Studi Islam Normativitas Dan Historisitasnya

Studi Islam Normativitas Dan Historisitasnya

Islam adalah sebuah agama yang mempunyai dimensi kompleks.Ia dapat dilihat dan ditelaah dari berbagai sudut pandang, fenomena, dan disiplin ilmu. Dengan demikian di dalam mempelajari dan menelaah diharapkan ekstra hati-hati sehingga tidak akan menimbulkan pemahaman yang keliru dan kurang pas. 

Supaya tidak terjadi hal demikian, untuk saling bersinergi, saling memperkaya wawasan, dan agar tidak merasa ada ancaman dari satu terhadap yang lain maka konsep tasamuh atau toleransi mutlak di kedepankan.

Kajian keislaman adalah salah satu studi yang mendapat perhatian yang serius di kalangan ilmuan. Dengan demikian Islam dapat dipandang sebagai sebuah kajian keilmuan yang tak terelakkan.

Dari perspektif filasafat ilmu, setiap ilmu baik itu ilmu alam, sosial, agama atau ilmu-ilmu keislaman, harus diformulasikan dan dibangun di atas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka metodologi yang jelas.

Dalam kaidah ini, teori-teori sebagai wujud ekspresi intelektual yang seharusnya tidak boleh disakralkan dan dogmatik. Bertitik tolak dari pemahaman yang demikian, maka timbulah sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan Islam itu sendiri.

Ketika Islam dilihat dari sisi normatifitas, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan mu’amalah. Sedangkan ketika Islam dilihat dari sisi historisitas atau sebagaimana yang tampak alam masyarakat, Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu atau ilmu keislaman.

Fenomena keberagaman manusia dapat dilihat dari berbagai sudut pendekatan.Tidak lagi hanya dapat dilihat dari sudut dan semata-mata terkait dengan normativitas ajaran wahyu, meskipun fenomena ini sampai kapan pun adalah ciri daripada agama-agama yang ada.

Tetapi juga dapat dilihat dari sudut dan terikat erat dengan historisitas pemahaman dan interpretasi orang-perorang atau kelompok-perkelompok terhadap norma-norma ajaran agama yang dipeluknya, serta model-model amalan dan praktek-praktek ajaran agama yang dilakukanya dalam kehidupan sehari-hari. 

Pada umumnya, normativitas ajaran wahyu dibangun, diramu, dibakukan dan ditelaah lewat pendekatan doktrinal-teologis, sedang historisitas keberagaman manusia ditelaah lewat berbagai sudut pendekatan keilmuwan sosial-keagamaan yang bersifat multi dan inter disipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis, kultural maupun antropologis.

Pendekatan dan pemahaman terhadap fenomena keberagaman yang bercorak normatif dan historis tidak selamanya akur dan seirama. Hubungan antara keduanya seringkali diwarnai dengan tension atau ketegangan, baik yang bersifat kreatif maupun destruktif. 

Pendapatan yang pertama, lantaran ia berangkat dari teks sudah tertulis dalam kitab suci masing-masing agama, sampai batas-batas tertentu adalah bercorak literalis, tekstualis, atau skriptualis. 

Pendekatan terhadap fenomena keberagaman yang kedua dituduh oleh yang pertama sebagai pendekatan dan pemahaman keagamaan yang bersifat “reduksionis”, yakni pemahaman keagamaan yang hanya terbatas pada aspek eksternal-lahiriah dari keberagaman manusia dan kurang begitu memahami, menyelami dan menyentuh aspek batiniah-eksoteris serta makna terdalam dan moralitas yang terkandung oleh ajaran agama-agama itu sendiri. 

Sedang pendekatan studi agama yang kedua, yang lebih bersifat historis balik menuduh corak pendekatan yang pertama sebagai jenis pendekatan dan pemahaman keagamaan yang cenderung bersifat “absolutis”, lantaran pendekatan pertama ini cenderung mengabsolutkan teks yang sudah tertulis, tanpa berusaha memehami lebih dahulu apa sesungguhnya yang melatarbelakangi berbagai teks keagamaan yang ada.

Hubungan antara keduanya tidaklah harus dibuat tegang dan kaku seperti itu.Kontroversi antara absolutis dan relativis dalam arti reduksionis kurang begitu relevan untuk melihat realitas konkret fenomena keberagaman manusia secara utuh.

Menentukan bentuk hubungan yang pas antara keduanya adalah merupakan separoh jalan untuk mengurangi ketegangan hubungan antara kedua corak pendekatan tersebut.

Menurut ijtihad penulis, hubungan antara keduanya adalah ibarat sebuah koin (mata uang) dengan dua permukaan.Hubungan antara kedua permukaan koin tidak dapat dipisahkan, tetapi secara tegas dan jelas dapat dibedakan.

Pemahaman terhadap keIslaman selama ini dipahami sebagai dogma yang baku dan menjadi suatu norma yang tidak dapat dikritik, dan dijadikan sebagai pedoman mutlak yang tidak saja mengatur tingkah laku manusia, melainkan sebagai pedoman untuk menilai dogmatika yang dimiliki orang lain, meskipun demikian dogmatika tersebut tidak dapat dilepaskan dari segi sejarah pembentukan dogma itu sendiri.

Dalam suatu penelitian, peneliti menemukan bentuk pemikiran Amin Abdullah tentang pendekatan historisitas dan normativitas. Sisi historisitas merupakan bentuk sejarah bagaimana dogmatika itu muncul, sedangkan normativitas adalah aturan baku itu sendiri, yang mana tidak dapat dilepaskan dari pemikiran tentangnya. 

Dimana penafsiran tentang dogmatika tersebut, tidak hanya ditentukan oleh teks tunggal, melainkan juga kepentingan, kondisi, maupun prejudice yang mendasari penafsiran juga muncul dalam pemikiran keIslaman, yang kini telah dibakukan dan dijadikan pedoman mutlak.[1]

Pendekatan Ganda dalam Memahami Studi Agama

Indonesia mempunyai ciri khas yang unik yaitu pluralitas agama. Secara bahasa, kata pluralis berasal dari bahasa Inggris plural yang berarti jamak, dalam arti keanekaragaman dalam masyarakat atau ada banyak hal lain di luar kelompok kita yang harus diakui. Secara istilah pluralisme bukan sekedar keadaan atau fakta yang bersifat plural, jamak, atau banyak.

Lebih dari itu, pluralisme secara substansial termanifestasi dalam sikap untuk saling mengakui sekaligus menghargai, menghormati, memelihara, dan bahkan mengembangkan atau memperkaya keadaan yang bersifat plural, jamak atau banyak.

Menurut Nurcholish Madjid sebagaimana dikutip oleh Budy Munawar Rahman, pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities withi the bond of civility).

Pluralitas tersebut disebabkan karena berbagai agama yang disebarkan di Indonesia tidak saling tumpang tindih atau mengikis habis satu dengan yang lain, walaupun telah terjadi pengikisan yang cukup signifikan. Dalam penyebarannya Islam bukanlah agama terakhir, namun menjadi mayoritas.

Kondisi pluralitas agama di Indonesia berbeda dengan di Eropa yang menghayati keberagamaan dengan sekuler. Demikian pula di India, walau memiliki pengalaman yang hampir mirip dengan Indonesia dalam hal pluralitas agama, namun titik sentral kemayoritasannya berbeda, yaitu Budhisme di Thailand, dan kristen di Eropa.

Perbedaan kondisi inilah yang mendorong dikembangkannya studi dan pendekatan agama yang bersifat komprehensif, multidisipliner, interdisipliner dengan menggunakan metode historis-kritis dan doktriner-normatif. 

Hal ini didukung pula karena terjadinya pergeseran paradigma pemahaman tentang agama dari dahulu yang terbatas pada “idealitas” ke arah “historisitas” dan dari yang hanya bersifat “doktriner” kearah entitas “sosiologis”, dari diskursus “esensi” menuju “eksistensi”.[2]

Pendekatan agama yang bersifat komprehensif, multidisipliner, interdisipliner adalah penggabungan antara tipologis, antropologi dan fenomenologi. Dalam dataran teologis akan mengacu pada agama tertentu dengan loyalitas kelompoknya, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang sifat subyektif. 

Sedangkan pendekatan antropologis terhadap agama menyerupai pendekatan dalam wilayah applied science, dan pendekatan fenomenologi menyerupai pendekatan dalam wilayah pure science. Sehingga antara ketiganya saling berhubungan dan dapat mengantarkan seseorang atau kelompok pada bentuk pemahaman keagamaan yang relatif utuh inklusif terhadap fenomena keberagamaaan manusia. 

Gabungan pendekatan ini untuk mencari hakekat atau esensi dari apa yang ada dibalik segala macam bentuk manifestasi agama dalam kehidupan manusia di muka bumi.

Tumbuhnya studi-studi agama seperti Comparative Religion, History of Religion, Religious Studies, The Science of Religious, dan lain-lain semua itu menyebabkan teologi dan filsafat dikesampingkan (subordinat) perbedaan ini karena pengaruh empirisme dalam filsafat dan teologi, yang merubah ilmu-ilmu itu menjadi ilmu humaniora. 

Diawali dari aliran teologi yang pernah menjadi queen of science, karena selalu memenangkan pandangan yang berasal dari dogmatis agama jika terjadi suatu konflik, lalu beralih ke masa empiris yang yang memunculkan sosiologi agama, antropologi agama, sejarah agama dan lain-lain, sampai pada truth claim = hanya agama saya saja yang benar, agama lain tidak benar. 

Sementara itu studi empiris fenomena keberagamaan menemukan kenyataan yang sulit dielakkan.Maka dari itu, perlu adanya usaha rekonstruksi hubungan kerjasama antara filsafat, teologi dan studi agama.

Karena globalisasi budaya berkaitan erat dengan masalah pluralisme agama.Demikian juga, agama harus mampu menjawab tantangan kemajuan teknologi yang ada. Jangan sampai hanya disibukkan oleh truth claim yang berpangkal pada diskusi mengenai aspek teologis saja dengan melupakan aspek esoteris agama yang telah ada. 

Jika truth claim hanya terbatas pada aspek ontologis-metafisis saja barangkali tidak perlu dirisaukan, namun yang terjadi sebaliknya, truth claim memasuki wilayah sosial politik yang praktis empiris. 

Statemen ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Edward W. Said bahwa jika Islam memasuki wilayah politik saat ini, dianggap momok dan ditakuti oleh Barat, ketimbang sebagai agama yang perlu dihormati karena konsepsi-konsepsinya yang luhur dalam memecahkan kesulitan manusia sekarang. 

Diperkuat lagi pendapat William C. Chittik yang menyatakan bahwa jika truth claim bercampur dengan politik praktis, maka harapan-harapan besar terhadap peran agama mengatasi problem dunia kian pupus.

Maka kesimpulan yang dapat diambil adalah teologi bukanlah agama, namun teologi adalah karya manusia yang falliable (bisa salah) sebagai hasil rumusan akal pikiran manusia sesuai dengan waktu dan situasi sosial yang ada.Ia juga menggarisbawahi bahwa pada realitasnya agama tak bisa lepas dari truth claim. 

Agama tanpa truth claim ibarat pohon yang tak berbuah. Tanpa adanya truth claim yang oleh Whitehead disebut dogma, atau oleh Fazlur Rahman disebut normatif (transendent aspect), maka agama sebagai bentuk kehidupan yang distinctive tak akan mempunyai kekuatan sibolik yang menarik pengikutnya.

Untuk mengatasi truth claim, maka pendekatan filsafat tidak bisa ditinggalkan, karena dengan bantuan filsafat persoalan commitment dan critical reflection, keduanya bisa berfungsi secara bergantian. Dengan self critism bahkan religious critism akan membawa pengakuan manusia bahwa tak ada lembaga keagamaan, teologi atau kepercayaan yang tak bisa salah. 

Tuntutan akan kebenaran (final truth) yang melekat pada institusi-institusi agama dan sistem teologi yang sudah mapan (ortodoks) perlu dipertanyakan ulang jika manusia ingin menghindarkan diri dari tindakan memutlakkan yang “relatif”. Pada kenyataannya teologi akan menghadapai kesulitan jika dihadapkan pada realitas globalisasi. 

Kesulitan yang pertama teologi akan berhadapan dengan temuan-temuan ilmu empiris, baik alam maupun humanity; dan kedua dihadapkan pada globalisasi budaya. Karena persoalan inilah, maka commitment dan self critism mutlak diperlukan.

Sehingga jika persoalan ini kita tarik dalam Etika dan Dialog antar Agama dalam Perspektif Islam, truth claim ini dibutuhkan, namun tetap berpedoman pada al-Qur’an yang menyatakan bahwa “jangan berlebih-lebihan” dalam beragama (la taghlu fi diinikum). 

Dalam al-Qur’an, kecenderungan untuk mengantongi truth claim yang potensial untuk eksposif dan destruktif itu, dinetralisir dalam bentuk anjuran untuk selalu waspada terhadap bahaya ekstrimis dalam berbagai bentuknya, yang pada akhirnya akan menutup berbagai kemungkinan dialog intern dan antar umat beragama.

Pluralisme agama memang merupakan sebuah tantangan kemanusiaan yang bersifat universal.Namun yang penting adalah bagaimana kita bisa meletakkan pertautan dimensi-dimensi agama dan keagamaan dalam teori maupun praxis.

Pengertian Normativitas dan Historisitas

Pengartian Normativitas
Kata normatif berasal dari bahasa Inggris norm yang berarti norma ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 

Pada aspek normativitas, studi Islam agaknya masih banyak terbebeni oleh misi keagamaan yang bersifat memihak sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, historis, empiris terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam lingkungan peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.

Pengartian Historisitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, historis yaitu berkenaan dengan sejarah, bertalian atau ada hubunganya dengan masa lampau. Sedangkan historisitas yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, kesejarahan.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadaminta mengatakan sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi.

Definisi tersebut terlihat menekankan kepada materi peristiwanya tanpa mengaitka dengan aspek lainnya.Sedangkan dalam pengartian yang lebih komprehensif suatu peristiwa sejarah perlu juga di lihat siapa yang melakukan peristiwa tersebut, dimana, kapan, dan mengapa peristiwa tersebut terjadi.

Dari pengertian demikian kita dapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sejarah Islam adalah peristiwa atau kejadian yang sungguh-sungguh terjadi yang sluruhnya berkaitan dengan ajaran Islam diantara cakupannya itu ada yang berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan dan penyebarannya, tokoh-tokoh yang melakukan pengembangan dan penyebaran agama Islam tersebut, sejarah kemajuan dan kemunduran yang di capai umat Islam dalam berbagai bidang,seperti dalam bidang pengetauan agama dan umum, kebudayaan, arsitektur, politik, pemerintahan, peperangan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.[3]

Pengelompokkan Islam Normatif dan Islam Historis

Ketika melakukan studi atau penelitian Islam, perlu lebih dahulu ada kejelasan islam mana yang diteliti; Islam pada level mana. Maka penyebutan Islam normatif dan islam Historis adalah salahsatu dari penyebutan level tersebut. 

Istilah yang hampir sama dengan islam Normatif dan Islam Historis adalah Islam sebagai wahyu dan Islam sebagai produk sejarah. Sebagai wahyu, Islam didefinisikan sebagaimana ditulis sebelumnya di atas, yakni:

Artinya:

Wahyu ilahi yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW.Untuk kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat.

Sedangkan Islam Historis atau Islam sebagai produk sejarah adalah Islam yang dipahami dan islam yang dipraktekkan kaum muslim di seluruh penjuru dunia, mulai dari masa nabi Muhammad SAW sampai sekarang.

Pengelompokkan Islam normatif dan Islam historis menurut Nasr Hamid Abu Zaid mengelompokkan menjadi tiga wilayah (domain).

Pertama, wilayah teks asli Islam (the original text of Islam), yaitu Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad yang otentik.

Kedua, pemikiran Islam merupakan ragam menafsirkan terhadap teks asli Islam (Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad SAW). Dapat pula disebut hasil ijtihad terhadap teks asli Islam,seperti tafsir dan fikih. 

Secara rasional ijtihad dibenarkan, sebab ketentuan yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah itu tidak semua terinci, bahkan sebagian masih bersifat global yang membutuhkan penjabaran lebih lanjut.

Di samping permasalahan kehidupan selalu berkembang terus, sedangkan secara tegas permasalahan yang timbul itu belum/tidak disinggung. Karena itulah diperbolehkan berijtihad, meski masih harus tetap bersandar kepada kedua sumber utamanya dan sejauh dapat memenuhi persyaratan. 

Dalam kelompok ini dapat di temukan empat pokok cabang : (1) hukum/fikih,(2) teologi,(3) filsafat, (4) tasawuf. Hasil ijtihad dalam bidang hukum muncul dalam bentuk : (1) fikih, (2) fatwa, (3) yurisprudensi (kumpulan putusan hakim), (4) kodikfikkasi/unifikasi, yang muncul dalam bentuk Undang-Undang dan komplikasi.

Ketiga, praktek yang dilakukan kaum muslim. Praktek ini muncul dalam berbagai macam dan bentuk sesuai dengan latar belakang sosial (konteks).

Contohnya : praktek sholat muslim di Pakistan yang tidak meletakkan tangan di dada. Contohnya lainnya praktek duduk miring ketika tahiyat akhir bagi muslim Indonesia, sementara muslim di tempat/ negara lain tidak melakukannya.

Sementara Abdullah Saeed menyebut tiga tingkatan pula, tetapi dengan formulasi yang berbeda sebagai berikut :

Tingkatan pertama, adalah nilai pokok/dasar/asas, kepercayaan, ideal dan institusi-institusi.

Tingkatan kedua adalah penafsiran terhadap nilai dasar tersebut, agar nilai-nilai dasar tersebut dapat dilaksanakan/dipraktekkan.

Tingkatan ketiga manifestasi atau pratek berdasarkan pada nilai-nilai dasar tersebut yang berbeda antara satu negara dengan negara lain, bahkan antara satu wilayah dengan wilayah lain. Perbedaan tejadi karena perbedaan penafsiran dan perbedaan konteks dan budaya.

Pada level teks, sebagaimana telah ditulis sebelumnya, Islam didefinisikan sebagai wahyu. Pada dataran ini, Islam identik dengan nash wahyu atau teks yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah nabi Muhammad. Pada masa pewahyuannya memakan waktu kurang lebih 23 tahun.

Pada teks ini Islam adalah nash yang menurut hemat penulis, sesuai dengan pendapat sejumlah ilmuwan(ulama) dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni :

1. Nash prinsip atau normatif-universal, dan
2. Nash praktis-temporal

Nash kelompok pertama, nash prinsip atau normatif-universal, merupakan prinsip-prinsip yang dalam aplikasinya sebagian telah diformatkan dalam bentuk nash praktis di masa pewahyuan ketika nabi masih hidup.

Adapun nash praktis-temporal, sebagian ilmuwan menyebutnya nash konstektual, adalah nash yang turun (diwahyukan) untuk menjawab secara langsung (respon) terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat muslim Arab ketika pewahyuan. Pada kelompok ini pula Islam dapat menjadi fenomena sosial atau Islam aplikatif atau Islam praktis.

Dengan penjelasan di atas tadi dapat ditegaskan, syari’ah sebagai the original text mempunyai karakter mutlak dan absolut, tidak berubah-ubah.

Sementara fiqh sebagai hasil pemahaman terhadap the original text mempunyai sifat nisbi/relatif/zanni, dapat berubah sesuai dengan perubahan konteks; konteks zaman; konteks sosial; konteks tempat dan konteks lain-lain.

Sementara dengan menggunakan teori Islam pada level teori dan Islam pada level praktek dapat dijelaskan demikian. Untuk menjelaskan posisi syari’at pada level praktek perlu dianalogkan dengan posisi nash, baik al-Qur’an maupun sunnah nabi Muhammad SAW. 

Dapat disebutkan bahwa pada prinsipnya nash tersebut merupakan respon terhadap masalah yang dihadapi masyarakat arab di masa pewahyuan. Kira-kira demikianlah posisi Islam yang kita formatkan sekarang untuk merespon persoalan yang kita hadapi kini dan di sini. 

Perbedaan antara nash dan format yang kita rumuskan adalah, bahwa nash diwahyukan pada nabi Muhammad, sementara format yang kita rumuskan sekarang adalah format yang dilandaskan pada nash tersebut. Hal ini harus kita lakukan, sebab persoalan selalu berkembang dan berjalan maju, sementara wahyu sudah berhenti dengan meninggalnya nabi Muhammad SAW.

ASPEK NORMATIF DAN HISTORIS

Dua hal tersebut mengundang permasalahan, bagaimana hubungan sifat keilmiahan di satu pihak, dan di lain pihak Islam sebagai pandangan hidup diangkat sebagai obyek studi. Apakah Islam perlu dikaji secara ilmiah, ataukah cukup hanya diamalkan saja. 

Permasalahan yang lebih ekstrim lagi, mana yang lebih tepat menjadikan Islam sebagai obyek kajian ilmiah atau cukup dijadikan pedoman hidup yang tanpa perubahan dan kekurangan. Permasalahan semacam itu sebenarnya merupakan permasalahan klasik yang menjadi perdebatan pada abad tengah antara al-Ghazali dan Ibn Rusyd, yang mempertanyakan bagaimana hukumnya mempelajari filsafat. 

Dan Ibn Rusyd telah menjelaskan permasalahannya lewat bukunya Fasl al-Maqal, tetapi tampaknya tidak cukup mencerahkan bagi pemikiran ortodoksi keagamaan yang mulai mengkristal.



Hubungan antara kedua jenis pendekatan agama tersebut (normatif dan historis) memang tidak dapat mengendalikan hubungan yang bersifat antagonistik. Hubungan antar keduanya perlu bersifat “dialektis”, sehingga saling mempengaruhi hubungan dialektis tersebut, dan dari keduanya dapat ditumbuhkan potensi untuk saling mengoreksi, menegur, dan memperbaiki kekurangan yang melekat pada dideteksi dan dipilah-pilah sejauh mana aspek-aspek eksternal seperti interes politik, ekonomis hegemoni kultural, yang ikut campur aduk dalam praktek-praktek ajaran teologis tertentu.

Keterkaitan normativitas dan historisitas dalam studi keIslaman.

Dari perspektif filsafat ilmu, setiap ilmu, baik itu ilmu alam, humaniora, social, agama atau ilmu-ilmu keIslaman, harus diformulasikan dan dibangun di atas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka metodologi yang jelas.

Teori-teori yang sudah ada terlebih dahulu tidak dapat dijadikan garansi kebenaran. Anomali-anomali dan pemikiran-pemikiran yang tidak, kenyataannya ilmu pengetahuan tidak tumbuh dalam kevakuman, akan tetapi selalu dipengaruhi dan tidak dapat terlepas dari pengaruh cita rasa sejarah sosial dan politik. 

Pemikiran ini muncul dari adanya kesadaran bahwa teori-teori ilmu pengetahuan hanyalah merupakan produk, hasil karya manusia.[4]

Dalam pengertian ini, penerapan filsafat ilmu pada diskusi akademik ilmu-ilmu keIslaman harus dilakukan, karna filsafat ilmu saling berkaitan dengan sosiologi ilmu pengetahuan. Dua cabang ilmu pengetahuan ini jarang didiskusikan dan tidak pernah dimasukan dalam tradisi ilmu keIslaman yang ada. 

Padahal keduanya merupakan prasyarat dan wacana awal yang harus dimengerti bagi para ilmuan muslim yang ingin terhindar dari tuduhan pembela tipe studi Islam yang hanya bersifat pengulang-ngulangan, statis, disakralkan dan dogmatik.

Ketika pada akhirnya menghadapi masalah-masalah historisitas pengetahuan, patut disayangkan bila sarjana-sarjana muslim dan non muslim yang hendak mengembangkan wacana mereka dalam ilmu-ilmu keIslaman secara psikologi merasa terintimidasi dengan problem reduksionisme dan non reduksionisme. 

Dalam hal-hal tertentu, ada beban psikologis dan institusional yang terlibat dalam memperbesar dan memperluas domain, scope dan metodologi ilmu-ilmu keIslaman karena persoalan itu. 

Sejak awal mula Fazlur Rahman sendiri telah menempatkan Islam normative dalam kerangka kerjanya atau sebagai hard core dalam kerangka kerja Lakatos, yang harus dilindungi dengan sifat-sifatnya yang mendorong pada penemuan-penemuan dan penyelidikan-penyelidikan baru (positive heuristic). 

Hard core atau Islam normative sama dengan apa yang telah ditetapkan sebagai objek studi agama yang tepat dengan menggunakan pendekatan fenomenologis.

Bangunan baru ilmu-ilmu keIslaman, setelah diperkenalkan dan dihubungkan dengan wacana filsafat ilmu dan sosiologi ilmu pengetahuan, lebih lanjut harus mempertimbangkan penggunaan sebuah pendekatan dengan tiga dimensi untuk melihat fenomena agama Islam, yakni pendekatan yang berunsur linguistic- historis, teologis-filosofis, dan sosiologis-antropologis pada saat yang sama. Tentang apa dan bagaimana pendekatan tersebut sudah banyak ditulis oleh para ahlinya.

Dengan demikian, ilmu-ilmu keIslaman yang kritis, sebagaimana yang dinyatakan oleh Fazlur Rahman dan Mohammed Arkoun beserta kolega-kolega mereka yang memiliki keprihatinan yang sama, hanya dapat dibangun secara sistematik dengan menggunakan model gerakan tiga pendekatan secara sirkuler, dimana masing-masing dimensi dapat berinteraksi, berinterkomunikasi satu dengan lainnya. 

Masing-masing pendekatan berinteraksi dan dihubungkan dengan yang lainnya.Tidak ada satu pendekatan maupun disiplin yang dapat berdiri sendiri.Gerakan dinamis ini pada esensinya adalah hermeneutic.

Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya di bahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu objek, latar belakang dan pelakudari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana apa sebabnya dan siapa yang terlibat pada peristiwa tersebut. 

Melalui pendekatan sejarah seseorang diajal: menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis. [5]

Pendekatan sejarah ini sangat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat.Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut pendekatan sejarah. 

Ketika ia mempelajari al-Qur’al, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan al-Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep dan bagian kedua, berisi sejarah perumpamaan. 

Dalam hal ini Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuaat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab} yang sebelumnya akan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai ini berisi kisah-kisah dan perumpamaan, 

Al-Qur’an ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis dan juga melalui kiasan-kiasan yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan.

Melalui pendekatan sejarah ini seseorang di ajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan suatu peristiwa. Dari sini seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historinya. 

Artikel ini berupaya untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa masa lampau yang berkaitan dalam pengkajian Islam melalui pendekatan historis. Yang dimana akan di fokuskan pada historis Islam klasik, pertengahan, modern dan sejarawan-sejarawan muslim terkenal dan karya-karyanya.

Definisi Sejarah Islam

Dalam kamus Umum bahasa Indonesia, W.J.S, Poerdarminta mengatakan sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa yang penting yang yang benar-benar terjadi.[6] Definisi tersebut terlihat menekankan kepada materi peristiwanya tanpa mengaitkan dengan aspek lainnya.

Sedangkan pengertian yang lebih komprehensif suatu peristiwa sejarah perlu juga dilihat siapa yang melakukan peristiwa tersbut terjadi dan di dalam sejarah terhadap objek peristiwanya ( ). Orang yang melakukannya (من), waktunya (متى), tempatnya (فى أين), dan latar belakangnya (لماذا).Seluruh aspek tersebut selanjutnya disusun secara sistematik dan menggambarkan hubungan yang erat antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.

Dari pengertian demikian, kita dapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sejarah Islam adalah peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh terjadi yang seluruhnya berkaitan dengan agama Islam. 

Disamping cakupan sejarah Islam menjadi luas, di antara cakupan itu ada yang berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan dan penyebarannya. Sejarah kemajuan dan kemunduran yang dicapai umat Islam dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan umum, kebudayaan, arsitektur, politik pemerintahan, peperangan, pendidkan dan ekonomi.Penelitian yang berhubungan dengan dilakukan baik kalangan umat Islam sendiri maupun para sarjana barat.[7]

Dengan demikian, dapat di simpulkan bahwa yang dimaksud dengan sejarah Islam adalah berbagai peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dalam berbagai aspek.

Ruang Lingkup Sejarah Islam

Ruang lingkup agama Islam dilihat dari periodesasinya, dapat dibagi menjadi periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern.Periode klasik yang berlangsung sejak tahun 650-1250 M, ini dapat di bagi lagi menjadi masa kemajuan Islam I, yaitu dari sejak tahun 650-1000 dan masa desentagrasi yaitu dari tahun 1000-1250.[8]

Pada masa kemajuan Islam I itu tercatat sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Dari tahun 570-632 M, Khulafaur Rasyidin[9] dari tahun 635-661 M, Bani Umayah dari tahun 661-750 M, Bani Abbas dari tahun 750-1250 M.

Selanjutnya, periode pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250-1800 M. Dapat dibagi kedalam dua masa, yaitu masa kemunduran I dan masa tiga kerajaan besar.Masa kemunduran I berlangsung sejak tahun 1250-1500 M. Di zaman ini. Jengis Khan dan keturunannya datang membawa penghancuran besar kedunia Islam. Sedangkan masa tiga kerajaan besar yang berlangsung dari tahun 1500-

Adapun periode modern yang berlangsung dari tahun 1800 M, sampai dengan sekarang ditandai dengan zaman kebangkitan Islam.[10]Secara keseluruhan berbagai peristiwa yang terjadi dalam sejarah Islam dapat diketahui dalam beberapa periode tersebut.Pembagian periodesasi sejarah Islam demikian penting diketahui untuk lebih mudah difahami.

Dilihat dari segi isinya sejarah Islam dapat dibagi kedalam sejarah mengenai kemajuan dan kemundurannya dalam berbagai bidang seperti dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dengan berbagai paham dan aliran yang ada di dalamnya dan lain sebagainya, sejarah mengenai penyebarannya ke berbagai belahan dunia, tokoh-tokoh yang mengembangkannya. 

Pembagian sejarah demikian penting diketahui untuk menempatkan posisi studi kita, yaitu pada bidang mana yang akan kita tekuni.

Pertumbuhan dan Obyek Studi Islam

Studi Islam pada masa-masa awal, terutama masa Nabi dan sahabat, dilakukan di Masjid.Pusat-pusat studi Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmad Amin, Sejarawan Islam kontemporer, berada di Hijaz berpusat Makkah dan Madinah; Irak berpusat di Basrah dan Kufah serta Damaskus.Masing-masing daerah diwakili oleh sahabat ternama.[11]

Pada masa keemasan Islam, pada masa pemerintahan Abbasiyah studi Islam di pusatkan di Baghdad, Bait al-Hikmah.Sedangkan pada pemerintahan Islam di Spanyol di pusatkan di Universitas Cordova pada pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar Al-Dahil.Di Mesir berpusat di Universitas Al-Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah dari kalangan Syi’ah.

Studi Islam sekarang berkembang hampir di seluruh negara di dunia, baik Islam maupun yang bukan Islam.Di Indonesia studi Islam dilaksanakan di UIN, IAIN, STAIN.Ada juga sejumlah Perguruan Tinggi Swasta yang menyelenggarakan Studi Islam seperti Unissula (Semarang) dan Unisba (Bandung).

Studi Islam di negara-negara non Islam diselenggarakan di beberapa negara, antara lain di India, Chicago, Los Angeles, Londen, dan Kanada. Di Aligarch University India, Studi Islam di bagi menjadi dua: Islam sebagai doktrin di kaji di Fakultas Ushuuddin yang mempunyai dua jurusan, yaitu jurusan Madzhab Ahli Sunnah dan Madzhab Syi’ah. 

Sedangkan Islam dari aspek sejarah di kaji di Fakultas Humaniora dalam jurusan Islamic Studies.Di Jam’iah Milia Islamia, New Delhi, Islamic Studies, Persian Studies, dan Political Science.

Di Chicago, Kajian Islam diselenggarakan di Chicago University.Secara organisatoris, studi Islam berada di bawah Pusat Studi Timur Tengah dan Jurusan Bahasa, dan Kebudayaan Timur Dekat.Dilembaga ini, kajian Islam lebih mengutamakan kajian tentang pemikiran Islam, Bahasa Arab, naskah-naskah klasik, dan bahasa-bahasa non Arab.

Di Amerika, studi Islam pada umumnya mengutamakan studi sejarah islam, bahasa-bahasa Islam selain bahasa Arab, sasrta dan ilmu-ilmu social. Studi Islam di Amerika berada di bawah naungan Pusat Studi Timur Tengah dan Timur Dekat.

Di UCLA, studi Islam di bagi menjadi empat komponen. Pertama, doktrin dan sejarah Islam; kedua, bahasa Arab; ketiga, ilmu-ilmu social, sejarah dan sosiologi. Di London, studi Islam digabungkan dalam School of Oriental and African Studies (Fakultas Studi Ketimuran dan Afrika) yang memiliki berbagai jurusan dan kebudayaan di Asia dan Afrika. [12]

Dengan demikian obyek studi Islam dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu, sumber-sumber Islam, doktrin Islam, ritual dan institusi Islam, Sejarah Islam. Aliran dan pemikiran tokoh, studi kawasan, dan bahasa.

Perkembangan Islam dari Masa Nabi dan Sahabat dalam Historografi.

Tahun Islam dimulai dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah di tahun 622 M. Di Makkah terdapat kekuasaan kaum Quraisy yang kuat dan yang pada waktu itu belum dapat di patahkan Islam. 

Di Madinah sebaliknya tidak terdapat kekuasaan yang demikian, bahkan disana akhirnya Nabi Muhammad-lah yang memegang tampuk kekuasaan, dengan berada kekuasaan di tangan Nabi Muhammad, Islampun lebih mudah disebarkan sehingga akhirnya Islam pernah menguasai daerah-daerah yang dimulai dai spanyol di sebelah barat sampai ke Filiphina di sebelah Timur dan dari Afrika Tengah di sebelah Selatan sampai ke Danau Aral di sebelah utara.

Sejarah Islam sekarang telah berjalan dekat empat belas abad lamanya. Sebagai hanya dengan sejarah tiap umat, sejarah islam dapat di periode klasik : 650-1250 M. Periode ini dapat di bagi ke dalam kedua masa, masa kemajuan Islam I dan masa Disintegrasi. Masa kemajuan Islam I : 650-1000 M. Masa ini merupakan masa ekspansi, intergrasi dan ke-emasan Islam. 

Dalam hal ekspansi, sebelum Nabi Muhammad wafat di tahun 632 M., seluruh semenanjung arabia telah tunduk kebawah kekuasaan Islam. Ekspansi ke daerah-daerah di luar Arabia di mulai di zaman Khalifah pertama, Abu Bakar Al-Siddik.[13]

Khulafa Al-Rasyidin

Abu Bakar (632 M)
Abu bakar menjadi Khalifah di tahun 632 M., tetapi dua tahun kemudian meninggal dunia.Masanya yang singkat itu banyak dipergunakan untuk menyelesaikan perang riddah, yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi ke Madinah.

Mereka menganggap bahwa perjanjian yang mereka buat Nabi Muhammad SAW, dengan sendirinya tidak mengikat lagi setelah beliau wafat.Mereka selanjutnya mengambil sikap menentang terhadap Abu Bakar, Khalid Ibn Al-Walid adalah jendral yang banyak jasanya dalam mengatasi perang riddah ini.

Setelah selesai perang dalam negeri tersebut, barulah Abu Bakar mulai mengirim kekuatan-kekuatan ke luar Arabia. Khalid Ibn Al-Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hiah di tahun 634 M, ke Suria dikirim tentara di bawah pimpinan tiga jendral Amr Ibn Al-Aas, Yazid Ibn Abi Sufyan dan Syurahbil Ibn Hasanah untuk memperkuat tentara ini, Khalid Ibn Al-Walid kemudian diperintahkan supaya meninggalkan Irak dan melalui Suria.

Umar Ibn Al-Khattab (634-644 M)
Di zamannya gelombang ekspansi pertama terjadi, kota Damaskus jauh di tahun 635 M. Dan setahun kemudian, seteah tentara Bizantium kalah dipertempuran Yarmuk, daerah Suriah jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan memakai Suria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr Ibn Al-Aas dan ke Irak dibawah pimpinan Sa’d Ibn Abi Al-Waqqas. 

Babilom di Mesir dikepung di tahun 640 M. Sementara itu tentara Bizantium di Heliopolis di kalahkan dan Alexandria kemudian menyerah di tahun 641 M. Dengan demikian pula ke tangan Islam. Tempat perkemahan Amr Ibn Al-Aas yang terletak di luar tembok Babilion menjadi ibu kota dengan nama Al-Fustat.

Al-Qadisiyah, suatu kota dekat Al-Hirah, di Irak jatuh di tahun 637 M dan dari sana serangan dilanjutkan ke Al-Madain (Ctesiphon). Ibu kota Persia, yang dapat dikuasai pada tahun itu juga.

Ibu kota baru bagi daerah ini ialah Al-Kuffah, yang pada mulanya merupakan militer Islam di daerah Al-Hirah. Setelah jatuhnya Al-Madain, Raja Sasan Yazdagrid III lari ke sebelah utara.Di tahun 641 M., Mosul (di dekat Niniveh) dapat pula dikuasai. 

Dengan adanya gelombang ekspansi pertama ini, kekuasaan Islam di bawah Kholifah Umar, telah meliputi selain semenanjung Arabia, Palestina, Siria, Irak, Persia, dan Mesir.

Usman Ibn Affan (644-655)
Di zaman ini, bebrapa daerah dikuasai. Seperti, Tripoli, Ciprus dan lainnya, tetapi gelombang ekspansi pertama berhenti sampai disini. Dikalangan umat Isam mula terjadi perpecahan karena soal pemerintahan dan dalam kekacauan yang timbul Usman mati terbunuh.

Ali Ibn Abi Talib (656-661 M)
Di zaman ini mendapat tantangan dari pihak pendukung Usman, terutama Mu’awiyah, Gubernur Damaskus, dari golongan Talhah dan Zubeir di Makkah dan dari kaum Khawarij. Ali sebagimana Usman, mati terbunuh dan Mu’awiyah menjadi khalifah ke-lima.Mu’awiyah selanjtnya membentuk dinasti Umayah (661-750 M) dan ekspansi gelombang kedua terjadi di zaman dinasti ini.

Ada tuuh sebab-sebab yang membuat ekspansi Islam keluar daerah semenanjunga Arabia demikian cepat adalah sebagai berikut:[14]

1. Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang tidak hanya mempunyai sangkut paut dengan soal hubungan manusia dengantuhan dan soal hidup manusia sesudah hidup pertama sekarang.

2. Dalam hati para sahabat Nabi Muhammad seperti Abu Bakar, Umar, dan lain-lain terdapat keyakinan yang tebal tentang kewajiban menyampaikan ajaran-ajaran Isalam, sebagai agama baru keseluruh tempat. Dan pada suku-suku bangsa Arab terdapat kegemaran untuk berperang. 

Karena mereka telah merupakan satu umat di bawah naungan Islam, peperangan antara sesama mereka, seperti yang biasa terjadi di zaman jahiliyah, tidak mungkin lagi. maka disinilah bertemunya iman tebal para sahabat dengan kegemaran berperang suku-suku bangsa Arab dan timbullah suatu kekuatan baru di Madinah yang dengan mudah dapat mengalahkan kekatan Bizantium dan Persia sebagai negara tetangga madinah pada waktu itu.

3. Kedua negara tersebut di zaman itu telah memasuki fase kelemahannya. Kelemahan itu timbul bukan hanya karena peperangan tetapi juga karena faktor-faktor dalam negeri. Kalau di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Bizantium terdapat pertentangan-pertentangan agama, di Persia selain pertentangan agama terdapat pula persaingan antara anggota-anggota keluarga Raja untuk merebut kekuasaan. Hal-hal ini membawa kepada pecahnya ketuhanan masyarakat di kedua negara tersebut.

4. Dengan adanya usaha-usaha kerajaan Bizantium untuk memaksakan aliran yang di anutnya kepada rakyat yang di perintah, rakyat merasa hilangnya kemerdekaan beragama bagi mereka. Disamping itu mereka dibebani dengan pajak yang tinggi guna menutupi belanja perang kerajaan Bizantium dengan kerajaan Persia. Hal hal ini timbul rasa tidak senang dari rakyat daerah-daerah yang dikuasai Bizantium terhadap kerajaan ini.

5. Sebaliknya Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan tidak memaksa rakyat untuk merubah agamanya dan kemudian masuk Islam. Di dalam al-Qur’an telah ditegaskan bahwa “tidak ada paksaan dalam soal agama”. Yang di wajibkan bagi umat Islam ialah menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam kepada umat manusia dan selanjutnya terserah mereka mau masuk islam atau tidak. 

Datangnya Islam ke daerah-daerha tersebut tidak mendapat tantangan dari rakyat, bahkan terkadang mendapat bantuan. Seperti, Uskup Damaskus yang menolong Khalid Ibn Walid untuk memasuki kota Damaskus. Demikian juga Patriach Mesir menolong tentara Islam dalam usaha mematahkan kekuasaaan kerajaan bizantium di dareha itu.

6. Pada waktu itu bangsa sami di Suria dan Palestina dan bangsa hami di Mesir memandang bangsa Arab lebih dekat kepada meraka daripada bangsa Eropa Bizantium yang memerintah mereka.

7. Daerah-daerah yang dikuasai Islam seperti Mesir, Suria, Irak, dan lain-lain penuh dengan kekayaan. Kekayaan yang diperoleh umat Islam di daerha-daerah itu membuat ekspansi seterusnya mudah mendapat bea yang diperlukan.

Bani Umayah

Dinasti bani Umayah yang didirikan oleh Mu’awiyah berumur kurang lebih 90 tahun dan di zaman ini ekspansi yang berhenti di zaman kedua Khalifah terakhir dilanjutkan. 

Khalifah-khalifah besar dari Dinasti Bani Umayah adalah Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd Al-Malik Ibn Marwan (685-705 M), Al-Walid Ibn Abd Al-Malik (705-715 M), Umar Ibn Al-Aziz (717-720 M), dan Hisyam Ibn Al-Malik (724-743 M).

Bani Abbas

Sungguhpun Abu Al-Abbaslah (750-754 M) yang mendirikan Dinasti bani Abbas, tetapi pembina sebenarnya adalah Al-Mansur (754-775 M). Sebagai khalifah yang baru, musuh-musuh ingin menjatuhkannya sebelum ia bertambah kuat, terutama golongan Bani Umayah, golongan Khawarij bahkan juga kaum Syi’ah, kaum Syi’ahlah, setelah melihat bahwa bani Abbas memonopoli kekuasaan mulai mengambil sikap menentang.

Dalam menghancurkan lawan, Abu Mansur tidak segan-segan membunuh sekutu yang membawa keluarganya pada kekuasaan. Abu Muslim, karena akan di anggap akan menjadi saingan yang berbahaya di Khurasan, di undang ke Baghdad tetapi di adili dan kemudian di jatuhi hukuman mati. Dalam usaha mempertahankan Bani Abbas, Al-Mansur memakai kekuasaan.

Masa Disintegrasi (1000-1250 M)

Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir zaman Bani Umayah, tetapi memuncak di zaman Bani Abbas terutama setelah khalifah-khalifah menjadi boneka dalam tangan tentara pengawal.

Daerah-daerah yang jauh letaknya dari posisi pemerintahan di Damaskus dan kemudian di Baghdad, melepaskan diri dari kekuasaan Khalifah dipusat dan bertimbunlah dinasti-dinasti kecil.

Disintegrasi dalam lapangan politik membawa pada disentegrasi dalam lapangan kebudayaan, bahkan juga dalam lapangan agama, perpecahan di kalangan umat Islam menjadi besar. Dengan adanya daerah-daerah yang berdiri sendiri itu, disamping baghdad sebagai telah dilihat timbul pusat-pusat kebudayaan lain, terutama Cairo di Mesir, Cordova di Spanyol, Asfahan, Bukhara, dan Samarkand di Timur. 

Dengan timbulnya pusat-pusat yang berada di bawah kekuasaan Persia, bahasa Persia meningkat menjadi bahasa kedua di dunia Islam. Di zaman Disintegrasi ini ajaran-ajaran sufi yang timbul di zaman kemajuan I, mengambil bentuk terikat, mutunya mulai menurun.

Periode Modern (1800M)

Periode ini merupakan Zaman Kebangkitan Islam ekspedisi Nepoleon di Mesir yang berakhir di tahun 1801 M, membuka mata dunia islam, terutama Turki dan Mesir akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan Barat. 

Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan balance of power yang telah pincang dan membahayakan Islam bagi itu.

Kontak Islam dengan barat sekarang berlainan sekali dengan kontak Islam dengan barat di Periode Klasik.Pada waktu itu Islam sedang menaik dan Barat sedang dalam kegelapan.Sekarang sebaliknya, Islam sedang dalam kegelapan dan Barat sedang menaik.Kini Islam yang ingin belajar dari Barat.

Dengan demikian timbullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran-pemikiran bagaimana cara membuat umat Islam maju kembali sebagai di Periode Klasik. Usaha-usaha ke arah itupun mulai dijalankan dlam kalangan umat Islam.Tetapi dalam pada itu Barat juga bertambah maju.[15]

Kata normatif berasal dari bahasa Inggris norm yang berarti norma ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, historis yaitu berkenaan dengan sejarah, bertalian atau ada hubunganya dengan masa lampau. Sedangkan historisitas yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, kesejarahan.

Pengelompokkan Islam normatif dan Islam historis menurut Nasr Hamid Abu Zaid mengelompokkan menjadi tiga wilayah yaitu:

Pertama, wilayah teks asli Islam (the original text of Islam), yaitu Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad yang otentik. Kedua, pemikiran Islam merupakan ragam menafsirkan terhadap teks asli Islam (Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad SAW), Ketiga, praktek yang dilakukan kaum muslim.

Dalam kehidupan keagamaan, khususnya dalam pemikiran keagamaan Islam terdapat aspek normatif dan historis. Kedua aspek itu terdapat hubungan yang menyatu, tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan.

Aspek normatif, wahyu, harus diterima sebagaimana adanya, mengikat semua pihak, dan berlaku universal. Sedang aspek historis kekhalifahan, senantiasa dapat berubah, menerima diskusi, karena produk zaman tertentu, dan bukan hal yang sakral.

Keterkaitan normativitas dan historisitas dalam studi keIslaman. hanya dapat dibangun secara sistematik dengan menggunakan model gerakan tiga pendekatan secara sirkuler, dimana masing-masing dimensi dapat berinteraksi, berinterkomunikasi satu dengan lainnya.

Referensi :

Mustofa. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia. 1997.

Abdullah, Yatim. Studi Akhlak dalam Perspektif Alqur’an. Pekan Baru : Amzah. 2006.

Toriquddin, Moh. Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern. Malang : UIN-Malang Press. 2008.

Al Ghozali, Ihya’ Ulumuddin. Maktabah Syamilah.

[1]Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia, 1997), hlm. 11.

[2]Yatim Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Alqur’an, (Pekan Baru : Amzah, 2006), hlm. 3.

[3]Moh. Toriquddin, Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern, (Malang : UIN-Malang Press, 2008), hlm. 13.

[4]Al Ghozali, Ihya’ Ulumuddin, (Maktabah Syamilah, bab Bayanu haqiqoil kholqi wa su’i al-kholqi, Juz 2), hlm. 253.

[5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT raja Grafindo, 2007), hlm. 46-47.

[6] W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: balai Pustaka, 1991), cet. XII hlm. 887.

[7]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, hlm. 363.

[8] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, jilid I (Jakarta: UI Press, 1979), hlm. 56-57.

[9]Khulafaur Rasyidin secara harfiah berarti pemimpin yang jujur dan lurus. Istilah tersebut diberikan kepada khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, Khalifah Umar Ibn Al-Khattab, Khalifah Usman Ibn Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

[10]Ibid.,hlm. 84-89.

[11] Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, (Mesir: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Tt.Tc), hlm. 8.

[12] Atang Abdul Hakim, & Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: Rosda Karya, hlm. 12.

[13]Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, hlm. 56.

[14]Ibid., hlm. 58-61

[15] Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Perbagai Aspeknya, jlid I, hlm. 88-89

0 komentar:

Post a Comment

Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, segera hubungi admin melalui contact us.. Terima Kasih