemukakan disini hadist tentang kewajiban zakat fitrah yang berbunyi sebagai berikut :

“Sesunggunya Rasul SAW telah mewajibkan zakat fitrah kepada imat Islam pada bulan Ramadhan satu sukat (Sha’) kurma atau gandum untuk setiap orang baik yang merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan"(HR.Muslim)

Bayan ini oleh sebagian ulama disebut juga dengan Bayan Zaa’id ‘ala al Kitab al Kariim (tambahan terhadap Al-Qur’an) disebut tambahan disni, karena sebenarnya didalam Qur’an sendiri ketentuan-ketentuan pokoknya sudah ada, sehingga datangnya hadist tersebut merupakan tambahan terhadap ketentuan pokok itu. Hal ini dapat dilihat misalmya, hadist mengenai ketentuan diya. Dalam Qur’an masalah ini sudah ditemukan ketentuan pokoknya yaitu surat An-nisa 92 begitu juga Hadist mengenai haramnya binatang buas sudah ada, sebagaimana disebutkan diantarnaya Surat al-A’raf 157. Dengan demikian menurut mereka lebih lanjut sebagaimana dikatakan Abu Zahrah, tidak ada suatu hadist pun yang berdiri sendiri yang tidak ditemukan aturan pokoknya dalam Qur’an.

Hal tersebut diatas menurutnya, sesuai dengan ayat Al-Qur’an surat Al-An’am 38 yang menjelaskan bahwa didalam Al-Qur’an tidak ada yang dilewatkan atau diapalakan sesuatu pun. Pandangan ini diantaranya dinukil dari Asyafi’i.

Hadist Rasul SAW termasuk bayan tasyrif ini wajib diamalkan sebagaimana kewajiban mengamalkan Hadist lainnya.

Ketiga bayan yang telah diuraikan diatas kelihatannya disepakati oleh para ulama, meskipun untuk bayan yang ketiga sedikit dipersoalkan. Kemudian untuk bayan yang lainnya, seperti bayan I terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengakui dan menerima fungsi Hadist sebagai nasikh dan ada yang menolaknya. Yang menerima adanya Nasakh, diantaranya adalah jumhur ulama mutakallimin, baik Mutazilah maupun Asy’ariah, ulama Malikiyah, Hanafiyah, Ibn Hazm, dan sebagian Zahiriyah. Sedang yang menolaknya diantaranya adalah Asyafii dan mayoritas ulama pengikutnya, serta mayoritas ulama Zahiriyah.

4. Bayan Al-Nasakh

Kata al-Nasakh secara bahasa ada beberapa arti. Bisa berarti al-Ibtal (membatalkan), atau al-Izalah (menghilangkan), atau at-Tahwil (memindahkan), atau at-Taghyir (mengubah).

Diantara para ulama baik mutaakhirin maupun mutaqaddimin terdapat perbedaan dalam mendefinisikan bayan an-Nasakh memahami arti Nasakh dari sudut kebahasaan. Menurut ulama Mutaqadimin, bahwa yang disebut bayan an-Nasakh adalah adanya dalil syara’ yang datangnya kemudian.

Dari pengertian diatas bahwa ketentuan yang datang kemudian dapat menghapus ketentuan yang datang terdahulu. Hadist sebagai ketentuan yang datang kemudian daripada Al-Qur’an dalam hal ini dapat menghapus ketentuan atau isi kandungan Al-Qur’an. Demikian menurut pandangan para ulama yang menganggap danya fungsi bayan An-Nasakh.

Diantara para ulama yang membolehkan adanya Nasakh hadist terhadap Al-Qur’an juga berbeda pendapat dalam macam hadist yang dapat dipakai untuk men-Nasakhnya. Dalam hal ini mereka terbagi kepada tiga kelompok.

Pertama, yang membolehkan me-Nasakh Al-Qur’an dengan segala Hadist ahad. Pendapat ini diantaranya dikemukakan oleh ulama Mutaqadimin dan Ibn Hazm serta sebagian para pengikut Zahiriyah.

Kedua, yang membolehkan me-nasakh dengan syarat bahwa hadist tersebut harus mutawatir. Pendapat ini dikemukakan oleh Mu’tazilah.

Ketiga, ulama yang membolehkan me-Nasakh dengan Hadist Masyhur, tanpa harus dengan hadist Mutawatir. Pendapat ini dipegang diantaranya oleh ulama hanafiyah.

Salah satu contoh yang bisa diajukan oleh para ulama, ialah sabda Rasulullah SAW dari Abu Umamah al Bahili, yang berbunyi :

ان الله قد اعطى كل ذى حق حقه فلا وصية لوارث

“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada setiap orang haknya (masing-masing) maka tidak ada awasiat bagi ahli waris”.

Hadist diatas dinilai Hasan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi. Hadist ini menurut mereka menasakh isi Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 180 yang berbunyi :

كتب عليكم اذا حضر احطكم الموت ان ترك خيرا الوصية للوالدين والاقربون بالمعروف

“Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan tanda maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf....”

Kewajiban melakukan wasiat kepada kaum kerabat dekat berdasarkan surat Al-baqoroh 180, dinasakh hukumnya oleh hadist yang menjelaskan bahwa kepada ahli waris tidak boleh dilakukan wasiat.

BAB III

INGKAR SUNNAH DAN PERMASALAHANNYA

A. Pengertian Ingkar Sunnah

Ingkar sunnah menurut bahasa berasal dari dua kata, yaitu inkar dan sunnah. Menurut Ahmad Warson Munawwir (1984-1569), kata ingkar berasal dari kata ankara, yunkiru, inkaaran, yang berarti sulit, tidak mengakui, atau mengingkari. Sedangkan menurut Anton Maulana Muhammad (1088:379) ingkar sunnah berarti menyangkal, tidak membenarkan, tidak mengakui, mungkar, dan tidak menepati.

Adapun pengertian sunnah menurut bahasa yang dikemukakan oleh Ahmad Warson Munawwir, yaitu :

1. As Sunnah dengan makna jalan

2. As Sunnah dengan makna tabiat (watak)

3. As sunnah dengan makna al hadits

As Sunnah menurut istilah, M.M Azami (1993:14), sunnah adalah sabda, pekerjaan, ketetapan, sifat (watak budi atau jasmani), atau tingkah laku Nabi Muhammad SAW, baik sebelum menjadi Nabi maupun sesudahnya.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ingkar sunnah adalah orang-orang yang tidak mengakui (mengingkari) akan keberadaan as sunnah atau al hadits sebagai sumber hukum islam. Dari berbagai argumen di atas terdapat argumentasi yang naqli (al quran dan hadits) dan ada pula yang berupa argumen-argumen non naqli.

a. Argumen-argumen naqli

Argumen naqli adalah alasan pengingkar sunnah yang menggunakan dalil, baik dari Alquran maupun dari hadits.

1. Al quran

a. (Qs. An-Nahl:89)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَبَ تِبْيَنًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“ Dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu “

b. (Qs.Al-An’am:38)

مَا فَرَّتْنَا فِي الْكِتَبِ مِنْ شَيْءٍ

“ Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dal Al Kitab”

2. Sejumlah riwayat hadits yang berbunyi :

مَا جَاءَ عَنّيِ فَاَعْرِ ضُوْهُ عَلَى كِتَبَ اللهِ فَمَاوَافَقَهُ فَاَناْقُلْتُهُ

“ Apa yang datang kepadamu dari saya, maka konfirmasikanlah dengan kitabullah, jika sesuai dengan kitabullah, maka hal itu berarti aku telah mengatakannya, dan suatu yang menyalahi Alquran, berarti aku tidak mengatakannya, “(as-suyuthi, 1997:39)

b. Argumen-argumen non naqli

Ialah argumen yang tidak berupa Alquran atau hadits Nabi.

Diantara argumen non naqli yang diungkapkan oleh pengingkar sunah tersebut ialah:

1. Al quran diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril dalam bahasa Arab. Orang-orang mengerti secara langsung, tanpa harus bantuan penyelesaian dari hadits nabi. Dengan demikian hadits nabi tidak diperlukan untuk memahamu petunjuk Alquran

2. Dalam sejarah, umat islam telah mengalami kemunduran. Umat islam mundur karena umat islam terpecah-pecah. Perpecahan islam itu terjadi karena umat islam berpegang kepada hadits nabi. Jadi menurut pengingkar sunah, hadits nabi merupakan sumber kemunduran umat islam. Agar umat islam maju, maka umat islam harus meninggalkan hadits nabi.

3. Asal mula hadits nabi yang dihimpun dalam kitab-kitab adalah dongneg-dongeng semata, itu karena hadits-hadits nabi lahir setelah nabi wafat. (M.Syuhudi Ismail, 1994:20)

B. Perkembangan Ingkar Sunnah

Menjelang akhir abad kedua, menurut Muhammad Musthafa Azmi (1993-42), muncullah golongan yang mengingkari sunnah yang tidak di mutawatirkan saja.

Ada beberapa golongan yang menyikapi sunnah Nabi secara universal, dan ada pula yang menolak hadits karena diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Golongan tersebut adalah :

a) Sikap khawarij terhadap sunnah

As-Siba’I, seperti yang dikutip oleh M.M Azmi (1992:42) mengemukakan bahwa khawarij dengan berbagai kelompoknya yang berbeda itu, sebelum terjadinya perang saudara antara sahabat, menganggap semua sahabat nabi dapat dipercaya, kemudian mereka mengkafirkan ali, utsman, para pengikut perang jamaal, dua orang utusan perdamaian, orang-orang yang menerima keputusan(tahkim), dan orang-orang yang membenarkan salah seorang atau dua utusan perdamaian tadi.

b) Sikap golongan syi’ah terhadap sunnah

Yaitu mereka yang masih berada dalam lingkungan islam, mendiskusikan (menganggap tidak cakap dan mampu) kepada Abu Bakar, usman, serta umumnya para sahabat yang menjadi pengikut mereka ini, mu’awiyyah dan amr ibnu ash, serta sahabat lain yang terlibat dalam perampasan kekhalifahan ali. Lebih jauh, kaum syiah sesungguhnya mendiskualifikasikan umumnya para sahabat, kecuali beberapa orang yang dikenal kecintaannya kepada ali. Merak menolak as sunnah umumnya dari sahabat, kecuali yang diturunkan oleh para pengikut ali (Nurcholis Madjid, 1994:104)

c) Ingkar sunnah masa kini

Setelah negara-negara Barat menjajah negara islam, mereka mulai menyebar benih-benih busuk untuk melumpuhkan kekuatan islam. Pada saat itulah di irak muncul orang yang menolak as sunnah, sedang di Mesir hal itu muncul pada masa Muhammad Abduh. Ini menurut kesimpulan Abu Royyah, apabila hal itu benar. Imam Muhammad Abduh mengatakan bahwa umat islam saat ini tidak mempunyai pimpinan lain, kecuali Alquran. Islam yang benar adalah islam tempo dulu, sebelum munculnya perpecahan dalam tubuh muslimin.

C. Penyebab ingkar sunnah

1. Salah paham terhadap penafsiran Alquran. (Qs.Al An’am:38)

2. Faktor dari sebab-sebab adanya ingkar sunnag ialah terkait dengan adanya larangan Nabi, yang nota benenya adalah sabda Nabi (hadits), jadi, mereka sesungguhnya merupakan orang yang kebingungan. Di satu sisi mereka tidak berpedoman kepada sunnah, namun menjadikan hadits sebagai salah satu argumen

3. Mereka merasa angkuh dan gengsi. Karena pada prinsipnya para pengingkar sunnah tidak mengakui ayat lain atau hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu.

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Hadist merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Ia menempati kedudukan setelah al-Qur’an. Keharusan mengikuti Hadist bagi umat Islam baik berupa perinta maupun larangan sama halnya dengan kewajiban mengikuti al-Qur’an. Hadist berfungsi sebagai penjelas dari Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Surat An-Nahl 44. Fungsi Hadist sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an tersebut, dapat diperinci menjadi Bayan Tafsir, Bayan Taqrir, Bayan Tasyri’.

Ingkar sunnah adalah orang-orang yang tidak mengakui (mengingkari) akan keberadaan as sunnah atau al hadits sebagai sumber hukum islam. menurut Muhammad Musthafa Azmi (1993-42), muncullah golongan yang mengingkari sunnah yang tidak di mutawatirkan saja. Ada beberapa golongan yang menyikapi sunnah Nabi secara universal, dan ada pula yang menolak hadits karena diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Sikap Khawarij terhadap Sunnah, mereka mengkafirkan ali, utsman, para pengikut perang jamaal, dua orang utusan perdamaian, orang-orang yang menerima keputusan(tahkim), dan orang-orang yang membenarkan salah seorang atau dua utusan perdamaian tadi. Sikap Syi’ah terhadap Sunnah umumnya mendiskualifikasikan para sahabat, kecuali beberapa orang yang dikenal kecintaannya kepada ali, Merak menolak as sunnah umumnya dari sahabat, kecuali yang diturunkan oleh para pengikut ali (Nurcholis Madjid, 1994:104). Ingkar sunnah masa kini muncul Setelah negara-negara Barat menjajah negara islam, mereka mulai menyebar benih-benih busuk untuk melumpuhkan kekuatan islam.

DAFTAR PUSTAKA

Rofiah, Khusnati.2010.Studi Ilmu Hadith.Ponorogo:STAIN PO Pres.

Ghufron, Mohammad, dan Rahmawati.2013.Ulumul Hadits:Praktis dan mudah.Yogyakarta:Teras.
loading...

Related Posts



0 komentar:

Post a Comment

Panduan Berkomentar, Klik disini