Makalah INFLASI - Ekonomi Makro Islam

Makalah INFLASI - Ekonomi Makro Islam

Download Makalah Inflasi DOC

Latar Belakang

Inflasi di dunia ekonomi modern sangat memberatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan inflasi inflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi investas, kenaikan biaya modal, dan ketidakjelasan ongkos serta pendapatan dimasa yang akan datang. Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak setabilnya sektor ril dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim pemerintahan yang berkuasa serta otoritas moneter. Lebih dari itu, ada kecenderungan inflasi di pandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan terjadi. Hal ini tercermin dari kebijakan otoritas moneter dalam menjaga tingkat inflasi. Setiap tahunnya otoritas moneter senantiasa menargetka bahwa angka atau tingkat inflasi harus diturunkan menjadi satu digit atau inflasi moderen. Permasalahan tersebut menimbulkan reaksi para ekonomi moderen.

Rumusan Masalah

1. Apa pengertian inflasi?

2. Bagaimana sejarah dari inflasi?

3. Apa saja penyebab dari inflasi?

4. Apa saja jenis jenis inflasi ?

5. Bagaimana kebijakan konvensional dalam mengatasi inflasi ?

6. Bagaimana inflasi dalam islam?

7. Bagaimana cara mengatasi inflasi dalam islam ?

A. Konsep dan Definisi Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga dari satu atau dua barang dan dalam waktu yang singkat. Secara umum dan sederhana inflasi dapat disebabkan dua hal yaitu inflasi yang timbul karena adanya permintaan masyarakat yang berlebih dan inflasi yang terjadi karena adnya kenaikan biaya produksi (Boediono, 1992:162). Menurut Atmaja (1999:66) dalam penelitiannya bahwa inflasi di Indonesia bukan saja fenomena jangka pendek namuin merupakan juga fenomena jangka panjang. Oleh karena itu inflasi merupakan fenomena moneter yang memiliki pengaruh luas kepada kondisi makro ekonomi negara sehingga inflasi harus dikendalikan agar tetap rendah dan setabil. Inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi yang banyak mendapatkan perhatian para pemikir ekonomi. Pada asanya inflasi merupakan gejala ekonomi yang berupa naiknya tingkat harga. Didasarkan pada sumber poenyebab inflasi dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Inflasi permintaan istilah lain untuk inflasi semacam ini antara lain ialah deman-pull inflation, inflasi tarikan permintaan dan deman inflation.

2. Inflasi penawaran istilah inflasi lain yang banyak dipakai untuk inflasi semacam ini ialah cost-push inflation dan suply inflation.

3. Inflasi campuran yaitu inflasi yang mempunyai unsur baik demand-pull maupun cost-push. Inflasi semacam ini juga sering di sebut mixed inflation.[1]

Sementara definisi lain menegaskan bahwa inflasi terjadi pada saat kondisi tidak seimbang (disequilibrium) antara permintaan dan penawaran. Yaitu lebih besarnya permintaan dari pada penawaran. Dalam hal ini tingkat harga umum mencerminkan keterkaitan antara arus barang atau jasa dan arus uang. Bila arus barang lebih besar dari arus uang maka akan timbul deflasi, sebaliknya bila arus uang lebih besar dari arus barang maka tingkat harga akan naik dan terjadi inflasi. Secara umum pendapat ahli ekoinomi menyimpulkan bahwa inflasi yang menyebabkan turunnya daya beli dari nilai uang terhadap baran-barang dan jasa, besar kecilnya ditentukan elasitas permintaan dan penawaran akan barang dan jasa. Faktor lain yang juga turut menetukan fluktuasi tingkat harga umumdiantaranya adalah kebijakan pemerintah mengenai tingkat harga, yaitu dengan mengadakan kontrol harga, pemberian subsidi kepada konsumen dan lain sebagainya.

Dari definisi yang ada tentang inflasi dapatlah ditarik tiga pokok yang terkandung didalamnya yaitu:

1. Adanya kecenderungan harga-harga untuk meningkat, yang berati mungkin saja tingkat harga yang terjadi pada waktu tertentu turun atau naik dibandingkan dngan sebelumnya, tetapi tetap menujukan kecendrungan yang meningkat.

2. Poeningkatan harga tersebut berlangsung terus menerus, bukan terjadi pada suatu waktu saja.

3. Mencangkup tingkat harga umu (general level of prices) yang berati tingkat harga yang meningkat itu bukan hanya pada satu atau beberapa komodit saja.[2]

B. Sejarah Inflasi

Perkembangan inflasi di Indonesia seperti halnya terjadi pada negara-negara berkembang pada umumnya, fenomena inflasi di Indonesia masih menjadi satu dari berbagi “penyakit” ekonomi makro yang meresahkan pemerintah terlebih bagi masyarakat. Menjelang ahir periode baru (sebelum krisis moneter) angka inflasi tahunan dapat ditekan sampai pada single digit. Tetapi secara umum masih mengandung kerawanan jika dilihat dari seberapa besar prosentase kelompok masyarakat golongna miskin yang menderita akibat inflasi. Lebih-lebih setelah berlanjutnya krisis moneter yang kemudian diikuti oleh krisis ekonomi, yang cenderung meningkat pesat (mencapai lebih dari 75% pada tahun 1998) dan diperparah semakin besarnya presentase golongan masyarakat miskin. Sehingga bisa dikatakan, bahwa angka inflasi di Indonesia termasuk dalam kategori tinggi, tetapi dengan meninjau presentasi golongan masyarakat bawah yang menderita akibat inflasi cukup besar, mak sebenarnya dapat dikatakan bahwa inflasi di Indonesia telah masuk dalam stadium awal dari hyperinflasi.

Menurut sudsut pandang moneteris jumlah uang beredar adalah faktor utama yang dituding sebagai penyebab timbulnya inflasi di setiap negara, tidak terkecuali di Indonesia. Di indonesia jumlah uang beredar itu lebih banyak, hal ini terjadi karena masih adanya anggapan, bahwa adanya uang kuasi hanya merupakan bagian dari likuiditas perbankan. Sejak tahun 1976 presentase uang kartal yang beredar (48,7%) lebih kecil dari pada presentase jumlah uang giral yang beredar (51,3%), sehimhha mengindikasikan bahwa telah terjadi proses moderenisasi disektor moneter di indonesia. Juga mengindikasikan bahwa semakin sulitnya proses pengendalian jumlah uang beredar di indonesia, dan semakin meluasnya monetisasi dalam kegiatan perekonomian. Akibatnya memberian kecenderungan meningkatnya laju inflasi. Menurut data yang dihimpun dalam laporan Bank Dunia, menujukan laju pertumbuhan rata-rata jumlah uang beredar di indonesia pada periode tahun 1980-1992 relatif tingi jika dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. dan, tingkat inflasi di Indonesia juga relatif tinggi dibandingkan dengan negar-negara ASEAN lainnya( kecuali Filipina). Kenaikan jumlah uang beredar di Indonesia pada tahun 1970-an sampai awal tahun 1980-an lebih disebabkan oleh pertumbuhan kredit likuiditas dan defisit anggaran belanja pemerintah. Pertumbuhan ini dapat merupakan efek langsung dari kebijaksanaan bank Indonesia dalam sektor keuangan (terutama dalam hal penurunan reserve requirement).[3]

C. Penyebab Inflasi

Faktor utama yang menjadi timbulnya inflasi di Indonesia adalah jumlah uang yang beredar, di indonesia jumlah uang yang beredar lebih banyak karena masih ada anggapan bahwa uang kuasi hanya merupakan bagian dari likuiditas perbankan. Faktor yang kedua adalah defisit anggaran belanja pemerintah yang banyak sekali menyangkut tentang struktual ekonomi Indonesia karena mendorong permintaan agrerat. Faktor ketiga adalah penawaran agrerat dan luar negeri. Kelemahan faktor agrerat disebabkan oleh adanya hambatan struktual yang ada di Indonesia. Harga pangan merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Umumnya laju penawaran bahan pangan tidak dapat mengimbangi permintaanya sehingga menyebabkan excess deman. Sedangkan di sisi lain di metode dan teknologi yang digunakan masih kuarang canggih dan tidak maksimal. Laju inflasi merupakan faktor penting dalam menganalisa dan meramalkan suku bunga. Selisih antara suku bunga nominal dan inflasi adalah ukuran yang sangat penting mengenai beban sesungguhnya dari biaya suku bunga yang di hadapi individu dan perusahaan. Suku bunga ril juga menjadi ukuran yang sangat penting bagi otoritas moneter. Peningkatan ekspektasi inflasi akan cenderung meningkatkan suku bunga nominal. Hal ini berarti pada suku bunga nominal akan cenderung terkandung ekspetasi inflasi untuk memberikan tingkat kembalian ril atas penggunaan uang.[4]

D. Jenis Inflasi

1. Inflasi menurut sifatnya[5]

a. Inflasi merayap

Inflasi yang ditandai dengan laju yang relatif rendah kurang dari 10 % per tahun. Pergerakan inflasi berjalan secara kamban dan dalam waktu yang cukup lama. Melihat sifatnya tersebut inflaasi merayap tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi perekonomian.

b. Inflasi menengah

Inflasi yang ditandai dengan kenaikan harga yang relatif cukup besar biasanya berkisar antara dua digit atau diatas 10%. Sifat inflasi ini berjalan dalam tempo yang singkat serta berdampak akseleratif dan akumulatif artinya bahwa inflasi bergerak dengan laju yang semakin besar. Pengaruh yang ditimbulkan terhadap perekonomian relatif cukup berat dibandingkan jenis yang pertama karena akan membebani masyarakat yang berpendapatan tetap seperti pegawai negeri, buruh, dan karyawan kontrak.

c. Inflasi tinggi

Inflasi dengan tingkat yang sangat tinggi dan menimbulkan efek merusak perekonomian karena menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap nilai uang. Harga barang naik berlipat – lipat dalam jangka pendek. Inflasi tinggi timbul pada saat terjadi defisit anggaran untuk membiayai proyek – proyek yang bersifat darurat dan ditutup melalui kebijakan pencetakan uang.

2. Inflasi menurut besarnya[6]

a. Inflasi rendah

Inflasi dengan laju pertumbuhan kurang dari 10 % pertahun, sehingga disebut juga inflasi dibawah dua digit. Sifat inflasi rendah ini sesuai dengan inflasi merayap (creeping inflation) dan tidak memberikan dampak yang merusak pada pereknomian. Dalam beberapa hal justru memberikan dorongan bagi pengusaha untuk lebih bergairah dalam berproduksi karena adanya dorongan kenaikan harga barang dipasar.

b. Inflasi sedang

Inflasi yang bergerak antara 10 % – 30 % pertahun. Pengaruh yang ditimbulkan cukup dirasakan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai negeri dan karyawan lepas.

c. Inflasi tinggi

Inflasi dengan laju 30% - 100 % pertahun. Inflasi tinggi terjadi pada keadaan yang tidak stabil dan mmenghadapi krisis yang berkepanjangan. Efek yang ditimbulkan menimbulkan mulai hilangnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga – lembaga ekonomi masyarakat seperti perbankan. Aktivitas kredit, asuransi, proses produksi dan distribusi barang mengalami guncangan karena masyarakat lebih mengambil sikap aman dengan memegang barang daripada uang.

d. Hyper inflation

Inflasi dengan laju diatas 100% pertahun dan menimbulkan efek krisis ekonomi secara berkepanjangan. Fenomena hyper unflation biasanya menandai adanya pergolakan politik dan pergantian pemerintah atau rezim. Masyarakat benar – benar kehilangan kepercayaan terhadap mata uang.

3. Inflasi menurut sebabnya[7]

a. Inflasi karena tarikan permintaan (deman pull inflation)

Inflasi yang terjadi krena kenaikan permintaan total (agregat demand) sementara produksi telah berada pada posisi full employment. Inflasi karena tarikan permintaan timbul jika peningkatan permintaan agregat bergerak lebih besar dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian. Sehingga untuk menstabilakan harga harus diimbangi dengan kebijakan mendoorong produksi sektor riil. Fenomena inflasi tarikan permintaan ini terjadi pada perekonomian yang mendekati Ifull employment yaitu pengangguran menurun dan tenaga kerja langka. Manakala pengangguran masih tinggi maka peningkatan permintaan agregat justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

b. Inflasi dorongan biaya (cost push inflation )

Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang aktif. Fenomena inflasi dorongan biaya diawali dari peningkatan upah yang merupakan komponen utama dalam aktivitas produksi. Melalui serikat pekerja mereka memaksakan peningkatan upah pekerja sehingga menimbulkan biaya produksi. Faktor lain yang berpotensi menimbulkan peningkatan baiya produksi adalah peningkatan harga bahan bakar miyak, makanan, dan pergeseran nilai tukar.

E. Kebijakan ekonomi konvensional dalam mengatasi inflasi

Dalam mengatasi masalah inflasi perlu dibedakan dua bentuk inflasi yaitu inflasi merayap dan inflasi yang lebih serius terutama apabila tingkatnya melebihi 5 persen. Mewujudkan inflasi nol persen secara terus menerus dalam perekonomian yang sedang berkembang adalah hal yang sulit dicapai. Oleh karena itu dalam jangka panjang yang perlu dilakukan adalah menjaga agar tingkat inflasi berada pada tingkat yang serendah mungkin, misalnya mencapai dua hingga empat persen setahun. Untk mencapai tujuan ini merupakan tugas dari bank sentral. Sementara langkah – langkah yang dilakukan pemerintah baru dilaksanakan apabila inflasi yang berlaku lebih serius dari inflasi merayap.[8] Berikut kebijaka – kebijakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah inflasi.

1. Kebijakan moneter

Sasaran kebijakan moneter dicapai melalui pengaturan jumlah uang yang beredar (M). Salah satu komponen jumlah uang adalah uang giral(deman depsit). Bank sentral dapat mengatur uang giral ini melalui penetapan cadangan minimum. Untuk menekan laju inflasi cadangan mimimum dinaikan sehingga jumlah uang menjadi lebih kecil. Selain itu bank sentral juga dapat melakukan diskonto (discount rate). Discount rate adalah tingkat diskonto untuk pinjaman yang diberikan oleh bank sentral kepada bank umum. Apabila tingkat diskonto dinaikan maka gairah bank umum untuk meminjam akan semakin kecil sehingga cadangan yang ada pada bank sentral juga mengecil. Akibatnya kemampuan bank umum untuk memberikan pinjaman pada masyarakat makin kecil sehingga jumlah uang beredar turun dan inflasi dapat dicegah. [9]

Instrumen lain yang dapat dipakai untuk mencegah inflasi adalah politik pasar tebuka (jual/beli surat berharga). Dengan cara menjual surat berharga bank sentral dapat menekan perkembangan jumlah uang beredar sehingga laju inflasi dapat lebih rendah.

2. Kebijakan fiskal

Kebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serta perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi pemintaan total. Kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerintah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan total, sehingga inflasi dapat ditekan. [10]

3. Kebijakan yang berkaitan dengan output

Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan output ini dapat dicapai misalnya dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negeri cenderung menurukan harga.[11]

4. Kebijakan penentuan harga dan indexing

Kebijakan ini dilakukan dengan penentuan celling harga, serata mendasarkan pada indeks harga tertentu untuk gaji ataupun upah (dengan demikian gaji/upah secara riil tetap). Kalau indeks harga naik maka gaji/upah juga dinaikan.[12]

F. Inflasi dalam perspektif islam

Timbulnya inflasi sebagai masalah perekonomian, tidak terlepas dengan upaya-upaya manusia untuk mendapatkan kemewahan duniawi, sehingga melanggar prinsip-prinsip bermuamalah secara Islam.

Menurut ekonom Islam, Inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena:[13]

1. Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan, fungsi pembayaran dimuka, dan fungsi unit perhitungan. Akibat beban inflasi tersebut, orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan. lnflasi juga mengakibatkan terjadinya inflasi kembali (self feeding inflation)

2. Melemahkan semangat masyarakat umtuk menabung (turunnya MPS)

3. Meningkatkan kecenderungan berbelanja, terutama untuk barang – barang non primer dan mewah (naiknya MPC).

4. Mengarahkan investasi kepada hal-hal yang tidak produktif seperti penumpukan kekayaan berupa tanah, bangunan, logam mulia, dan mata uang asing serta mengorbankan investasi produktif seperti pertanian, industri, perdagangan, dan transportasi.

Ekonom Muslim, Taqiuddin Ahmad bin Al Maqrizi salah seorang murid Ibn Khaldun menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu:[14]

1. Natural inflation

lnflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah yang tidak mampu dikendalikan orang, yaitu oleh turunnya penawaran agregatif atau naiknya permintaan agregat.

2. Human error Inflation

Human error inflation dikatakan sebagai inflasi yang disebabkan oleh kesalahan dari manusia itu sendiri. Human error inflation dikelompokan berdasarkan penyebabnya yaitu :

- Korupsi dandministrasi yang buruk

- Pajak yang berlebihan

- Percetkan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan.

G. Kebijakan ekonomi islam dalam mengatasi inflasi

Sebenarnya inflasi tidak dapat dihentikan ataupun dihapus. Namun laju inflasi dapat ditekan sedemikian rupa. Tokoh – tokoh ekonomi islam klasik sebelumnya telah menemukan solusi.[15]

1. Al – Ghazali (1058 – 1111)

Menyatakan pemerintah mempunyai kewajiban menciptakan stabilitas nilai uang. Dalam hal ini Al- Ghazali memperbolehkan penggunaan mata uang selain dinar dan dirham dengan syrat pemerintah wajib menjaga stabilitas nilai tukarnya dan pemerintah memastikan tidak ada spekulasi dalam bentuk perdagangan uang.

2. Ibnu taimiya (1268 – 1328 )

Ibnu taimiyah sangat menentang keras terhadap terjadinya penurunan nilai mata uang dan percetakan uang yang berlebihan. Ia berpendapat pemerintah seharusnya mencetak uang harus sesuai dengan nilai yang adil atas transaksi masyarakat, tidak memunculkan kezaliman terhadap mereka. Ini berarti Ibnu taimiyah menekankan bahwa percetakan uang harus seimbang dengan transksi pada sektor riil. Uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk transaksi dan dalam pecahan mempunyai nilai nominal yang kecil. Ia juga menyatakan bahwa nilai instrinsik mata uang harus sesuai dengan daya beli masyarakat.

3. Husain shahthah

Husain shahthah menawarkan beberapa solusi yaitu :

a. Reformasi tehadap sistem moneter yang ada sekarang dan menghubunhgkan antara kuantitas uang dengan kuantitas produksi.

b. mengarahkan belanja kepada belanja yang bermanfaat dan melarang sikap berlebihan

c. larangan menimbun harta dan mendorong untuk menginvestasikannya

d. Meningkatkan produksi dengan memberikan dorongan kepada masyarakat secara materil dan moral. Menjaga pasokan barang pokok merupakan krusial untuk bisa mengendalikan inflasi.

KESIMPULAN

Inflasi adalah kenaikan harga dari satu atau dua barang dan dalam waktu yang singkat. Faktor utama yang menjadi timbulnya inflasi di Indonesia adalah jumlah uang yang beredar. Faktor kedua adalah defisit anggaran belanja pemerintah yang banyak sekali menyangkut tentang struktual ekonomi Indonesia karena mendorong permintaan agrerat. Faktor ketiga adalah penawaran agrerat dan luar negeri. Jenis - jenis inflasi berdasarkan sifatnya, besarnya, dan sebabnya. Dalam ekonomi konvensional terdapat beberapa kebijakan dalam menanggulangi inflasi yaitu : kebijakan moneter, kebijakan fiskal, kebijakan yang berkautan dengan output, kebijakan penentuan harga dan indexing.

Ekonom Muslim, Taqiuddin Ahmad bin Al Maqrizi menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu : Natural inlation dan human error Inflation. Tokoh – tokoh ekonomi islam klasik sebelumnya telah menemukan solusi. Al – Ghazali menciptakan stabilitas nilai uang. Ibnu taimiyah, mencetak uang secara adil. Husain shahthan, menawarkan beberapa solusi yaitu: Reformasi tehadap sistem moneter, mengarahkan belanja kepada belanja yang bermanfaat, larangan menimbun harta, dan meningkatkan produksi

SARAN

Untuk dapat mencapai perekonomian yang sehat dan stabil dibutuhkan pemahaman mengenai inflasi. Oleh karena itu dsarankan agar pembahsan mengenai inflasi ini bisa diperdalam agar pengaplikasianya dapat dilakukan secara optimal dan bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, adwin s. Inflasi di Indonesia : Sumber-sumber Penyebab dan Pengendaliannya. Universitas Kristen Petrus

http: // makro4d. Wordpress. Di akses pada tanggal 12 oktober 2017 pukul 19.00 WIB

Karim, Adiwarman. 2008. Ekonomi makro islam. Jakarta : PT Raja grafindo

Milasari D, Agnes Sediana. 2010. Analisis Dampak Inflasi. Jakarta: Universitas Indonesia

Nophirin. 2012. Ekonomi moneter. Yogyakarta: BPFE

Reksoprayitno, Soediyono. Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPFE

Sukirno, Sadono. 2012. Makro ekonomi tepri pengantar. Jakarta : PT Raja grafindo persada

Yuliadi, Imamudi. 2008. ekonomi moneter. Jakarta : PT. Macana jaya cemerlang


[1]Soediyono Reksoprayitno, Ekonomi Makro, (Yogyakarta: BPFE) hlm 179

[2]Agnes Sediana Milasari D, Analisis Dampak Inflasi, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2010), hlm. 14

[3]Adwin S. Atmadja, Inflasi di Indonesia : Sumber-sumber Penyebab dan Pengendaliannya, (Universitas Kristen Petrus), hlm. 59-60

[4]Ibid., hlm. 61

[5] Imamudi yuliadi. ekonomi moneter. (Jakarta : PT. Macana jaya cemerlang,2008), 74

[6] Ibid. 75

[7] Ibid

[8] Sadono sukirno. Makro ekonomi tepri pengantar. (Jakarta : PT Raja grafindo persada. 2012), hal. 345

[9] Nophirin. Ekonomi moneter. (Yogyakarta: BPFE. 2012), hal. 34

[10] Ibid. 35

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Adiwarman karim. Ekonomi makro islam.(jakarta : PT Rajagrafindo persada. 2008) hal. 140

[14] ibid. 140

[15] http: // makro4d. Wordpress.

Oleh:

1. Nur Maziyah ( 2013114070 )

2. Evi Hida Salasatun ( 2013115051 )

3. Tri Desiana ( 2013115368 )

Download Makalah Inflasi Doc

Related Posts

0 komentar:

Post a Comment

Panduan Berkomentar, Klik disini