Kasus-Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Pancasila

Kasus-Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Pancasila

Selamat ya, kalian sekarang sudah duduk di kelas XII. Ini berarti kalian t inggal satu tahun lagi belajar di jenjang SMA/SMK/MA/MAK. Kesuksesaan itu sangat tergantung dari usaha kalian terutama dalam mengatasi berbagai tantangan dan rintangan yang akan kalian hadapi di kelas XII. Oleh karenaitu, kalian harus meningkatkan kuantitas dan kualitas belajar. Jangan lupa senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan sungguh-sungguh pada saat memulai dan mengakhiri aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan pembelajaran.

Pada awal pembelajaran PPKn di kelas XII, kalian akan diajak menelaah berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia dengan menggunakan Pancasila sebagai rujukan. Nah, sebelum kalian menelaah hal tersebut, coba kalian cermati wacana di bawah ini?

Vonis 11 Tahun Bos Kuali Kecewakan Buruh Para buruh yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tangerang Raya (Alttar) kecewa terhadap vonis 11 tahun yang dijatuhkan kepada YI pemilik perusahaan kuali terdakwa penyekapan dan perbudakan karyawannya. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut YI dipenjara 13 tahun, denda Rp 500 juta dan restitusi Rp 17 miliar. “Sebenarnya kita sudah kecewa sejak proses sidang JPU. YI sudah melanggar hukum berlapis sehingga hukuman minimal di atas 15 tahun,” kata Presidium Alttar, kepada


Kompas, Rabu (26/3/2014). Menurut Presidium Alttar, hakim sudah mengatakan, YI terbukti melakukan penyekapan, perbudakan dan membayar upah di bawah standar sehingga pemilik perusahaan kuali tersebut harus divonis lebih tinggi dari tuntutan JPU. Menindaklanjuti keputusan hakim, pihaknya bersama para buruh lainnya akan melakukan koordinasi dengan Kontras dan Peradi yang selama ini sudah ikut mengawasi proses peradilan YI. Terkait biaya restitusi sebesar Rp 17 miliar yang ditolak hakim, Koswara mengatakan, pihaknya akan terus berjuang agar para buruh yang menjadi korban perbudakan bisa mendapatkan biaya ganti rugi tersebut. “Kita akan terus kawal proses hukum ini sampai selesai.


YI akan mengajukan banding, jadi kita akan terus pantau dan lihat perkembangan kasus ini,” ujarnya. Diberitakan sebelumnya, YI, diadili karena melakukan penyekapan, perbudakan, perdagangan manusia dan eksploitasi terhadap karyawannya di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang. Bos kuali ini dihukum 11 tahun penjara, denda Rp 500 juta dengan subsider tiga bulan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Tangerang pada Selasa (25/3/2014).

Sumber: kompas

Related Posts

0 komentar:

Post a Comment

Panduan Berkomentar, Klik disini