Sejarah Dan Perkembangan Ilmu Mantik

Sejarah Dan Perkembangan Ilmu Mantik 

Abstrak

Ilmu mantik merupakan ilmu tentang alat atau dasar yang gunanya untuk menjaga dari kesalahan berfikir, atau sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berfikir sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari berfikir yang salah. Ilmu mantik mempunyai objek yang dibedakan menjadi dua yaitu objek material yang diselidiki dari sesuatu, dan objek formal yang sudut pandangnya dari objek itu disorot sebagai pembeda dengan objek yang lain. Yunani adalah negri asal Ilmu Mantik karena penduduknya yang cerdas. Seperti tokoh muslim Ibnu Sina, Al-Farabi dan lain sebagainya sedangkan yang non muslim terdapat Aristoteles, Plato, Socrates dan lain sebagainya. Ilmu mantik ini sangat penting sehingga masih diajarkan dan dikembangkan sampai sekarang. Seperti di Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam. Dalam hal ini semata-mata agar untuk melatih kesanggupan akal dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya dan tentunya juga agar mampu membedakan antara pikiran yang salah dan benar. 

Logika (mantik) sebagai ilmu di Yunani pada abad ke 5 SM oleh para ahli filsafat kuno. Dalam sejarah, telah tercatat bahwa pencetus logika ialah Socrates yang kemudian dilanjutkan oleh Plato dan disusun dengan rapi sebagai dasar falsafat oleh Aristoteles. Oleh sebab itu beliau dinyatakan sebagai guru pertama dinyatakan sebagai guru pertama dari ilmu pengetahuan.

Pada masa selanjutnya, terdapat perubahan-perubahan seperti yang dilakukan oleh Al-Farabi, salah satu filsuf muslim yang sering dinyatakan sebagai maha guru kedua dalam ilmu pengetahuan. Pada masa al-Farabi ilmu mantik dipelajari lebih rinci dan di praktekkan, termasuk dalam pentasdiqan qadhiyah.

Tokoh-tokoh logika/ilmu mantiq kaum muslim yang tercatat oleh para pakar-pakar diantaranya: Abdullah Ibn Al-Muqaffa, Ya’kub Ibnu Rusyd Al-Qurtubi, Abu Ali Al-Haitsam, Abu Abdillah Al-Khawarizmi, Al-Tibrizi, Ibnu Bajah, Al-Asmawi, As-Samarqandi, dan lain sebagainya.

Ilmu mantiq banyak mambantu dalam perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Seperti yang dilakukan Imanuel kant, Descartes, dan yang lainya.

Pengertian Ilmu Mantiq

Ilmu Mantik adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang dapat membimbing manusia kearah berfikir secara benar yang menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga ia terhindar dari berfikir secara keliru yang menghasilkan kesimpulan salah. Ilmu Mantiq adalah bahasa Arab yang merupakan terjemahan dari kata Logika yang dalam artian cabang ilmu filsafat yang menentukan penghargaan atau penelitian tentang suatu cara berfikir atau cara cara mengemukakan alasan-alasan, jika fakta-fakta ynag digunakan dalam cara berfikir itu sebelumnya sudah dinyatakan benar. Oleh karena itu, logika bukanlah suatu ilmu empirik, tetapi ilmu yang bersifat normatif.

Sejarah Ilmu Mantiq

Negara Yunani adalah negeri asal ilmu mantik karena banyak penduduknya yang mendapat karunia otak cerdas. Negeri Yunani, terutama Athena, diakui menjadi sumber berbagai ilmu. Socrates, Plato, Aristoteles, dan banyak yang lainnya adalah tokoh-tokoh ilmiah kelas super dunia yang tidak ada ilmuan nasional dan internasional tidak mengenalnya sampai sekarang dan akan datang. Tetapi, khusus untuk Logika atau Ilmu Mantik, Aristoteles lah guru utama.[1]

Ilmu Mantik (logika) mula-mula sekali disusun oleh Aristoteles (384-322 S.M.), ahli pikir Grik yang terbesar itu yang beroleh gelaran guru pertama di dunia sampai masa sekarang ini. Jadi logikaadalah ilmu yang telah lanjut usianya dan tanah asal kelahirannya Yunani. Mula-mula ini belum tersusun sebagai suatu ilmu mantik dengan metode seperti apa yang dapat kita lihat sekarang ini.

Prof. Dr. Will Durant di dalam bukunya The Story of Philosophy cetakan 1957 halaman 58 menulis:

“keistimewaan yang terutama dan terbesar sekali dari Aristoteles adalah, bahwa tanpa yang mendahuluinnya dan hampir seleuruhnya tergantung oleh kekuatan pikirannya, ia pun menciptakan sebuah ilmu baru yaitu logiku”.

Betapa sempurna hukum-hukum berpikir yang disusun Aristoteles itu dap[at disaksikan dari pernyataan Immanuel Kant (1724-1804 M), ahli pikir Jerman didalam bukunnya Critique of pure Reason cetakan 1950 halaman 8 berbunyi:

“Logika berkembang dalam garis yang pasti itu, bahkan sejak masa permulaanya tampak suatu kenyataan, bahwa apa yang telah diciptakan oleh Aristoteles itu tidak bisa ditambah agak sedikitpun lagi, karena langsung mencapai kesempurnaanya”.

Kebutuhan akan logika terasa benar, ketika di Yunani timbul golongan Shopisten yang memutar balikkan nilai-nilai. Mereka berusaha meniadakan aturan masyarakat, agama dan akhlak dengan mengemukakan keterangan-keterangan atau keputusan-keputusan yang palsu, seperti:

v Yang baik ialah apa yang engkau anggap baik.

v Yang buruk ialah apa yang engkau anggap buruk.

v Yang salah ialah apa yang dianggap oleh seseorang salah.

v Yang benar ialah apa yang dianggap oleh seseorang benar.

Sebagai akibat dari pernyataan itu, seseorang menganggap sesuatu benar atau salah, berdasarkan kepentingannya sendiri dan selanjutnya akan menyelesaikan sesuatu hal, menurut caranya sendiri dan menguntungkan diri dendiri pula. Kalau terus berpegang kepada pola pikir yang demikian, biasanya. Orang akan berpikir subyektif dan tidak obyektif lagi dan hal ini akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Dalam situasi tersebut, akhirnya muncul dua orang tokoh filsafat Yunani yaitu Socrates dan Aristophanes yang menentang golongan Sophisten. Socrates mempergunakan metode soal jawab dan diskusi dengan murid-muridnya, sehingga masing-masing mereka sampai kepada hakekat kebenaran. Dengan demikian Socrates telah merintis jalan ke arah penyusunan logika. Dengan meksud demikian agar mereka bisa mengangkat dan membebaskan manusia dari lembah kebingungan kepada kesadaran akan nilai-nilai kebenaran.

Dan jejak tersebut diikuti oleh muridnya Plato dengan metode yang belum begitu jauh berbeda dan maju dari gurunya itu. Logika dijadikan sebagai pendahuluan untuk bermacam-macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah Aristoteles dianggap sebagai peletak dasar logika dan diberi gelar guru pertama sebagaimana telah disebutkan diatas.

Kumpulan buah tangan Aristoteles dalam bidang logika terdiri atas lima buku. Buku ketiga terbagi atas dua bagian. Kemudian belakangan oleh murid-muridnya digabungkan menjadi satu yang diberi nama: Organon, yaitu:

1. Catagoriare, berisikan pembahasan tentang cara menguraikan sesuatu ditinjau dari sepuluh aspek.

2. De Interpretation, berisikan pembahasan tentang bentuk-bentuk keterangan dan bagian tersebut biasa juga disebut dengan perihermenis.

3. Analytica Pruora, berisikan pembahasan tentang bentuk-bentuk susunan pikiran yang dipergunakan didalam berpikir.

4. Analytica Posteriora, berisikan pembahasan tentang jenis-jenis bahan pikiran yang berkekuatan meyakinkan.

5. Topica, berisikan pembahasan tentang jenis-jenis bahan pikiran yhang berkekuatan sebagai pegangan dasar.

6. Sophistici, berisikan pembahasan tentang pengakuan melalui bahan pikiran, ataupun bentuk pikiran.[2]

Ibnu Salah dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari mantiq sampai mendalam. Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan menurut Jumhur Ulama’ membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.

Filosof Al-Kindi, mempelajari dan menyelidiki Logika Yunani secara khusus dan studi ini dilakukan lebih mendalam oleh Al-Farabi. Ia mengadakan penyelidikan mendalam atas lafal dan menguji kaidah-kaidah mantiq dalam proposisi-proposisi kehidupan sehari-hari untuk membuktikan benar salahnya, merupakan suatu tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Pada abad IX Logika dipandang sebagi sekedar peristiwa psikologis dan metodis seperti yang diajarkan oleh W. WWUND, J. Dewey dan M. Baldwin.

Nama-nama seperti George Boole, Bertrand Russell dan G. Frege harus dicatat sebagai tokoh yang banyak berjasa dalam kehidupan Logika Modern.[3]

Diantara tokoh-tokoh logika atau ilmu mantik yang dicatat oleh para pakar adalah Abdullah ibnu Al Muqaffa’, Ya’qub ibnu Ishaq Al-Kindi, Ibnu Sina, Abu Hamid Al-Ghazali, Ibnu Rusyd Al-Qurtubi, Abu Ali Al Haitsam, Abu Abdillah Al-Khawarizmi, Al-Tibrisi, Ibnu Bajah, Al Asmawi, Al-Sarqandi.

Dalam perkembanagan ilmu pengetahuan selanjutnya, ilmu mantik banyak menyumbangkan baik dalam pembahasan maupun percobaan-percobaan yang dilakukan oleh para ahli belakangan, seperti Discartes, Immanuel Kant, dan yang lainnya.[4]

Umur logika sebenarnya sama tuannya dengan umur manusia. Sejak manusia berfikir, sebenarnya logika itu telah ada. Jadi manusia walaupun tidak pernah atau belum mempelajari aturan-aturan atau hukum-hukum berpikir, sudah dapat juga berfikir secara teratur dan benar, terutama dalam soal-soal yang sederhana. Sebagai contoh manusia sudah dapat membedakan dirinya dengan hewan atau dengan benda-benda yang lainnya. Manusia juga sudah dapat membedakan pekerjaan yang lain, dapat membedakan antara duduk dengan berdiri, begitu juga dengan yang lain-lainya. Hanya saja kalau sudah memeikirkan persoalan-persoalan yang lebih sulit, maka pikiran manusia seringkali tersesat. Sebagai contoh; ada dua berita yang bertentanagan mutlak, sedangkan keduannya menganggap dirinya benar. Dirumuskanlah pengetahuan logika atau yang biasa kita sebut ilmu mantik atau logika buatan yang dipelajari.

Sejak 25 abad yang lampau, bangsa Athena yang terkenal mempunyai kecerdasan berfikir, sudah mempunyai perhatian terhadap tukar fikiran, debat atau diskusi. Dimanapun mereka berkumpul, mereka selalu menyalurkan (kecerdasan) kebiasaanya itu lewat diskusi, berdebat atau bertukar fikiran. Bahkan tukar fikiran debat atau diskusi bagi mereka merupakan kebutuhan, sehingga menjadi suatu impian pada suatu saat mereka dapat membela sebuah perkara dimuka mahkamah pengadilan, dimana mahkamah itu sendiri menilai seseorang atas kebaikan cara menyampaikan dan mempertahankan pembelaannya (cara berdebat).

Dalam waktu itu telah datang ke Athena segolongan cendikiawan yang menamakan dirinya kaum Sophis yang mengajarkan banyak hal, termasuk cara berdebat atau berdiskusi atau tukar fikiran tersebut. Golongan ini pokok ajaranya mengingkari kemapanan (kebenaran). Sedangkan kebenaran bagi mereka didasarkan atas dalil yang berbeda sama sekali dengan paham kebanyakan orang umumnya pada waktu itu. Kebenaran bagi mereka tidak ada ukuranya yang secara universal, pokoknya menurut anggapan dirinya masing-masing, bahkan cenderung diukur dengan kemenangan dalam berdebat, berdiskusi atau bertukar fikiran. Siapa yang menang dalam berdebat, berdiskusi atau bertukar fikiran, maka itulah yang benar.

Ajaran itulah yang membawa pengaruh paling jelek terhadap sejarah perjalanan kehidupan bangsa Yunani, sehingga tampillah Socrates sebgaai penentang utama terhadap cara-cara berfikir mereka itu. Beliau memandang perlu adanya suatu aturan permainan dalam berdebat, berdiskusi atau bertukat fikiran, sehingga ukuran kebenaran tidak lagi ditentukan oleh siapa yang menang, melainkan ditentukan oleh suatu norma atau hukum. Setelah itu munculah Plato murid Socrates meneruskan usaha gurunya menyusun norma-norma, aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir tersebut, hanya saja belum begitu luas cakupan pembahsannya. Dapat disimpulakan bahwa ilmu mantik adalah pengetahuan tentang berkata benar. Dan dapat berbicara dengan maksud sebagai ilmu tentang bertutur kata yang benar.

Ilmu mantik pada waktu itu dapat ditarik pemahamannya dengan pengetahuan yang sistematis tentang aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir, yang dapat mengantarkan atau membimbing manusia pada kebenaran berfikir logis.[5]

Menurut J. Lukasiweics di dalam bukunya: Aristotel’s Sylogistic, bahwa Theoprastes itu menemukan lima ikat pikiran yang baru dalam susunan pikiran-mengurai, berdasarkan ketentuan-ketentuan di dalam hukum Aristoteles, yang diberi nama dengan rangka pikiran-keempat.

Sumbangan Theoprastes yang terpenting menurut I.M. Bochenski, ialah penafsiran tentang yang mungkin dan tentang sebuah sifat yang asasi dari setiap kesimpulan. Semua yang mungkin menurut penafsirannya ialah “yang tidak mengandung kontradiksi didalam dirinya”. Sedangkan setiap kesimpulan, menurut asas yang dirumuskannya mesti mengikuti unsur terlemah di dalam alas-pikiran. Yang dimaksud dengan unsur terlemah ialah sifat menidak dan sifat membagi dan sifat tak meniap di dalam alas-pikiran.

Logika-logika itu kemudian mencapai puncaknya pada tulisan-tulisan kaum Stoik dan kaum Megaria. Yang mula-mula dibangun oleh Euclid, salah seorang murid Socrates (470-399 S.M.). Keputusan Nicae merupakan piukulan dahsyat bagi filsafat Grik dan bagi logika. Manlius Saverius Boethius (480-524 M.), ahli pikir Roma terakhir, masih mencoba mengarang buku tentang bab-bab terlarang itu. Boethius kemudian dijatuhi hukuman mati pada tahun 524 M. Dengan keputusan Konsili Nicae tersebut, berarti padamlah perkembangan alam pemikiran dibarat hampir seribu tahun lamanya dan dikenal dengan zaman gelap (Dark Ages).[6]

Pada awal abad ke-7 berkembanglah agama Islam di Jazirah Arab dan pada abad ke-8, agama ini telah dipeluk secara meluas, ke barat sampai perbatasan Pyrences dan ke Timur sampai Thian Shan. Pusat-pusat ilmu pada waktu itu adalah, yang paling maju, Baghdad di belahan Timur dan Cordova dibelahan Barat. Dizaman kekuasaan khalifah dinasti Abbasyiyah, sedemikian banyaknya karya-karya ilmiyah Yunani dan lain-lainnya diterjemahkan kedalam bahasa Arab, sehingga ada satu masa dalam sejarah Islam yang dijuluki dengan Abad Terjemahan. Logika, karya Aristoteles, juga diterjemahkan dan diberi nama ‘Ilm al-Mantiq.

Ilmu mantik, dsengan demikian, dipelajari oleh umat Islam sehingga banyak dari mereka yang menjadi pakar mantik. Diantara mereka, disamping ahli, juga menulis buku mantik dan mengembangkannya serta, dalam berbagai segi, mengislamisasikannyamelalui contoh-contoh yang mereka munculkan. Mereka menggunakan ilmu mantik, tidak saja untuk mempertajam dan mempercepat daya pikir dan aplikasi penarikan kesimpulan yang benar, melainkan juga membantu mengokohkan hujjah-hujjah Agmawi, termasuk wujud Tuhan dan kebaharuan alam semesta.

Kemudian menyusullah zaman kemunduran di bidang mantik karena dianggap terlalu memuja akal. Di antara ulama-ulama besar Islam seperti Muhyidin Alnawawi, Ibn Shalah, Taqiyyuddin Ibn Taimiyah, Saduddin al-Taftazani malah mengharamkan mempelajari ilmu mantik dengan tuduhan akan menjadi zindiq, ilhad dan kufur. Pengaruh mereka ini telah menyebabkan banyak ulama tidak memperkenankan Ilmu Mantik diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan yang mereka asuh.

Namun demikian, beberapa orang ulama besar masih tetap mempertahankan ilmu mantik sebagai suatu ilmu yang harus dipelajari, tetapi terbatas pada maksud menggunakannya sebagai penunjang bagi Ilmu Tauhid (theologi) saja. diantara mereka adalah Sayid Syarif al-Jurjani, Muhammad al-Dawuni, Abdurrahman al-Akhdari, Muhibullah al-Bishri, al-Hindi, Aahmad al-Malawi, Muhammad al-Subban dan tentu saja masih ada yang lain.[7]

Perkembangan ilmu mantik yang diaggap penting dikemukakan sebagai berikut:

a. Logika Pada Zaman Islam

Pada abad VII M Agama Islam berkembang di semenanjung Arabia dan menjelang abad VIII M, wilayah kekuasaan Islam sudah meluas. Di sebelah Timur di Thian Shan dan di sebelah Barat di Pyrenses. Baghdad di belahan Timur dan Cordova di belahan Barat merupakan pusat kegiatan filsafat dan ilmiah yang sangat gemilang sepanjang Zaman Tengah.

Karya-karya Grik dan karya-karya Sankrit, karya-karya Pahlevi serta karya Siryani da lainnya disalin kedalam bahasa Arab. Termasuk diantarannya karya Grik dalam bidang logika, yang diberi nama dengan Ilmu Mantik.

Mantik berasal dari kata berfikir, atau yang bermakna alat berfikir. Abu Abdi Yasue bin Bahris, menurut Ferdinand Tottle dalam bukunya Munjid fil Adabi wal Ulum (1956 M) telah menafsirkan beberapa bagian dari logika itu kepada khalifah Al-Makmun (813-833 M) dari Daulah Abbasyiyah di Baghdad.

Penyalin pertama kali mengenai logika itu dilakukan oleh Yohana bin Patrik (lahir 815 M). Bukunya bernama Maqulat Asyarat li Aristu ( Kategori karya Aristoteles). Kemudian disusul dengan penyalinan bagian lainya oleh berbagai penulis.

Ibnu Sakkit Yakub Al-Nahwi (803-859 M) memberi komentar dalam karyanya Ishlah fii Mantiqi (Perbaikan Ilmu Mantik). Selanjutnya salinan yang lebih lengkap dilakukan buat pertama kali oleh Al-Kindi (719-863 M), ahli pikir Islam yang besar itu.

Akan tetapi salinan-salinan mengenai logika dunia Islam belahan Timur itu masih berada diluar “bab-bab terlarang”’. Hal itu terbukti dari kritikan yang dilontarkan oleh Abdul Qasim bin Ahmad Al-Qurthubi dari Cordova, dalam bukunya Thabqatul Umam, berbunyi: “buku-buku Al-Kindi tidak memuat tentang Analytica Priora dan Analytica Posteriora, sedangkan pengenalan dan pemisahan kebenaran dari kepalsuan hanya dapat diperoleh dengan kedua bagian itu. Melalui bentuk-bentuk keterangan saja, yang banyak mengisi buku-buku Al-Kindi, tidak banyak membawa faedah jika tidak disertai pengetahuan tentang itu hanya bisa didapat dalam pelajaran tentang Analytica.

Al-Qurthubi adalah menjahat Hakim Tinggidi Cordova, di bawah Daulah Umayyah. Kritikannya itu membuktikan, bahwa penyalinan dalam dunia Islam belahan Barat itu telah melewati “bab-bab terlarang”.

Selanjutnya penyalinan bagian-bagian pada dunia Islam belahan Timur, masih tetap berkelanjutan di tangan Ishak bin Husein (wafat 911 M) dan Yakum Al-Dimsyiqy (wafat 914 M) dan Matta Al-Manthiqy (wafat 940 M), yang telah mencapai “bab-bab terlarang” sepenuhnya.

Namun demikian, penyalinan istilah-istilah Grik kedalam Bahasa Arab masih kacau, belum ada keseragaman. Penyempurnaan terakhir baru berlangsung di tangan Abu Mashar Al-Farabi (873-950 M). Istilah-istilah yang disempurnakan oleh Al-Farabi itu, tidak mengalami perubahan sampai sekarang ini. Buah tangannya dalam lapangan logika ada empat buku:

1. Kutubul Manthiqil Tsamaniyat, berisikan salinan lengkap dari tujuh bagian logika dan menambahkan satu bagian baru, sehingga berjumlah delapan bagian.

2. Mukaddamat Isaguji allati wadla’aha Purpurius, berisikan pembahasab panjang lebar Eisagoge karya Porphyrius.

3. Risalat Fil Qiasi, fushulan yuhtajju ilaiha fi Shina ‘atil Manthiqi, berisikan pembahasan panjang lebar tentang susun fikiran beserta ragam bentuk dan hukumnya.

4. Risalat fil Mantiqi, Al-Qaulu fi Syarithil Yaqini, berisikan pembahasan tentang bahan pikiran.

Selain menyalin Organon selengkapnya beserta komentar atas beberapa bagian logika itu, Al-Farabi pun menyalin karya-karya Aristoteles dalam bidang filsafat dan berbagai cabang ilmiah dan memberikan komentar atas karya Aristoteles itu. Pada suatu ketika Al-Farabi pernah ditanya orang: “manakah yang lebih besar, apakah anda tau Aristoteles?”, kemudian ia pun menjawab: “Jika saya hidup pada masa Aristoteles, niscaya saya menjadi muridnya yang terbesar”.

Al-Farabi pada zaman kebangunan di Eropa dikenal dengan Guru Kedua disebabkan ulasan-ulasannya atas buah tangan Aristoteles, yang dipandang sebagai Guru Pertama.

Pada masa itu Abu Ali Ibnu Sina (980-1037 M), banyak memberi komentar atas buah tangan Al-Farabi, Aristoteles, Plato, Hypocrate dan Euclid. Khusus mengenai logika Ibnu Sina (Avicienna) menulis dalam sebuah bukunya bernama Isyarat Wal Tanbihat fil Manthiqi. Kemudian bukuny aitu disalin oleh Napier ke dalam bahasa Perancis pada tahun 1658 M dan sebagai akibat dari penyalinan itu lahirlah logika aliran Port Royal di kota Paris, yang menjadi standard pelajaran logika di Barat sejak abad ke tujuh belas.

Kemudian ada lagi Abu Ali Al-Haitsam (965-1039 M), di Eropa di kenal dengan nama Alhazem, mengarang dua buah buku mengenai logika, yaitu:

1. Talkhisu Muqaddamati Pupurius wa Kutubi Aristhathalis.

2. Mukhtasharul Manthiqi.

Pada masa itu berkembang pula gagasan para sarjana untuk mengadakan perkumpulan untuk mengadakan diskusi dan riset dalam berbagai lapangan ilmiah dan filsafat. Perkumpulan itu dikenal dengan Ikhwanus Shaffa. Dari 25 risalat yang mereka hasilkan atau himpun, mengenai logika terdapat dalam risalat X, XI, XII, XIII, XIV. Disitu sistematik logika dibahas panjang lebar.

Literatur Logika itu teru berkembang ditangan komentator-komentator seperti: Al-Ghazali (1059-1111 M), Al-Tibrizi (wafat 1109 M), Ibnu Bajah atau Avempas (1100-1138 M), Al-Asmawi (1198-1283 M), Al-Samarkandi (wafat 1291 M), dan Al-Abhari (wafat 1296 M).

b. Logika Pada Masa Kemunduran Islam.

Menjelang abad ke XVI M sudah ada reaksi terhadap pelajaran logika dan perkembangan filsafat, karena dipandang terlampau memuja akal didalam mencari kebenaran, sehingga melahirkan paham paham yang dituduh zindiq, ilhad dan kufur.

Muhyiddin Al-Nawawi (1233-1277 M) dan Ibnu Shilah (1181-1243 M) telah mengumumkan fatwa, bahwa mempelajari logika hukumnya haram. Akan tetapi arus reaksi itu baru mencapai puncaknya pada abad XIV M, sejalan dengan kemunduran kekuasaan Islam, dan pada masa itu lah Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah (1263-1328 M) menentangkan logika dengan sengit dan mengarang buku yang berjudul Fashihatu ahlil Iman Fil Raddi ‘Ala Manthiqil Yunani (ketangkasan pendukung keimanan menangkis logika Yunani). Tokoh besar ini adalah muka gerakan Puritarism, yaitu gerakan pemurnian agama islam kembali seperti halnya pada zaman Rasulullah SAW.

Gerakan ini disusun oleh Saaduddin al Taftazani (1322-1389 M) dengan bukunya berjudul Tahzibul Manthiqi wal Kalam (seleksi terhadap logika dan ilmu kalam). Didalam bukunya itu dia mengukuhkan hukum haram mempelajari logika.

Pengaruh fatwa itu sangat kuat terhadap masyarakat Islam. Sejak saat itu mulai padam dan terhenti kegiatan dan perkembangan alam pikiran dalam dunia islam. Sebaliknya warisan itu disambut dengan gembira oleh dunia Barat, sehingga lahirlah zaman kebangunan atau kebangkitan (Renaissance) di Eropa.

Roger Bacon (1214-1294 M) menganjurkan mempelajari bahasa Arab, sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh pengetahuan disebabkan versi-versi salinan yang terlampau kacau dan membingungkan.

Kendatipun keadaan sudah sedemikian rupa, tetapi dalam dunia islam masih keluar karya-karya baru dalam bidang logika. Akan tetapi semangatnya sudah dilumpuhkan. Catagoriare (Maqulat-Astyarat) telah disingkirkan didalam karya-karya baru itu. Logika sudah dijadikan alat embelan bagi Theologi semata, sehingga tellah kehilangan semangat kreativitasnya.

Said Syarif Ali Al-Jurjani (1339-1413 M) menceritakan jalan penyelarasan logika dengan theologi didalam bukunya Tahzibul Manthiqi wal Kalam, dengan mempergunakan nama yang sama karya Taftazani.

Muhammad Al-Duwani (lahir 1428 M) memberikan komentar atas Qadliyat-al-Kubra (Mayor Premisse), yaitu Alat Besar dan Alat Kecil didalam alas pikiran, yang ditulisnya dalam buku Kubra wal Sughra fi Manthiqi.

Selanjutnya Abd. Rahman Al Akhdari (abad XVI M) menyusun dasar-dasar pelajaran logika dalam bentuk sajak, bernama Sulam fil Manthiqi. Bukunya itu diberi komentar (syarah) dan dijadikan dasar bagi pelajaran logika diberbagai dunia Islam, termasuk Indonesia.

Kemudian adalagi tokoh bernama Muhibbullah Al-Bisyari Al-Hindi (wafat 1707 M), berasal dari pshawar, mengarang tentang logika bernama Sallamul Ulum fil Manthiqi. Bukunya itu lahir dan tersebar pada masa kebesaran Imperium Moghul pada anak benua India.

Tokoh lain adalah Ahmad Al Malawi (abad XVIII M), memberi komentar (syarh) atas karya Al-Akhdari, bernama Syahrul Sullam fil Manthiqi. Kemudian diulasnya lagi dengan panjang lebar dalam buku Syahrul Kabir (Komentar Terbesar).

Kemudian muridnya bernama Muhammad Al-Shubban (abad XVIII M), memberikan annotasi-annotasi (Al-Hasyiat) atas karya gurunya itu dalam bukunya yang berjudul Hasyiat ‘ala Syahril Sullami.

Menjelang penghujung abad XIX M bnagkit Angkatan Pembaharuan dalam Islam atas prakarsa Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridla. Sejalan dengan itu perhatian terhadap logika muncul kembali di Mesir dan kemudian gerakan itu cepat meluas ke seluruh dunia Islam.

c. Ars Vetus Atau Logika Tua

Setelah menderita zaman gelap hampir seribu tahun lamanya sejak abad ke-13 dan abad ke-14, Eropa mulai menggali kembali pelajaran logika. Peter Abelard (1079 - 1142 M). Adalah tokoh yang pertama kali menghidupkan kembali pelajaran logika pada perguruan yang dibangunnya dikota Paris.

Pelajaran logika pada masa itu masih terbatas diluarbab-bab terlarang, yaitu terbatas sekitar: Catagoriare, Eisagoge dan De Interpretatione saja. akan tetapi karena kesungguhan Abelard menggali naskah-naskah tua, maka ia akhirnya menemukan juga naskah peninggalan Cicero tentang Topica dan komentar Apuleus tentang Periherminias dan buah tangan Boethius tentang De Syllogismo Catagorico dan De Syllogismo Hypothetico dan sebuah komentar tentang De Interpretatione.

Himpunan keseluruhan itulah yang disebut dengan Ars Vetus (Logika Tua).

Pada masa itu hanya beredar dua belas buku saja dalam lapangan logika dan isinya boleh dikatakan hampir bersamaan dan tidak satupun belakangan dipandang bernilai untuk dicetak secara luas.

d. Ars Nova Atau Logika Baru

Perkenalan dunia Barat dengan Organon selengkapnya adala sesudah berlangsung penyalinan-penyalinan yang luas dari karya-karya ahli pikir Islam ke dalam bahasa Latin. Al-Farabi digelari Guru Kedua dan Ibnu Sina disalin ke dalam bahasa beberapa bagian dari karya Ibnu Sina disalin kedalam bahasa Latin pada penghujung abad ke-12 M. Akan tetali salinan yang lebih sempurna dan lebih lengkap adalah himpunan komentar Ibnu Rusyd (Averroes), mengena logika itu, yang disalin pada awal abad ke-13 M dan sengaja diedarkan secara serentak pada masa itu dikota Paris, dan di Oxford (Inggris). Inilah sebagai penyebab lahir aliran baru di Eropa yang terkenal dengan sebutan Averroists. Kedua koya perguruan tinggi itu merupakan pusat kegiatan ilmiah di sepanjang abad ke-13 dan abad berikutnya.

Setela penyelinan itu mata dunia Barat terbuka kembali terhadap alam pikiran Grik Tua melalui penafsiran alam pikiran Islam. Didalam bidang logika, mereka menyambut keseluruhan organon, karena segenap bagian-bagian logika beserta tambahannya dari ahli-ahli pikir Islam telah ditemukan. Himpunan keseluruhan itulah yang disebut pada masa itu dengan Ars Nova (Logika Baru).

Bahan-bahan baru itu menghasilkan karya dari Albertus Magnus (1206-1280 M) dalam bidang logika. Beberapa orang komentator yang semasa dengan Albertus Magnus memberikan sumbangan penting bagi perkembangan logika kembali di Barat. Diantaranya ialah, Robert Grosseste (wafat 1253 M), memberikan ulasan tentang Analytica Posteriora dab St. Thomas Aquinas (1225-1274 M) memberikan komentar Periherminiasi. Serta muridnya Giles of Rome (wafat 1336 M), memberikan komentar lengkap tentang keseluruhan Organon.

Sejak itu literatur mengenai logika berkembang cepat di Barat. Petrus Hispenus (wafat 1277 M), yang kemudian menjadi Paus dengan panggilan Paus John XXI (1276-1277 M), menyusun pelajaran logika itu berbentuk sajak, seperti hal nya Al-Akhlak dari dalam dunia Islam. Bentuknya menjadi buku dasar bagi pelajaran logika sampai kepada abad ke-17.

Penulis-penulis lainnya mengenai logika dari golongan Oxford adalah Roger Bacon (wafat 1292 M), Thommas Sutton (1300 M), Walter Burleigh (1275-1345 M).

Sedangkan dari golongan Paris adalah, Jean Buridan (1295-1366 M), Albert of Saxony (1316-1390 M), Ramon Lull (1232-1315 M) dan St. Vincent Ferrer (wafat 1372 M).

e. Kemunduran Logika Kaum Skolastik

Menjelang penghujung abad ke-15 pengaruh logika kaum Skolastik mulai mengalami kemunduran, karena lebih banyak memperdebatkan hal-hal yang tidak berarti. Logika itu makin lam makin dirasakan sebagai sesuatu yang hampa dan kosong untuk dipergunakan sebagai alat untuk memperkembangkan pengetahuan.

Francis Bacon (1561-1626 M), melancarkan serangan sengit terhadap logika dalam bukunya Novum Organon (Organon baru) dan menganjurkan penggunaan sistem Induksi secara lebih luas. Serangan Bacon itu mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan di Barat dan perhatian ditujukan kepada penggunaan sistem Induksi dan kemudian lahir gerakan Empiri itu menyebabkan pengaruh logika kaum Skolastik lenyap sama sekali.

f. Logika Golongan Port Royal

Pada tahun 1658 M karya Ibnu Sina dalam bidang logika disalin oleh Napier ke dalam bahasa Perancis. Karya Ibnu Sina itu kelihatannya sangat ber pengaruh terhadap kebangkitan kembali logika di tangan tokoh-tokoh yang di kenal dengan sebutan: Golongan Port Royal. Tulisan-tulisan mereka menganjurkan penggantian keterangan-keterangan di dalam susun pikiran dengan simbol-simbol agar lebih umum sifatnya dan lebih mudah melakukan analisa.

Mereka tidak dapat menyelesaikan dan menyempurnakan gagasan itu, namun telah meletakkan landasan yang pertama bagi pertumbuhan Logika-Simbolik.

Logika simbolik itu bertujuan menjabarkan logika itu agar menjadi bagian dari ilmu pasti. Setiap keterangan, pengertian dan setiap hubungan diganti dengan tanda-tanda (simbul). Gagasan itu mula-mula dicetuskan oleh leibniz, tetapi baru pada pertengahan abad ke-19 mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.

Karya terpenting dalam bidang ilmu ini adalah buah tangan Erns Schroeder, terdiri atas tiga jilid yang diterbitkan berangsung-angsur dari tahun 1895 sampai tahun 1905.

Proyek atau gagasan itu mencapai kematangannya ditangan Bestarnd di dalam bidang Logika-Simbolik.

g. Logika Di Indonesia

Kalau di perhatikan mengenai logika di Indonesia, agak memprihatinkan, karena logika tidak pernah men jadi mata pelajaran atau bidang studi pada perguruan umum selama dalam penjajahan Belanda. Pelajaran logika itu dapat dijumpai di pesantren-pesantren Islam dan perguruan-perguruan Islam lainnya denagn menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab.

Tan Malaka di dalam bukunya Madilog dikemukakan: “Pad beberapa negara Barat dan Amerika, di Sekolah Menengah Atas, logika itu sudah diajarkan sebagai vak pelajaran yang khusus bersama-sama dengan Ilmu Bukti yang lain. Sudah tentu mahasiswa mendapat pelajaran tersendiri nmengenai logika sebelum diajarkan Ilmu Bukti (Ilmu Pasti. Pen.). selanjutnya dalam buku logika zaman sekarang, contoh logika diambil dari Ilmu Bukti. Logika dan Ilmu Bukti itu sering mengisi. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya logika sebagai ilmu berfikir.

Bagi bangsa Indonesia besar kemungkinan, karena politik penjajahan menyebabkan logika tidak mendapat tempat dalam suatu lembaga pendidikan sebagaimana telah disinggung diatas. Namun para ulama yang mengelola Pesantren atau Perguruan agama Islam lainnya mempunyai pandangan jauh. Kepada para santri diajarkan logika (Ilmu Manthiq) supaya berfikir logis dan kritis. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa tidak semua lembaga pendidikan tersebut mengajarkan logika itu, bahkan ada yang menentangnya sebagaimana dilakukan oleh sebagian ulama terdahulu.[8]

Eropa, setelah hampir seribu tahun dalam abad gelap, setelah abad ke 13 dan 14 mulai menggali lagi pelajaran logika. Tetapi, mereka tidak dapat mempelajari sepenuhnya karena pengucilan gereja terhadap logika masih berlaku sangat ketat. Namun demikian, kegairahan akan ilmu di Eropa, pada abad tersebut, dan terutama setelah melalui perjuangan barat memisahkan gereja dari negara, menjadi sangat tinggi. Berbagai ilmu yang tadinya disalin dan diterjemahkan ilmuan-ilmuan muskim kedalam bahasa Arab diterjemahkan mereka kembali kedalam bahasa Latin, kemudian kedalam bahasa-bahasa Eropa. Dibanding Logika, mereka menggelari al-Farabi Guru kedua dan Ibn Sina Guru Ketiga.

Buku Logika Ibn Sina diterjemahkan mereka kedalam bahasa Latin di penghujung abad ke-12. Terjemahan yang lebih lengkap adalah dari karya logika Ibn Rusyd di awal abad ke-14. Terjemahan inilah yang disebarkan di Paris (Perancis) dan Oxford (Inggris). Setelah itu, logika hidup kembali dengan subur di Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya.

Sejalan dengan itu, seperti telah disinggung di atas, dunia Islam menjadi mundur di bidang ilmu pengetahuan. Namun demikian, di awal kebangkitan Islam (mulai pada penghujung abad ke-19) yang ditandai dengan gerekan pembaharuan, ilmu-ilmu yang tadinya disingkirkan, termasuk Ilmu Mantik, mulai dipelajari dan dikembangkan kembali. Gerakan pembaharuan ini dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho dan lain-lain. Pengaruh ini meluas ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, Ilmu Mantik pada mulanya dipelajari secara terbatas di perguruan-perguruan agama dan pesantern. Imu ini, kemudian, semakin mendapat perhatian berkat semangat positif gerakan pembaharuan tadi. Tetapi, meskipun pakar Mantik mungkin banyak di Indonesia, ternyata buku-buku mantik atau logika yang mereka susun dalam bahasa Indonesia masih amat sedikit. Sementara itu, mereka mengakui besarnya signifikasi dan peranan Ilmu Mantik atau logika itu bagi pengembangan ilmu pada umumnya dan peningkatan daya pikir untik memperoleh kesimpulan yang benar pada khususnya.[9]


KESIMPULAN

Berdasarkan dari pembahasan materi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa logika adalah landasan utama untuk menguasai filsafat dan ilmu pengetahuan serta sarana penghubung antara filsafat dan ilmu. Logika menyelidiki, menyeleksi, dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan untuk mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorang.

Logika merumuskan serta menerapkan hukum-hukum dan patokan-patokan yang harus ditaati agar seseorang dapat berfikir benar, efisien, sistematis, dan teratur. Dengan demikian ada dua obyek penyelidikan ilmi Logika (Ilmu Mantiq), Pertama, Pemikiran sebagai obyek material juga dikenal dengan nama Logika Material dan yang kedua, patokan-patokan atau hukum-hukum berfikir benar sebagai obyek formalnya, yang disebut logika formal.

Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk berbeda secara radikal yakni dari cara berfikir umum ke khusus (deduktif) yaitu cara berfikir yang dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan menggunakan hukum-hukum, rumus-rumus, patokan-patokan berfikir benar, dan dari cara berfikir khusus ke umum (induktif) yaitu cara berfikir yang dipergunakan dalam logika material yang mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan (penyesuaian idealita denagn realita).


Sumber :

Baihaqi. 2012. ILMU MANTIK, Jakarta: DARUL ULUM PRESS.

Djalil Basiq. 2010. LOGIKA ILMU MANTIQ. Jakarta: Kencana.

Hasan Ali.1992. ILMU MANTIQ LOGIKA. Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya.

Mundiri. 1998. LOGIKA. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Tiam Sunarji Dahri. 1996. BELAJAR CEPAT ILMU MANTIK. Malang: Instans Publishing.


[1] Baihaqi, ILMU MANTIK, (Jakarta: DARUL ULUM PRESS, 2012), hlm. 2.


[2] ALI HASAN, ILMU MANTIQ LOGIKA, (Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya,1992), hlm. 4-6.


[3] Mundiri, LOGIKA, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 3-4.


[4] Basiq Djalil, LOGIKA ILMU MANTIQ, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 4.


[5] Sunarji Dahri Tiam, BELAJAR CEPAT ILMU MANTIK, (Malang: Instans Publishing, 1996), hlm.13-15.


[6] Basiq Djalil, Op. Cit ., hlm. 7-9.


[7] Baihaqi, ILMU MANTIK, (Jakarta: DARUL ULUM PRESS, 2012), hlm. 3-4.


[8] ALI HASAN, ILMU MANTIQ LOGIKA, (Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya,1992), hlm. 9-18.


[9] Baihaqi, Op. Cit ., hlm. 5.

Author : Wilda Faza Maulidiyah

0 komentar:

Post a Comment

Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, segera hubungi admin melalui contact us.. Terima Kasih