Jangan Pernah Jadi Karyawan Kalau Pingin Bebas

Burung Di Sangkar


Karyawan adalah topik yang akan saya bahas ada artikel ini. Saya rasa pembahasan ini sangat menarik untuk dijadikan sebuah tulisan. Itung-itung curhat juga, karena saat ini saya sedang terikat oleh penjara pekerjaan alias karyawan.

Why?

Apakah saya mendapatkan pekerjaan yang mengerikan?

Jawabannya adalah tidak. Jika anda membayangkan bahwa saya sedang bekerja semacam kerja rodi atau romusha? 

Bayangan anda salah seratus persen.

Yang sedang saya hadapi adalah masalah hati.

Yups.. masalah hati tak bisa dipungkiri. Sekuat apapun mental seseorang, secuek apapun dia, kalau sudah bermasalah dengan hati pasti akan jatuh juga.

Saya tidak akan membahas tentang masalah saya di lingkungan kerja saya melainkan akan membahas tentang bagaimana rasanya menjadi karyawan. Jika anda adalah karyawan, mungkin anda sudah tidak asing dengan pembahasan yang sampaikan dalam artikel ini. Tapi bagi anda yang belum pernah menjadi karyawan, maka pembahasan ini adalah pelajaran yang sangat berharga.

Tapi bagi anda yang sekarang menjadi karyawan tak ada salahnya untuk melanjutkan membaca artikel ini karena mungkin anda juga akan mendapatkan informasi yang mungkin belum anda sadari sebelumnya.

Baiklah akan saya mulai pembahasannya. 

Check It Dot.

Saya mulai dengan sebuah pertanyaan.

Bagaimana rasanya menjadi karyawan???

Menjadi karyawan itu enak, santai, terjamin, nggak pusing, dapet gaji, kayak di surga. Itu menurut saya karena saya bekerja di sebuah perusahaan yang fasilitasnya serba tercukupi.

Tentunya setiap orang mengalami nasib yang berbeda-beda dan tidak seberuntung saya, disana banyak yang lebih tersiksa hidupnya. Bahkan mereka tak segan-segan mengatakan hidupnya seperti di neraka. Ada yang karena gajinya rendah, bos yang galak, partner kerja yang tidak sportif, tempat kerja yang kurang nyaman, tetangga perusahaan yang suka cari masalah, dsb. Semuanya itu adalah masalah-masalah yang membuat hidup mereka seperti di neraka karena dipenuhi dengan kegalauan.

Namun, sayangnya dengan alasan mencari segenggam beras untuk menghidupi keluarga, mereka masih terus bertahan diantara kegalauan-kegalauan di setiap permasalahan. Hal itu yang menyebabkan hidupnya terkurung di dalam kotak karyawan. Ya ibaratnya hidup di zaman sekarang tapi tidak mengikuti zaman. 

Kalo saya mengibaratkan, Karyawan adalah anak kecil yang diberi uang, jika mau belajar dan ia tidak diperbolehkan keluar dari rumah selain sekolah. Jika dipaparkan akan menjadi seperti ini; anak kecil adalah karyawan, belajar adalah pekerjaannya, rumah adalah tempat kerjanya, sekolah adalah lingkungan keluarganya dan tugas keluar atas nama perusahaan.

Saya kira anda sudah bisa memahami pemaparan saya di atas. Dan menurut saya, nasib karyawan ada tiga macam, yaitu : 

1. Karyawan Bernasib Malang
2. Karyawan Bernasib Remang-remang, dan
3. Karyawan Bernasib Tenang

Ketiga nasib karyawan tersebut tidak ada yang beruntung, semuanya merugi, perhatikan penjelasan saya berikut ini.

Karyawan bernasib malang adalah karyawan yang mempunyai atasan galak dan gajinya sedikit. Itu sangat menyakitkan.

Karyawan bernasib remang-remang adalah karyawan yang setengah bahagia dan setengah sengsara. Separuh dari faktor adalah menyenangkan, dan separuhnya lagi menyakitkan. Misalnya atasan baik tapi gajinya rendah ataupun sebaliknya, dst. Itu juga menyakitkan, tapi masih mendingan.

Karyawan yang bernasib tenang adalah karyawan yang merdeka dengan pekerjaan yang menyenangkan atasan yang penyayang dan gaji yang bikin melayang terbang. Ya ibaratnya cuma duduk tapi dapet gaji. Enak ya?? 

Ups...

Menurut saya ketiga macam karyawan itu sama-sama sengsara.

Why???

Mereka sama-sama terkurung di dalam penjara. Pikiran mereka bagaikan di dalam box yang sewaktu-waktu bakalan frustasi. Mungkin penggambaran yang lebih jelasnya adalah seekor burung yang di kurung. Tiap hari dikasih makan, dan suatu ketika orang yang merawatnya pergi entah kemana. Burung yang ada di sangkar pun mati tak bernyawa. (Kalo mati pasti tak bernyawa gan :D).

If Else??

Yang punya burung sudah bosan dengan burung yang di rawatnya karena tak kunjung menghasilkan apa yang diharapkan oleh orang yang merawatnya, sehingga orang itu marah, lalu melepaskan burung itu. 

Apa yang terjadi??

Burung itu tidak bisa terbang jauh karena ia kebingungan mencari tempat persinggahan. Ia juga tidak tahu cara mencari makan. Ia pun mati dalam kedinginan malam. (Saya pernah lihat Gan. Burung yang lepas dari sangkar. Punyanya tetangga. Bukannya terbang ke angkasa malahan terbang ke rumah persinggahan saya. Kelihatan kedinginan gitu.)

Nah....

Apakah penjelasan di atas sudah mampu memahamkan gan?

Kalau belum saya kasih contoh lain lagi.

Karyawan ibarat anak kecil yang naik sepeda yang dituntun oleh ayahnya. Ketika Sang Ayah terjatuh maka ia pun ikut terjatuh.

Saya kira sudah terlalu jelas contoh-contoh sederhana di atas. Walaupun semua contoh tersebut tidak 100% sama, paling tidak penggambarannya sudah 75% dapat dipahami.

Lantas apa yang bisa membuat kita bisa keluar dari box, pergi jauh terbang tinggi tanpa kebingungan?

Yang membuat kita bebas adalah membangun bisnis sendiri. Membangun bisnis ibaratnya adalah anak kecil yang bebas bermain keluar rumah dengan teman-temannya tertawa gembira. Ibarat burung adalah burung yang terbang bebas (bukan burung piaraan), Ibarat anak kecil yang bermain sepeda adalah yang belajar sendiri jatuh bangun sendiri.

Ya.. kira-kira seperti itu gambarannya. Sudah jelas kan??

Jadi apakah anda masih memilih menjadi karyawan??

Silahkan jawab dan renungkan sendiri :)

Demikianlah artikel yang bisa saya sampaikan.

Semoga bermanfaat :)

Related Posts

3 komentar:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. memang terkadang kita harus berani keluar dari seorang karyawan untuk mencoba hal2 baru yang ada diluar sana

    ReplyDelete

Panduan Berkomentar, Klik disini