Makalah Madzab-Madzab Pemikier Ekonomi Islam Kontemporer

MADZAB – MADZAB PEMIKIR EKONOMI ISLAM KONTEMPORER
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.
Dosen Pengampu : TARMIDZI, M.S.I


Disusun Oleh :
1.      Lita Widia                                   (2013115435)
2.      Indriyani                                     (2013115436)
3.      Fahmi Abdillah                           (2013115438)
4.      Titis Mulyaningrum                     (2013115441)

Kelas : H
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2017
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya kepada kita semua, terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ekonomi Islam yang berjudul “Madzab – Madzab Pemikir Ekonomi Islam Kontemporer”. Shalawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di yaumul akhir kelak. Amin.
Penyusuan makalah ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada :
1.        Bp. TARMIDZI, M.S.I selaku dosen mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.
2.        Serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan moriil maupun materil.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penulisan makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan yang membutuhkannya. Dapat dijadikan pedoman atau refrensi dalam penelitian maupun dalam pembahasan rumusan  masalah yang sama.

Pekalongan, 15  Mei 2017


Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                                                                                i
KATA PENGANTAR                                                                                 ii
DAFTAR ISI                                                                                                 iii
BAB I PENDAHULUAN
I.I    Latar Belakang                                                                                    1
I.II    Rumusan Masalah                                                                               2
I.III   Tujuan Penulisan Makalah                                                                  2
BAB II PEMBAHASAN
II.I        Mazhab Baqir As Sadr                                                                        3
II.II     Mazhab Mainstrem                                                                              4
II.III  Madzab Alternatif                                                                               6
II.IV  Syed Nawab Haidar Naqvi                                                                 8

BAB III PENUTUP
III.I            Kesimpulan                                                                                         10
III.II          Saran                                                                                                   10
DAFTAR PUSTAKA                                                                                  11

BAB I
PENDAHULUAN

I.I           Latar Belakang Masalah
Agama Islam hanyalah satu, yaitu Agama yang haq dari Allah SWT. Kebenaran Islam adalah kebenaran yang absolut, sebab ia berasal dari yang maha mutlak pencipta langit dan bumi. Akan tetapi, pemahaman mnusia terhadap Islam bersifat relatif, sebab manusia adalah mahluk yang memiliki berbagai kelemahan dan keterbatasan. Jadi perbedaan yang sebuah hal yang alami (natural/fitrah) sebab ia bersumber dari sifat intern manusia. Oleh karenya tidaklah mengherankan jika terdapat berbagai ragam interpretasi manusia tentang Islam meskipun sumber hukumnya sama. Pada dasarnya perbedaan seperti itu tidaklah mengurangi arti eksistensi dan vitalitas Islam, justru keragaman yang semakin memperkokoh Islam. Dalam Pandangan Islam perbedaan yang mucul tidaklah melanggar ajaran Islam itu sendiri, seperti : (1) Diniatkan secara sungguh – sungguh mencari keridhaan Allah (2) Menggunakan metode yang dianjurkan oleh Rasulullah, yaitu dari sumber utama Al- Quran dan As- Sunnah.
Dari sisi dari karakter dasar pemikiran ekonomi Islam pada saat ini atau di sebut dengan Ekonomi Islam Kontemporer, secara garis besar terdapat tiga madzab yaitu Madzab Baqir As Sadr, Madzab Mainstrem, dan Madzab Alternatif.

I.II        Rumusan Masalah
Untuk mempermudah pembahasan dalam makalah ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Pemikiran Madzab Baqir As Sadr tentang Ekonomi Islam
2.      Pemikiran Madzab Mainstream tentang Ekonomi Islam
3.      Pemikiran Madzab Alternative tentang Ekonomi Islam
4.      Syed Nawab Haidar Naqvi tentang Ekonomi Islam

I.III     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
a.       Tujuan Informal
1.      Agar pembaca mengetahui Perbedaan Konsep Madzab – Madzab Pemikir Ekonomi  Islam Kontemporer
b.      Tujuan Formal :
Adapun tujuan formal dalam penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.






BAB II
PEMBAHASAN
II.I        MADZAB BAQIR AS SADR
Ide dasar yang pertama dari madzab ini adalah bahwa terdapat perbedaan yang mendasar anatar ilmu ekonomi dengan Islam. Keduanya merupakan sesuatu yang berbeda sama sekali. Ilmu Ekonomi adalah ilmu ekonomi, sementara Islam adalah Islam, tidak ada yang disebt dengan Ekonomi Islam. Pendapat ini awalnya didasarkan atas ketidak setujuannya tentang definisi dari ilmu ekonomi yang menyatakan bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya ekonomi terbatas adanya, sementara keinginan manusia tidak terbatas. Definisi ini akan membawa implikasi yang serius dalam ilmu ekonomi, padahal islam memiliki pandangan yang sama  sekali berbeda.
Menurut mereka Islam tidak mengenal konsep sumber daya yang terbatas, sebab alam semesta ini maha luas. Allah SWT telah menciptakan alam semesta yang tiada terhingga luasnya, sehingga jika manusia mampu memanfaatkannya niscaya tidak akan pernah habis. Saat ini manusia baru mengeksploitir sebagaian dari Sumber daya ekonomi yang ada di bumi, padahal diluar bumi masih ada banyak pelanet atau galaksi lainnya. Dengan kemajuan teknologi, manusia mungkin akan mampu memanfaatkan sumber daya ekonomi yang ada di luar bumi, sehingga tidak akan pernah kekurangan sumberdaya. Sebaliknya, justru keinginan manusialah yang sesungguhnya terbatas, kebutuhan yang terbatas ini sesungguhnya secara implisit diakui dalam Ilmu ekonomi, misalnya adanya teori marginal utilityyang semakin menurun dan law of diminishing return.
Untuk itu madzab ini mengusulkan istilah lain pengganti ekonomi yaitu iqtishad yang berasal dari kata qasada yang berarti ‘in between” atau setara, selaras, dan seimbang.Dengan demikian iqtishad tidaklah sama dengan pengertian ekonomi dan bukan sekedar terjemahan kata ekonomi dalam bahasa Arab.
Meskipun menganggap perlunya perombakan mendasar dalam ilmu ekonomi, bukan berarti tidak perlu sama sekali mempelajari ilmu ekonomi. Menurut Sadr (1997) ilmu ekonomi sebenarnya dapat dipilih menjadi dua bagian, yaitu philosophy of economics atau normative economics dan science of economics atau positive economicsPositive economics bersifat objective dan universal sehingga juga berlaku tetap berlaku dalam Iqtishad. Misalnya, teoripermintaan dan penawaran yang menunjukkan hubungan antara tingkat harga dengan jumlah barang yang dimintaatau ditawarkan. Tetapi Normative Economics adalah suatu yang subjective, karenanya tidak boleh di kembangkan lebih lanjut. Norma – norma ini didasarkan kepada filsafat dan nilai dasar yang diyakini oleh para penyusun ekonomi, jadi merupakan buah karya hasil manusia. Karena Islam memiliki norma sendiri yang didasarkan atas Al Quran Hadis. Misalnya konsep sejahtera (walfare) yang menjadi tujuan ekonomi, keadilan efisiensi yang menjadi prinsip ekonomi tertentu saja tidak sama dengan yang dimaksud dalam Islam.[1]

II.II     MADZAB MAINSTREAM
Mazhab mainstream memiliki anggapan bahwa perbedaan utama ilmu konvensional dengan ekonomi islam adalah dalam cara mencapai tujuan. Mereka menyetujui pandangan konvesional bahwa maslah ekonomi muncul karena adanya keterbatasan sumber ekonomi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Jadi pandangan mereka berbeda dengan pandangan mazhab baqir as-Sadr. Menurut mereka, secara parsial atau local sangat mungkin terjadi kelangkaan sumber daya ekonomi, meskipun secara keseluruha (alam semesta) terjadi keseimbangan. Misalnya, di irak terjadi kekurangan sumber daya ekonomi. Di sisi lain, manusia pada dasarnya juga memiliki keinginan yang tidak terbatas. Justru dengan ajaran Islamlah kemudian manusia dituntut untuk mengendalikan keinginannya , sebab jika keinginan lepas terkendali maka akan menyengsarakan kehidupan manusia sendiri.
            Dengan tetap memberiakan pandangan ktritis terhadapa aspek-aspek sistemative dalam ilmu ekonomi, mazhab mainstream memfokuskan kepda mengelola sumber daya yang terbatas dan keinginan yang tidak terbats tersebut. Jika kapitalisme memecahkan permasalahan ekonomi market mechanism dan sosialisme menggunakan centralized plan, maka ekonomi Islma menggunakan cara yang ditentukan dalam Qur’an, Hadits dan praktik-praktik ekonomi islam pada masa kejayaan Islam.
            Sesuai dengan namanya , maka mazhab pemikiran ekonomi Islam mendominasi khasanah pemikiran ekonomi Islam di seluruh dunia.
Mazhab ini dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:
1.      Secara umum pemikiran mereka relative lebih moderat jika dibandingkan dengan mazhab lainnya sehingga lebih mudah diterima masyarakat.
2.      Ide-ide mereka banyak ditampilkan dengan cara-cara ekonomi konvvensional, misalnya menggunakan economic modeling dan quantitative methods sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas. Sebenarnya hal ini tidak mengherankan, sebab para pendukung mazhab ini kebanyakan memiliki latar belakang pendidikan ekonomi konvensional, di samping penguasaan ilmu keislaman yang memadai. Banyak di antara mereka telah menempuh pendidikan dengan jenjang tinggi dan tetap beraktivitas ilmiah di Negara- Negara Barat, misalnya Umar Chapra, Muhammad Nejutullah siddiqi, dan Muhammad Abdul Mannan.
3.      Kebanyakan tokoh merupakan staf, peneliti, penasehat, atau setidaknya memiliki jarian erat dengan lembaga-lembaga regional atau internasional yang telah mapan seperti Islac Development Bank (IDB), Internasional Institut of Islamic thought (HIT), Islamic research and Training institute (IRTI), dan Islamic Foundation pada beberapa universitas maju. Lembaga-lembaga ini memiliki jaringan kerja yang luas didukung dengan pendanaan yang memadai, sehingga dapat memsosialisasikan gagasan ekonomi Islam dengan lebih baik. Bahkan, gagasan ekonomi Ialam dapat dengan segera diimplementasikan dalam kebijakan ekonomi yang nyata, sebagaimana yang dilakukan oleh IDB dalam membantu pembangunan di negara-negara Muslim.
Selain itu mazhab Mainstream, yang banyak dipelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Islamic Development Bank (IDB) antara lain M. Umar Chapra,  M.A Mannan, Nejatullah Siddiqi, Khursid Ahmad, Monzer Khaf dan sebagainya, mengakui adanya scarcity yang mendasari terbentuknya lmu ekonomi. Karena sebagian tokoh mazhab Mainstream ini adalah alumni dari berbagai perguruan tinggi Amerika dan Eropa, maka mereka dapat menjelaskan femomena ekonomi dalam bentuk model-model ekonomi dengan pendekatan ekonometri. Dengan demikian berbeda dengan mazhab ini banyak meminjam teori-teori ekonomi konvensional.

II.III       MAZHAB ALTERNATIVE

Mazhab alternative mengajak umat Islam untuk bersikap kritis tidak saja bersikap Kapitalisme dan Sosialisme, tetapi juga terhadap ekonomi Islam yang saat ini berkembang. Terhadap pemikiran mazhab Baqir as- sadr mereka mengkritik bahwa mereka seringkali justru tidak instruktif dan esensial, sebab mereka berusaha menemukan sesuatu yang baru yang seringkali sebenarnya sudah ditemukan orang lain, menghancurkan teori lama kemudian membangun teori baru. Demikian pula mazhab mainstream, ia tidak lebih dari pada pemikiran ekonomi neoklaisk dengan beberapa modifikasi, seperti menghilangkan menambahkan zakat, serta memperbaiki niat. Islami
Pemikiran yang dipelopori antara lain oleh Timur Kuran (University of Southern California), Jomo (Harvard University), dan Muhammad arif ini berpendapat bahwa Islam memang pasti benar, tetapi ekonomi Islam belum tentu benar sebab ia hanya merupakan interprestasi manusia terhadap ajaran Islam (al-Qur’an dan Hadits). Oleh karenanya, pernyataan-pernyataan dari ekonomi Islamtidak dapat diterima begitu saja, melainkan harus diuji kebenarannya. Singkatnya, mazhab ini menginginkan agar ekonomi Islam academically justified, yaitu dapat diuji (testable) dan dibuktikan secara ilmiah.
Pemikiran tentang ekonomi Islam saat ini telah berkembang pesat, berjalan dengan upaya untuk implementasinya. Zarqa (1992) telah mengklasifikasikan kontribusi pemikiran ekonomi Islam yang berkembang saat ini ke dalam 4 kategori, yaitu:
a.       Pertama, mereka yang banyak menyumbang pemikiran dalam aspek normative system ekonomi Isla, menemukan prinsip-prinsip baru dalam system tersebut, atau menjawab pernyataan-pernyataan modern mengenai system tersebut. Termasuk dalam kategori ini yaitu para ahli syari’ah (fuqaha/juruts)
b.      Kedua, pememuan asumsi-asumsi dan pernyataan-pernyataan positif dalam al-Quran dan as-Sunnah yang relavan bagi ilmu ekonomi. Contoh kategori ini yaitu konsepsi ekonomi Islam. Mengenai pasar(yang diderivasi dari konsep syari’ah), mengajukan asumsi adanya ketimpangan informasi antara pembeli dan penjual. Konsep ini berbeda dengan model pasar persaingan sempurna dalam ekonomi konvensional (klasik) yang secara eksplisit mengasumsikan semua pelaku pasar memiliki informasi yang sempurna, yaitu benar dan lengkap, yang tersedia secara bebas. Karya Munawar Iqbal (1992) mengenai organisasi produksi dan teori perilaku perusahaan dalam prespektif Islam merupakan contoh kategori ini.
c.       Ketiga, terdapat pernyataan ekonomi positif yang dibuat oleh para pemikir ekonomi Islam, seperti banyak terdapat dalam, seperi banyak terdapat dalam karya Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun telah menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan menurunya masyarakat dalam bukunya muqadimah.contoh lainnya adalah karya al-Maqrizi mengenai penyebab dan dampak inflasi terhadap perekonomian.
d.      Keempat, analisi ekonomi dalam bagian sistem ekonomi Islamdan analisis konsekuensi pernyataaan positif ekonomi Islam mengenai kehidupan ekonomi. Kontributor utama kategori ini antara lain para ahli ekonomi konvensional yang sekaligus menguasai Ilmu syari’ah, dan umumnya mereka banyak mengunakan perangkat analisis sebagaimana dalam ekonomi konvensional. Bahkan, pada akhir-akhir ini terdapat banyak ahli ekonomi non Muslim yang mengkaji secara serius ekonomi Islam, misalnya Badal Maukerji dalam karyanya A Micro model of the Islamic Tax System.
Sementara itu mazhab Alternatif yang dimotori oleh Prof. Timur Kuran (Ketua pada Jurusan Ekonomi pada University of Southern California), Prof. Jomo dan Prof. Muhammad Arif, memandang pemikiran mazhab Baqir Sadr berusaha menggali dan menemukan paradigma ekonomi Islam yang baru dengan meninggalkan paradigm ekonomi konvensional, tapi banyak kelemahanya, sedangkan mazhab Mainstream merupakan wajah baru dari pandangan Neo-Klasik dengan menghilangkan unsurn bunga dan menambahkan zakat. Selanjutnya mazhab menawarkansuatu kontibusi dengan memberiakan analisis kritis yang ilmu ekonomi bukan hanya pada pandangan Kapitalisme dan sosialisme (yang merupakan representasi wajah ekonomi konvensional), melainkan juga melakukan kritik terhadap perkembangan wacana ekonomi Islam.[2]

II.IV            SYED NAWAB HAIDAR NAQVI
Syed Nawab Haidar Naqvi merupakan salah satu pemikir ekonomi dari Madzab Mainstrem. Pemikiran ekonominya dituangkan dalam karyanya; Ethics and Economics: An Islamic Synthesis (1981). Ia mendefinisikan ekonomi Islam sebagai “perilaku muslim sebagai perwakilan dari ciri khas masyarakat muslim.” Ada 3 tema besar yang mendominasi pemikiran Naqvi dalam ekonomi Islam. Pertama, kegiatan ekonomi dilihat sebagai suatu subjek dari upaya manusia yang lebih luas untuk mewujudkan masyarakat yang adil berdasarkan pada prinsip etika ilahiyyah, yakni keadilan (Al- ’Adl) dan kebajikan (Al-Ihsān). Menurutnya, hal itu berarti bahwa etika harus secara eksplisit mendominasi ekonomi dalam ekonomi Islam, dan faktor etika inilah yang membedakan sistem ekonomi Islam dari sistem ekonomi lainnya. Kedua, melalui prinsip Al- ’Adl wa Al - Ihsān, ekonomi Islam memerlukan suatu bias yang melekat dalam kebijakan-kebijakan yang memihak kaum miskin dan lemah secara ekonomis. Bias tersebut mencerminkan  penekanan Islam terhadap keadilan, yang ia terjemahkan sebagai egalitarianisme. Ini adalah suatu butir penting yang sering kali ia tekankan dalam tulisannya. Dan ketiga adalah diperlukannya suatu peran utama negara dalam kegiatan ekonomi. Negara tidak hanya berperan sebagai regulator kekuatan-kekuatan pasar dan penyedia (supplier) kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai partisipan aktif dalam produksi dan distribusi, baik di pasar barang maupun faktor  produksi, demikian pula negara berperan sebagai pengontrol sistem perbankan. Ia melihat negara Islam sebagai perwujudan atau penjelmaan amanah Allah tatkala ia meletakkan negara sebagai  penyedia, penopang dan pendorong kegiatan ekonomi.[3]










BAB III
PENUTUP
III.I               Kesimpulan
Dalam era kontemporer ada tiga madzhab dalam ekonomi islam. diantaranya adalah iqtishaduna yang berpendapat ilmu ekonomi tidak akan pernah bisa sejalan dengan islam. Keduanya tidak pernah dapat disatukan karena berangkat dari filosofi yang saling kontradiktif , mainstream yang berpendapat bahwa masalah ekonomi hampir tidak ada bedanya dengan  pandangan ekonomi konvensional. Hanya saja letak perbedaannya terletak pada cara menyelesaikan masalah tersebut, alternatif  yang berpendapat analitis kritis bukan saja harus dilakukan terhadap sosialisme dan kapitalisme, tetapi juga tehadap ekonomi islam itu sendiri.
Ada 3 tema besar yang mendominasi pemikiran Naqvi dalam ekonomi Islam. Pertama, kegiatan ekonomi dilihat sebagai suatu subjek dari upaya manusia yang lebih luas untuk mewujudkan masyarakat yang adil berdasarkan pada prinsip etika ilahiyyah, yakni keadilan (Al- ’Adl) dan kebajikan (Al-Ihsān). Kedua, melalui prinsip Al- ’Adl wa Al - Ihsān, ekonomi Islam memerlukan suatu bias yang melekat dalam kebijakan-kebijakan yang memihak kaum miskin dan lemah secara ekonomis. Dan ketiga adalah diperlukannya suatu peran utama negara dalam kegiatan ekonomi.


  III.II     Saran
Penulis telah berusaha maksimal untuk mewujudkan makalah yang baik. Namun jika masih terdapat kesalahan dalam penulisan maupun yang lain, penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan.


DAFTAR PUSTAKA
Nur Chamid. 2010. Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar).
https://www.academia.edu/6151188/PEMIKIRAN_EKONOMI_ISLAM_KONTEMPORER




[1] Chamid Nur. Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010). hlm.405 -  406.
[2] Ibid., hlm. 407 – 408.
[3]  https://www.academia.edu/6151188/PEMIKIRAN_EKONOMI_ISLAM_KONTEMPORER

Related Posts



0 komentar:

Post a Comment

Panduan Berkomentar, Klik disini