Perilaku Konsumen, Nilai Guna, hubungan antara Skala Prioritas dan Hukum Relasi, Hubungan Nilai Guna dan Permintaan

Download Makalah Doc


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa didalam pembelajaran ekonomi mikro terdapat klasifikasi siklus perdagangan antara lain produsen, distributor dan konsumen. Produsen harus memahami perilaku konsumen supaya menyediakan kebutuhan barang atau jasa yang sedang diminati. Teori konsumen digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan produk-produk yang akan dipilih oleh konsumen (rumah tangga), pada tingkat pendapatan dan harga tertentu.
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003). Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat,baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makluk hidup orang lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Perilaku konsumen adalahkecenderungan konsumen dalam melakukan konsumsi, untuk memaksimumkan kepuasannya. Perilaku konsumen ini tentunya akan memengaruhi konsumsi konsumen, dan pada akhirnya tentu akan memengaruhi permintaan akan barang dan jasa, dan pendapatan serta laba perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.
Dalam materi konsep dasar perilaku konsumen terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu pengertian perilaku konsumen, nilai guna, skala prioritas dan hukum relasi, dan hubungan nilai guna dan permintaan. Hal- hal tersebut akan dibahas lebih luas didalam pembahasan makalah ini.

B.    Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Perilaku Konsumen ?
2.      Apa yang dimaksud dengan Nilai Guna ?
3.      Bagaimana hubungan antara Skala Prioritas dan Hukum Relasi ?
4.      Bagaimana Hubungan Nilai Guna dan Permintaan ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    PERILAKU KONSUMEN

1.      Pengertian Perilaku Konsumen
       Perilaku Konsumen adalah bagaimana konsumen akan menanggapi atau akan merespon bila terjadi perubahan determinan permintaan atas barang atau jasa yang di perlukan (yang diminta).[1]Perilaku Konsumen adalah bidang studi menginvestigasi proses pertukaran melalui individu dan kelompok mana yang memperoleh, mengkonsumsi, dan mendisposisi barang, jasa, ide serta pengalaman.[2]Prinsip- prinsip perilaku konsumen berguna bagi para manajer bisnis, pemerintah dan organisasi nirlaba, serta juga orang-orang awam. Bagi manajer pemasaran, pengetahuan tentang perilaku konsumen memiliki implikasi yang penting untuk analisis lingkungan, positioning produk, segmentasi dunia bisnis, desain riset pasar, dan pengembangan bauran pemasaran.
       Tidaklah mengejutkan bahwa perilaku konsumen memiliki dampak yang kuat terhadap manajemen pemasaran. Manajemen pemasaran yang moderen juga menggunakan “konsep pemasaran”- ide tentang memahami kebutuhan dan keinginan konsumen yang akan memudahkan proses pertukaran dan pencapaian laba perusahaan. Oleh karenanaya, mereka melihat bahwa memuaskan konsumen merupakan hal yang penting dalam segala usaha pemasaran.
       Perilaku Konsumen merupakan sebuah disiplin aplikasi. Walaupun disiplin ini meminjam teori dan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu, seperti antropologi, sosiologi, demografi, ekonomi, dan psikologi, namun ia memiliki kekhususan sendiri. Para peneliti konsumen mengembangkan pokok pengetahuannya tersendiri untuk melengkapi pengetahuan yang mereka peroleh dari bidang ilmu lainnya.
       Pusat dari bidang ilmu perilaku konsumen adalah studi proses pertukaran.[3]Pertukaran adalah proses di mana sesuatu yang berwujud atau tidak berwujud, aktual atau simbolik, ditransfer antara dua atau lebih pelaku sosial.
B. NILAI GUNA
1.      Pengertian Nilai Guna
       Nilai guna dari barang dan jasa adalah kemampuan barang dan jasa tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.[4]Olah karena itu, maka adakalanya suatu barang dan jasa meningkat atau berkurang nilai gunanya bagi konsumen tergantung dari kondisi yang dihadapi konsumen. Misalnya nilai guna karena tempat (place utility), nilai guna karena waktu (time utility). Nilai guna (utility) dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis :
a.       Nilai Guna Objektif (Objective Utility)
Adalah nilai guna sesuai dengan kemampuan barang dan jasa dalam memuaskan kebutuhan, tanpa dipengaruhi oleh persepsi atau selera konsumen.
b.      Nilai Guna Subjektif (Subjective utility)
Adalah nilai guna yang di pengaruhi oleh anggapan atau persepsi konsumen dalam menggunakan barang dan jasa yang di konsumsinya.
c.       Nilai Guna Total (Total Utility )
Adalah nilai guna total (total utility, TU) dari total atau akumulasi kemampuan barang dan jasa dalam memuaskan kebutuhan konsumen.
d.      Nilai Guna Marjinal (Marjinal Utility )
Nilai guna marjinal adalah tambahan nilai guna ( marjinal utility,MU) karena tambahan satu unit konsumsi barang dan jasa. Informasi mengenai nilai guna marjinal ini, dapat dijadikan dasar untuk menentukan tingkat konsumsi yang menghasilkan kepuasan maksimum. Nilai guna marjinal makin lama makin berkurang, sehingga bila tambahan konsumsi dteruskan, maka nilai guna marjinal (MU) akan menjadi negatif yaitu MU kurang dari 0.
2.      Teori Tingkah Laku Konsumen
       Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan: pendapatan nilai guna (utilliti) kardinal dan pendekatan nilai guna ordinal.
a.       Teori Nilai Guna (Utiliti)
Di dalam teori ekonomi kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsikan barang-barang dinamakan nilai guna atau utiliti. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka makin tinggilah nilai gunanya atau utilitinya.
Dalam membahas mengenai nilai guna perlu di bedakan di antar dua pengertian: nilai guna total dan nilai guna marjinal. Nilai guna total dapat di artikan sebagai jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsikan sejumlah barang tertentu. Sedangkan nilai guna marjinal berarti pertambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dan pertambahan (atau pengurangan) penggunaan satu unit barang tertentu.[5]
Perbedaan antara nilai guna total dan nilai guna marjinal. Nilai guna total dari mengkonsumsikan 10 buah mangga meliputi seluruh kepuasan yang diperoleh dari memakan semua mangga tersebut. Sedangkan nilai guna marjinal dari mangga yang ke-10 adalah pertambahan kepuasan yang diperoleh dari memakan buah mangga yang ke-10.
b.      Nilai Guna Total Dalam Angka Dan Grafik
Hukum nilai guna marjinal yang semakin menurun akan dapat dimengerti dengan lebih jelas apabila digambarkan dalam contoh secara angka dan selanjutnya contoh itui digambarkan secara grafik dalam bagian ini hal tersebut akan di uraikan.[6]
Contoh Angka
Dengan memisalkan bahwa kepuasan dari memakan mangga dalam satu hari dapat dinyatakan dalam angka, dalam Tabel 7.1 ditunjukkan nilai guna marjinal dari memakan berbagai jumlah buah mangga. Dalam contoh tersebut, telah diperhatikan juga hipotesis di atas, yaitu tambahan nilai guna akan menjadi semakin menurun apabila konsumsi terus menerus ditambah. Contoh dalam tabel tersebut menunjukkan bahwa hingga mangga yang kedelapan nilai guna marjinal adaqlah positif, maka nilai guna total terus menerus bertambah jumlahnya. Ketika memakan mangga mencapai tingkat yang paling maksimum apabila jumlah mangga yang dimakan adalah delapan.
Tambahan-tambahan yang selanjutnya akan mengurangi kepuasan yang didapat dari memakan lebih banyak buah mangga. Dalam contoh ditunjukkan apabila konsumen tersebut memakan sembilan, sepuluh atau sebelas mangga, kepuasan yang didapat dari konsumsi tersebut adalah lebih rendah daripada kepuasan yang didapat dari memakan delapan mangga. Juga contoh dalm Tabel 7.1 menunjukkan bahwa adalah lebih baik memakan lima mangga daripada sebelas mangga, karena kepuasan yang dinikmati dari memakan lima mangga adalah lebih besar.








3.      Grafik Nilai Guna
Berdasrkan kepada angka-angka dalam Tabel 7.1 dalam Gambar 7.1 ditunjukkan kurva nilai guna total danmarjinal. Dalam grafik (i), sumbu tegak menggambarkan nilai guna total dan sumbu datar menunjukkan jumlah barang yang dikonsumsi (digunakan). Grafik (ii) menunjukkan nilai guna marjinal yang diukur pada sumbu tegak, pada berbagai unit barang yang dikonsumsikan-yang digambarkan pada sumbu datar.
Kurva nilai guna total (TU) bermula dan titik 0, yang berarti pada waktu tidak terdapat konsumsi, maka nilai guna total adalah nol. Pada mulanya kurva nilai guna total adalah menaik yang berarti kalau jumlah konsumsi mangga bertambah, maka nilai guna total bertambah tinggi. Kurva nilai guna total mulai menurun pada waktu konsumsi mangga melebihi delapan buah. Kurva nilai guna marjinal (MU) turun dari kiri ke atas ke kanan bawah. Gambaran ini mencerminkan  hukum nilai guna marjinal yang semakin menurun. Kurva nilai guna marjinal memotong sumbu  datar sesudah jumlah mangga yang kedelapan. Berarti sesudah perpotongan tersebut nilai guna marjinal adalah negatif.
4.      Pemaksimumkan Nilai Guna
Salah satu pemisalan penting dalam teori ekonomi adalah: setiap orang akan berusaha untuk memaksimumkan kepuasan yang dapat dinikmatinya. Dengan perkataan lain, setiap orang akan berusaha untuk memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsikannya. Apabila yang dikonsumsikannya hanya satu barang saja, tidak sukar untuk menentukan pada tingkat mana nilai guna dari memperoleh dan menikmati barang itu akan mencapai tingkat yang maksimum. Tingkat itu dicapai pada waktu nilai guna total mencapai tingkat maksimum. Tetapi kalau barang yang digunakan adalah berbagai-bagai jenisnya, cara untuk menentukan corak konsumsi barang-barang yang akan menciptakan nilai guna yang maksimum menjadi lebih rumit.[7]
5.      Cara Memaksimumkan Nilai Guna
Kerumitan yang timbul untuk menentukan susunan/komposisi dan jumlah barang yang akan mewujudkan nilai guna yang maksimum bersumber dari perbedaan harga-harga berbagai barang.  Kalau harga setiap barang adalah bersamaan, nilai guna akan mencapai tingkat yang memaksimumkan apabila nilai guna marjinal dari setiap barang adalah sama besarnya. Misalnya seseorang mengkonsumsikan tiga macam barang, yaitu sejenis pakaian, sejenis makanan, dan sejenis hiburan (katakanlah hiburan itu berupa menonton film). Didapati bahwa unit pakaian yang ketiga, unit makanan yang kelima, dan manonton film yang kedua memberikan nilai guna marjinal yang sama besarnya. Kalau harga ketiga barang tersebut adalah bersamaan, kepuasan yang maksimumkan (atau nilai guna yang maksimum) akan diperoleh orang tersebut  apabila mangkonsumsikan: tiga unit pakaian, lima unit makanan, dan dua kali menonton film.[8]
6.      Syarat PemaksimumkanNilai Guna
Dalam keadaan dimana harga-harga berbagai macam barang adlah berbeda, apakah syarat yang harus dipenuhi agar barang-barang yang dikonsumsikan akan memberikan nilai guna yang maksimum? Syarat yang harus dipenuhi adalah setiap  rupiah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan berbagai  jenis barang akan memberikan nilai guna marjinal yang sama besarnya. Untuk membuktikannya perhatikan contoh berikut. Misalkan seseorang melakukan pembelian dan konsumsi ke atas dua macam barang : makanan dan pakaian, dan berturut-turut  harganya adalah Rp. 5000 dan Rp. 50000, Misalkan tambahan satu unit makanan akan memberikan nilai guna marjinal sebanyak 5, dan tambahan satu unit pakaian mempunyai nilai guna marjinal sebanyak 50. Andaikata orang itu mempunyai uang sebanyak Rp. 50000, kepada barang apakah uang itu akan dibelanjakannya? Dengan uang itu orang tersebut dapat membeli 10 unit tambahan makanan, maka jumlah nilai guna marjinal yang diperolehnya adalah 10 x 5 = 50. Kalau uang itu di gunakan untuk membeli pakaian, yang diperolehnya hanyalah satu unit dan nilai guna marjinal dari satu unit tambahan pakaian ini adalah 50.[9]
Dengan mudah dapat dilihat bahwa orang tersebut tidakperlu berusaha –payah untuk menentukan barang mana yang harus ditambah konsumsinya. Apa pun yang dipilih akan memberikan nilai guna marjinal yang sama besarnya. Berdasarkan kepada contoh di atas dapatlah dikemukakan hipotesis berikut:
1)      Seseorang akan memkasimumkan nilai guna dari barang-barang yang di konsumsikannya apabila perbandingan nilai guna marjinal berbagai barang tersebut adalah sama dengan perbandingan harga barang tersebut. Keadaan seperti itu wunjud dalamcontoh di atas. Perbandingan harga makanan dan pakaian adalah 5000 : 50000 / 1:10, dan ini adalah sama dengan perbandingan nilai guna marjinal makanan dan pakaian, yaitu 5:50/ 1:10.
2)      Seseorang akan memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsikannya apabila nilai guna marjinal untuk setiap rupiah yang di keluarkan adalah sama untuk setap barang yang dikonsumsikannya.Dalam contoh di atas nilai guna marjinal per rupiah dari tambahan makanan adalah : nilai guna marjinal/harga = 5/5000 =1/1000. Dan nilai guna marjinal per rupiah dari tambahan pakian adalah nilai guna marjinal/harga = 50/50000 =1/1000.
Kedua hipotesis tersebut mengandung pengertian yang sama. Syarat pemaksimuman nilai guna seperti yang dinyatakan dalam (1) dan (2) biasanya dinyatakan secara aljabar, yaitu secara berikut :
MU barang A / PA = MU barang B / PB  = MU barang C / PC
                         Dalam persamaan di atas MU adalah nilai guna marjinal dan Pa, Pb, Pc berturut-turut dalam harga barang A, barang B, barang C.

7.      Teori Nilai Guna dan Teori Permintaan
Dengan menggunakan teori nilai guna dapat diterangkan sebabnya kurva permintaan bersifat menurun dari kiri atas ke kanan bawah- yang menggambarkan bahwa semakin rendah harga suatu barang, semakinbanyak permintaan ke atasnya. Ada dua faktor yang menyebabkan permintaan ke atas suatu barang berubah apabila harga barang itu mengalami perubahan: efek penggantian dan efek pendapatan.
a)      Efek Penggantian
Perubahan harga suatu barang mengubah nilai guna marjinal per rupiah dari barang yang mengalami perubahan harga tersebut. Kalau harga mengalami kenaikan, nilai guna marjinal per rupiah yang diwujudkan oleh barang tersebut menjadi semakin rendah. Misalnya harga barang A bertambah tinggi, maka sebagai akibatnya sekarang MU barang A/Pa menjadi lebih kecil dari semula. Kalau harga barang-barang lainnya tidak mengalami perubahan lagi maka perbandingan di antara nilai guna marjinal barang-barang itu dengan harganya (atau nilai guna marjinal per rupiah dan barang-barang itu) tidak mengalami perubahan. dengan demikian, untuk barang B misalnya, MU barang B/Pb yang sekarang adalah sama dengan sebelumnya. Berarti sesudah harga barang A naik, keadaan yang berikut berlaku :
MU barang A / PA<MU barang B / PB
Dalam keadaan seperti di atas, nilai guna akan menjadi bertambah banyak (maka kepuasan konsumen akan menjadi bertambahan tinggi) sekiranya konsumen itu membeli lebih banyak barang B dan mengurangi pembelian barang A. Keadaan di atas menunjukkan bahwa kalau harga naik, permintaan terhadap barang yang mengalami kenaikan barang harga tersebut akan menjadi semakin sedikit.[10]
Dengan cara yang sama sekarang tidak susah untuk menunjukkan bahwa penurunan harga menyebabkan permintaan ke atas barang yang mengalami penurunan harga itu akan menjadi bertambah banyak. Penurunan harga menyebabkan barang itu mewujudkan nilai guna marjinal perrupiah yang lebih tinggi daripada nilai guna marjinal per rupiah dari barang-barang lainnya yang tak berubah harganya. Maka, karena membeli barang tersebut akan memaksimumkan nilai guna, permintaan ke atas barang tersebut menjadi banyak pabila banyak apabila harganya bertambah rendah.
b)      Efek Pendapatan
                   Kalau pendapat tidak mengalami perubahan maka kenaikan harga menyebabkan pendapatan rill menjadi menjauh. Dengan perkataan lain, kemampuan pendapatan yang diterima untuk membeli barang-barang menjadi bertambah kecil dari sebelumnya. Maka harga menyebabkan konsumen mengurangi jumlah berbagai barang yang diberinya, termasuk  barang yang mengalami kenaikan harga. Penurunan harga suatu barang menyebabkan pendapatan rill bertambah, dari ini akan mendorong konsumen menambah jumlah barang yang dibelinya.
Akibat dari perubahan harga kepada pendapatan ini, yang disebut efek pendapatan, lebih memperkuat efek pengantian di dalam mewujudkan kurva permintaan yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Urian berikut menerangkan bagaimana teori utiliti dapat digunakan untuk membentuk kurva permintaan.[11]
8.      Mewujudkan Kurva Permintaan
Andaikan seorang konsumen hanya membeli dua jenis barang yaitu maka makanan (m) dan pakaian (k). Andaikan apabila ia menggunakan sepuluh unit makanan, konsumen itu mencapai keseimbangan konsumen, yaitu :
                        MUm/  Pm = MUk  /  Pk
Pada ketika keseimbangan itu dicapai, Pm (harga makanan) adalah Rp. 10000. Dalam contoh ini akan diperhatikan perubahan kuantitas permintaan makanan,  maka kuantitas pakaian yang dibelida harga pakaian tidak perlu diketahui.
Seterusnya misalkan harga pakaian tidak berubah tetapi harga makanan turun dari Rp. 10000 menjadi Rp. 5000, maka
                        MUm / P1m  > MUm / Pm atau: MUm / 5000 < MUk /Pk
Dimana P1m adalah harga makanan baru, yaitu Rp, 5000. Keadaan di atas menyebabkan konsumen menambah penggunaan makanan, misalnya dari 10 unit menjadi 15 unit, Pada juantitas dan harga makanan yang baru ini, keseimbangan konsumen akan dicapai kembali.[12]
Seterusnya misalkan bahwa harga makanan naik menjadi Rp. 15000 dan harga pakaian tidak mengalami perubahan.Sebagi akibatnya :
MUm / 15000 < MUm / 10000
Maka perubahan itu menyebabkan
MUm / P1m< MUk Pk
Ketidakseimbangan ini menyebabkan pengguna mengurangi kuantitas makanan yang di belinya. Misalkan konsumen mencapai keseimbanngan kembali apabila ia membeli 5 unit makanan.
Daripada contoh di atas dapat disimpulkan bahwa ciri permintaan konsumen itu keatas makanan adalah :
i.      Pada harga Rp 15000 sebanyak 5 unit akan dibeli.
ii.    Pada harga Rp 10000 sebanyak 10 unit akan dibeli.
iii.  Pada harga Rp 5000 sebanyak 15 unit akan dibeli.

Berdasarkan ciri permintaan ini, dalam Gambar 7.2 di tunjukkan kurva permintaan konsumen tersebut ke atas makanan. Titik A mengga mbarkan keadaan yang menyatakan dalam (i) titik B menggambarkan keadaan dalam (ii) dan titik C menggambarkan keadaan yang dinyatakan dalam (iii). Garis yang menghubungkan. A,B,C adalah kurva permintaan  konsumen tersebut keatas makanan. Ia menurun dari kiri ke kana, dan sifat ini sesui dengan yang dinyatakan dalam hukum permintaan.

C. SKALA PRIORITASDAN HUKUM RELASI
1.  Bila dari tiga jenis barang A,B,dan C, konsumen memilih B dibanding   A, dan memilih C, dibanding B, maka urutan prioritas pilihannya adalah : C,B,A
2. Bila dari tiga jenis barang A,B,dan C, konsumen indiferent antara      barang A dan B, kemudian juga indiferent antara barang B dan C, maka antara barang A,B, dan C dimata konsumen adalah sama indiferent.[13]
D. HUBUNGAN NILAI GUNA DAN PERMINTAAN
Hubungan antara nilai guna dan permintaan, dapat dilihat sebagai berikut:
a.         Nilai guna (utility) suatu barang dan jasa, mempengaruhi besarnya permintaan barang dan jasa tersebut. Makin tinggi nilai guna, maka permintaan akan barang tersebut juga makin tinggi, dan sebaliknya.
b.        Perubahan volume permintaan ( demand) suatu jenis barang, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1.             Efek substitusi (substitution effect), yaitu konsumen menukar barang konsumsi karena harga barang tersebut berubah.
2.             Efek pendapatan (income effect), yaitu mengubah konsumsi karena pendapatan (income) konsumen berubah.
c.         Fungsi nilai guna (utility) konsumenàU = f (A, B, C,...... Z)
è    U : Nilai Guna (kepuasan konsumen).
è    A, B, C. . . . ., Z) : Barang dan jasa yang dikonsumsi konsumen.









BAB II
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Perilaku Konsumen adalah bagaimana konsumen akan menanggapi atau akan merespon bila terjadi perubahan determinan permintaan atas barang atau jasa yang di perlukan (yang diminta).Nilai guna dari barang dan jasa adalah kemampuan barang dan jasa tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.Skala prioritas dan hukum relasi.Bila dari tiga jenis barang A, B, dan C, konsumen memilih B dibanding A, dan memilih C, dibanding B, maka urutan prioritas pilihannya adalah : C, B, A. Bila dari tiga jenis barang A, B, dan C, konsumen indiferent antara barang A dan B, kemudian juga indiferent antara barang B dan C, maka antara barang A, B, dan C dimata konsumen adalah sama indiferent. Hubungan nilai guna dan permintaan,dapat dilihat sebagai berikut: Nilai guna (utility) suatu barang dan jasa, mempengaruhi besarnya permintaan barang dan jasa tersebut. Makin tinggi nilai guna, maka permintaan akan barang tersebut juga makin tinggi, dan sebaliknya.Perubahan volume permintaan ( demand) suatu jenis barang, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: (a) Efek substitusi (substitution effect), yaitu konsumen menukar barang konsumsi karena harga barang tersebut berubah, (b) Efek pendapatan (income effect), yaitu mengubah konsumsi karena pendapatan (income) konsumen berubah.Fungsi nilai guna (utility) konsumen àU = f (A, B, C,...... Z)dimana U adalah nilai guna (kepuasan konsumen), dan A, B, C. . . . ., Z) : barang dan jasa yang dikonsumsi konsumen.






B.     KRITIK DAN SARAN

Penulis menyadari bahwa makalah ini  masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan materi dalam makalah di atas dengan sumber – sumber yang lebih banyak dan dapat di pertanggung jawabkan. Untuk saran bisa berisi kritik atau saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah




















DAFTAR PUSAKA

Noor, Henry Faizal. 2011.Ekonomi Manajerial.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Nugroho J, Setiadi . 2008. Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran .Jakarta: Kencana.
Soeharno. 2007. Ekonomi Manajerial .Yogyakarta: CV Andi Offset.
Sukirno, Sadono.1994. Mikro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

















[1]  Prof dr. Soeharno, TS, SU, Ekonomi Manajerial (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2007) hlm 41
[2]Setiadi . J. Nugroho, SE., MM. Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran (Jakarta: Kencana,2008)hlm 28
[3] Ibid
[4] Henry Faizal Noor, Ekonomi Manajerial (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2011 Cet 3)
[5]Sadono Sukirno, Mikro Ekonomi (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1994)
[6] Ibid, hlm 155-156
[7] Ibid, hlm 156-157
[8] Ibid, hlm. 157
[9] Ibid, hlm 157-158
[10] Ibid, hlm.158
[11] Ibid, hlm.159
[12] Ibid, hlm.160
[13]Henry Faizal Noor, Ekonomi Manajerial (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2011 Cet 3), hlm.260
Download Makalah Doc

0 komentar:

Post a Comment

Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, segera hubungi admin melalui contact us.. Terima Kasih