Menterjemahkan ayat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi

Menterjemahkan ayat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi 

· Menganalisis gambar fenomena alam yang berkaitan dengan ayat tentang ilmu pengetahuan

· Menganalisis isi kandungan ayat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi

Q.S Al Alaq [96]: 1-5

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Penjelasan ayat

Lima ayat tersebut merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. dari kandungannya menunjukkan bahwa islam merupakan agama yang mengembangkan tradisi keilmuan, dan terbukti benar karena di dalamnya Q.S Al mujadilah [58] ayat 11. Disebutkan bahwa orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang sangat mulia.

Wahyu pertama ini secara garis besar memerintahkan umat islam untuk menjadi orang pintar dan berilmu melalui banyak membaca, disamping banyak juga ayat-ayat Alquran yang mengajak manusia untuk berfikir, bertadabbur alam untuk mengilmui apa-apa yang belum diketahui tentang rahasia semesta, sehingga mampu menyelesaikan problematika yang dihadapi pada masa yang akan datang.

Kata iqro’ yang di dalam terjemahnya diartikan dengan bacalah (wahai Muhammad), perintah membaca ini semangatnya tak hanya terfokus pada perintah membaca ayat qur’aniyah, tapi lebih luas lagi perintah untuk membaca ayat kauniyah. Maka dengan menggalakkan gemar membaca, ilmu pengetauan akan terus berkembang, karena semakin banyak yang kita ketahui, semakin Nampak kebodohan kita dan semakin yakin akan ke Maha Luasan ilmu Allah.

Sebenarnya secara tersirat ayat-ayat ini memberi pesan kepada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terutama yang terkait dengan manusia. Kata Al Alaq yang diartikan dengan segumpal darah yang menggantung, menunjukkan sebuah fase pertumbuhan janin di dalam rahim sang Ibu. Pertumbuhan janin menjadi manusia sempurna secara rinci juga di terangkan di Q.S. Al mu’minun [23] ayat 12-15.

Manusia pasti membutuhkan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan pertumbuhan janin pada khususnya dan perkembangan manusia pada umumnya, dan saat ini perkembangan ilmu spesialisasi di bidang kedokteran bias dikatakan merupakan pengejawantahan dari isyarat dan pesan yang ada di dalam Alquran.

قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِى ٱلْءَايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".

Allah SWT menjelaskan bahwa manusia mempunyai kecenderungan yang berbeda yang saling bertolak belakan satu sama lainnya; kecenderungan untuk beriman dan kecenderungan untuk kafir, kecenderungan untuk berbuat baik dan kecenderungan untuk berbuat jahat. Meski demikian, manusia dibekali akal dan hati dalam rangka mengendalikan kekuatan dalam jiwanya tersebut untuk menentukan jalan yang terbaik bagi dirinya. (Q.S. Al-Syams [91] : 8-10). Rasulullah SAW hanya diutus untuk member peringatan dan menunjukkan jalan yang baik dan benar untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat, serta membantu mereka menentukan pilihan mengajak mereka selalu memikirkan kejadian alam dan ciptaan Allah SWT.

Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menggunakan anugrah akal dan hati sebaik-baiknya untuk untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepadaNya dan meningkatkan kualitas kehidupannya agar mereka selamat.

Perintah untuk berpikir, perintah untuk melihat dan yang senada dengan ungkapan-ungkapan tersebut merupakan juga perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara khusus dan teknologi secara umum. Karena ayat-ayat kauniyah yang sangat banyak ini mengharuskan kita untuk memiliki peralatan yang canggih, maka pengembangan teknnologi menjadi hal yang niscaya.

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ١٦٤

164. Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.


Penjelasan ayat

Ketika Allah SWT memproklamirkan kebutuhan dan keesaan-Nya kepada orang-orang kafir dan musyrik, Allah SWT meyakinkan mereka dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang membuktikan bahwa Allah SWT berhak untuk disembah.

Setelah pada ayat sebelumnya Allah SWT menyatakan keesaan, pada ayat ini Allah SWT menyebutkan 8 (delapan) macam kekuasaan-Nyasebagai bukti bahwa Allah SWT yang berhak untuk disembah dan dan tiada sekutu bagiNya. Semua yang disebutkan Allah SWT sebagai tanda kekuasaanNya merupakan fenomena-fenomena alam (sunnah kauniyyah) yang kalau saja manusia merenungkan dan mengamati secara cermat, dengan hati yang bersih dan pikiran terbuka, maka dirinya akan gemetar menyaksikan keagungan kekuasaan dan luasnya rahmat Allah SWT. Ini jelas tergambar pada penutup ayat.

Muhammad Quthb, ketika mengomentari ayat-ayat semesta semacam ini mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut ialah metode yang sempurna bagi penalaran dan pengamatan islam terhadap alam. Ayat-ayat tersebut mengarahkan akal manusia untuk mempelajari ayat-ayat Tuhan yang tersaji di alam raya ini. Ayat-ayat tersebut bermula dengan tafakkur dan berakhir dengan amal. Seperti tafsir tentang penciptaan langit dan bumi (inna fii Khalq as-samawat wa al ardl...), disamping berarti membuka tabir sejarah penciptaan langit dan bumi, juga bermakna memikirkan sistem tata kerja alam semesta. Karena kata al-Khalq mengandung makna pengaturan dan pengukuran yang cermat.

Secara tidak langsung ayat-ayat tersebut merupakan dasar bagi berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi; geografi, pertanian, pelayaran dan kelautan, astronomi dan kedirgantaraan, antropologi, biologi, dll. Namun Alquran memberi peringatan agar manusia bersifat realistis, bahwa program pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dipersiapkan dengan benar, tanpa itu manusia tidak akan pernah sampai pada hasil yang diidam-idamkan. Persiapan mental dan penguasaan terhadap ilmu dan teknologi inilah yang kemudian oleh Alquran disebut dengan sulthan (Q.S. Al-rahman [55] : 33)

“Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadis riwayat Imam Abu Daud No. 3157)

Penjelasan hadis

Banyak pesan dan pelajaran yang bisa diambil oleh hadis abu darda tersebut.

1. Menuntut ilmu hukumnya fardhu Ain, artinya bahwa setiap orang islam wajib menuntut ilmu terutama ilmu-ilmu agama.

2. Perjalanan untuk mendapatkan ilmu termasuk pekerjaan yang bernilai ibadah, bahkan bisa disebut sedang berjihad, sehingga Rasulullah mengibaratkan perjalanan mencari ilmu seperti perjalanan menuju ke surga.

3. Ilmu pengetahuan dan teknologi, kalau digunakan sesuai dengan proporsinya akan banyak mendatangkan kemudahan, dan memberikan kenyamanan hidup, termasuk dapat membantu memperlancar pelaksanaan ibadah.

4. Kedudukan orang yang memiliki ilmu itu lebih tinggi dari orang yang ahli ibadah, karena orang berilmu akan melaksanakan ibadah sesuai dengan ilmunnya, sementara ahli ibadah belum tentu mengilmui ibadah yang dilakukan.

5. Membandingkan bulan purnama dan benda planet lainnya merupakan pesan tersendiri yang secara tersirat mendorong manusia untuk mengembangkan teknologinya, terutama yang berkaitan dengan astronomi.

0 komentar:

Post a Comment

Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, segera hubungi admin melalui contact us.. Terima Kasih