[Update] Sejarah Perkembangan Ilmu Mantik

[Update] Sejarah Perkembangan Ilmu Mantik 

Abstrak

Ilmu mantik merupakan ilmu tentang kaidah yang dapat membimbing manusia kearah berfikir secara benar dan dari ilmu itu menghasilkan kesimpulan ynag benar. Mantik sebagai alat dan pengarahan untuk menuju ilmu yang benar. Dalam sejarah dan perkembangannya mulai dari zaman yunani kuno hingga sekarang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak tokoh-tokoh ilmiyah kelas super dunia yang mengembangkan ilmu mantik seperti Socrates, Plato, Aristoteles. Seiring berjalannya waktu ilmu mantik juga dikembangkan oleh ulama dan cendekiawan muslim diantaranya Al-Farabi, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi. Bahwasannya ilmu mantik itu penting dalam era modernisasi ini. Dan mengingat pentingnya ilmu ini, pada masa sekarang ilmu mantik masih diajarkan dan dikembangkan diberbagai perguruan-perguruan agama juga di pondok pesantren. Hal ini agar tiap individu dapat meningkatkan daya pikir dan memperoleh kesimpulan secara benar.

Kata Kunci: Sejarah, Perkembangan, Ilmu Mantik

Keistemewaan manusia dari segala sesuatu adalah manusia karena mempunyai akal fikiran. Amak manusia dengan fikirannya merupakan isi dari alam ini, yang mana tidak ada yang mulia didunia ini. Kecuali manusia yang mempunyai akal atau biasa disebut manusia yang berakal. Salah satu fungsi dari akal dalam kehidupan manusia tiada lain sebagai prtunjuk jalan guna mem ilih yang bermanfaat dan meninggalkan yang mudharat.

Berbagai kenyataan dilapangan yang ditemukan penulis seputar berfikir kritis, analitik, dan logic, jauh dari harapan penulis bagisebuah masyarakat modern yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan sebagai salah satu kebutuhan dalam kehidupannya islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akal pikiran benar-benar menganjurkan umatnya untuk melakukan apapun dengan landasan ilmiah yang memiliki akurasi data yang baik dan benar. Sehingga ditemukan pemahaman “BAL” (Benar, Akurat, Lengkap) dalam bertindak. Filsafat melalui salah satu cabangnya memberikan jalan keluarnya dengan istilah logika yang juga banyak dikenal didunia islam dengan istilah mantiq. Yang juga memiliki cabang alat berfikir runtut yang dikenal dengan silogisme.

Pengertian Ilmu Mantiq

Ilmu mantik merupakan ilmu tentang kaidah-kaidah manusia yang dapat membimbing manusia kearah berfikir secara benar yang menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga ia terhindar dari berfikir secara keliru yang menghasilkan kesimpulan yang salah. Kaidah-kaidah tersebut tidak saja membimbing manusia kearah bagaimana ia berfikir melainkan juga mengajarnya tentang cara berfikir supaya dengan segera ia bisa sampai kepada kesimpulan yang benar. Karena matik sebagai alat untuk menuju ilmu yang benar atau karena ilmu yang benar perlu pengarahan mantik. Maka itulah ilmu mantik dikatakan ilmu segala yang benar atau sering disebut bapak dari segala ilmu.[1]

Sejarah Ilmu Mantiq (Logika)

Mengulas masalah sejarah mantiq maka tidak akan terlepas dari sejarah perkembangan logika. Dan berbicara tentang sejarah logika, maka tidak dapat dipisahkan dari para filosof. Menulusuri para filosof maka tidak lepas dari keberadaan Yunani. Dan salah satu yang dianggap berperan dalam mengembangkan logika di Yunani adalah Aristoteles. Karena itulah, maka untuk mengetahui secara paripurna mengenai perkembangan ilmu mantiq dari akarnya, mau tidak mau harus menjelajahi dalam pemikiran Yunani.

Berfikir secara sederhana, sebenarnya sudah berusia lanjut, selanjutnya umur manusia berada dipermukaan bumi. Pernyataan itu dapat dipahami karena manusia adalah makhluk yang dikarunia Tuhan akal yang dengan itu ia bisa berfikir sehingga ia berada dari makhluk-makhluk lainnya. Tetapi berkembangnya teknik berfikir logis atau mantiq menjadi ilmu dengan disiplin tersendiri terwujud belakangan sebagaimana halnya perkembangan segala jenis ilmu yang kita kenal sekarang.

Sudah dijelaskan bahwa umur logika sebenarnya sama tuannya dengan umur manusia. Sejak manusia berfikir, sebenarnya logika itu telah ada. Hanya saja logika pada kala itu dinamakan logika alamiah, atau logika naturalis atau logika kodratiyah. Sebab berfikir kala itu dilakukan atas dasar kodrat dan fitrah kemanusiaan saja. Jadi manusia walaupun tidak pernah atau belum mempelajari aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir, sudah dapat juga berfikir secara teratur dan benar, terutama dalam soal-soal yang sederhana. Sebagai contoh, manusia sudah dapat membedakan dirinya dengan hewan atau dengan benda-benda yang lainnya. Manusia juga sudah dapat membedakan pekerjaan yang satu dengan pekerjaan yang lainnya. Dapat juga membedakan antara duduk dengan berdiri, begitu juga dengan yang lain-lainnya. Hanya saja kalau sudah memikirkan persoalan-persoalan yang lebih sulit, maka pikiran manusia seringkali tersesat. Sebagai contoh:ada dua berita yang bertentangan mutlak, sedangkan keduanya menganggap dirinya benar, disini timbul persolan. Dapatkah kedua-duanya benar? Atau sebaliknya kedua-duanya salah? Untuk membantu manusia agar tidak tersesat dalam pemikirannya, dirumuskanlah pemikiran logika, yang kemudian dikenal dengan sebutan logika ilmiah, atau disebut pula logika Artificialis atau logika buatan yang dipelajari. Maka dari itu kita jelajahi mengenai sejarah mantiq supaya bisa memecahkan persoalan yang ada diatas.[2]

Yunani adalah negeri asal ilmu mantiq karena banyak penduduknya yang mendapat karunia otak cerdas. Negeri Yunani, terutama Athena,diakui menjadi sumber berbagai ilmu. Socrates , Plato, Aristoteles, dan banyak yang lainnya adalah tokoh-tokoh ilmiah kelas super dunia yang tidak ada ilmuwan nasional dan internasional tidak mengenalnya sampai sekarang dan akan datang.[3] Mantiq atau logika sebagai ilmu di Yunani pada abad ke 5 SM oleh ahli-ahli filsafat Yunani kuno. Tercatat sebagia pencetus pertamanyaadalah Socrates, kemudian dilanjutkan oleh Plato dan disusun dengan rapi sebagai dasar falsafat oleh Aristoteles, itulah sebabnya beliau dinyatakan sebagai guru pertama dari imu pengetahuan.[4]

Kecerdasan penduduk Yunani itulah yang barangkali telah menyebabkan, antara lain, lahirnya kelompok safsathah (semacam debat kusir yang inginnya menang sendiri dan maunya mengalahkan lawan saja) berkembang, tetapi berpengaruh secara negatif, di Yunani. Kelompok ini, dengan ketangkasan debat yang mereka miliki,menghujat dan malah merusak sistem sosial, agama dan moral dengan cara mengungkap pernyataan-pernyataan yang kelihatannya sebagai benar, tetapi membuat penyesatan-penyesatan pemikiran, nilai dan moral.

Diantara pernyataan- pernyataan mereka adalah kebaikan adalah apa yang Anda pandang baik. Keburukan adalah apa yang Anda pandang buruk. Apa yang diyakini benar oleh sesorang, itulah yang benar buat dia. Apa yang diyakini salah oleh seseorang, itulah yang salah buat dia. Mereka membuang semua standar nilai dan norma moral, baik untuk kebaikan dan kebenaran maupun untuk keburukan dan kesalahan. Oleh karena itu, setiap orang berhak menentukan standar nilai kebaikan dan kebenaran atau standar nilai keburukan dan kesalahan untuk dirinya sendiri meskipun bertentangan dengan orang lain.

Aristoteles (384-322 SM) berusaha mengalahkan mereka secara ilmiyah dengan pernyataan-pernyataan logis yang briliyan. Pernyataan-pernyataan itu ia peroleh melalui diskusi dengan murid-muridnya. Keberhasilannya menyusun teknik berfikir sistematis dan benar sekaligus hukum-hukumnya, telah mengangkatnya menjadi guru pertama logika didunia sampai kemasa ini. Julukan itu memang tepat karena tidak ada orang yang mendahuluinya dalam upaya menyusun teknik berfikir benar dengan kesimpulan yang benar seperti yang dihasilkannya itu. Dengan kata lain, keberhasilannya itu murni dari upaya pemikirannya sendiri.[5]

Prof. Dr. Will Durant didalam bukunya The Story Of Philosophy cetakan 1957 halaman 58 menulis: “Keistemewaan yang terutama dan terbesar sekali dari Aristoteles adalah bahwa tanpa mendahuluinya dan hampir seluruhnya tergantung oleh kekuatan pikirannya, ia pun menciptakan sebuah ilu baru yaitu logika”. Betapa sempurnanya hukum-hukium berfikir yang disusun Aristoteles itu dapat disaksikan dari pernyataan Immanuel Kant (1724-1804M), ahli pikir Jermandidalam bukunya Critique Of Pure Reason cetakan 1950 halaman 8 berbunyi: “Logika berkembang dalam garis yang pasti itu, bahkan sejak masa permulaannya tampak suatu kenyataan, bahwa apa ynag telah diciptakan oleh Aristoteles itu tidak bisa ditambah agak sedikitpun lagi,karena langsung mencapai kesempurnaannya’’.

Kebutuhan akan logika terasa benar, ketika di Yunani timbul golongan Shopisten yang memutar balikkan nilai-nilai. Mereka berusaha meniadakan aturan masyarakat, agama dan akhlak dengan mengemukakan keterangan-keterangan atau keputusan-keputusan palsu. Sebagai akibat dari pernyataan palsu itu, seseorang menganggap sesuatu benar atau salah, berdasarkan kepentingannya sendiri dan selanjutnya akan menyelesaikan sesuatu hal, menurut caranya sendiri dan menguntungkan diri sendiri pula. Kalau terus perpegang kepada pola pikir yang demikian, biasanya orang akan berfikir subyektif dan tidak obyektif lagi dan hal ini akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Dalam situasi yang membingungkan itu muncul dua orang tokoh filsafat Yunani yang terkenal, diantaranya Socrates dan Aristophanes yang menentang golongan Sophisten. Keduannya berusaha mengangkat dan membebaskan manusia dari lembah kebingungan kepada kesadaran kembali akan-akan nilai kebenaran. Untuk sampai kepada suatu kebenaran, Socrates mempergunakan metode soal jawab dan diskusi dengan murid-muridnya, sehingga masing-masing mereka sampai kepada hakikat kebenaran. Dengan demikian Socrates telah merintis jalan kearah penyusunan logika. Jejak Socrates ini kemudian diikuti oleh muridnya Plato dengan metode yang belum begitu jauh berbeda dan maju dari gurunya itu. Kemudian barulah Aristoteles mengumpulkannya memperbaiki metodenya, menyusun masalah dan pasal-pasalnya. Logika dijadikannya sebagai pendahuluan untuk bermacam-macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah Aristoteles dianggap sebagai peletak dasar logika dan diberi gelar guru pertama sebagaimana telah disebutkan diatas.

Kumpulan buah tangan Aristoteles dalam bidang logika atau ilmu mantiq terdiri atas lima buku. Buku ketiga terbagi atas dua bagian. Kemudian belakangan oleh murid-muridnya digabungkan menjadi satu yang diberi nama: Organon, yaitu:

1. Catagoriae, berisikan pembahasan tentang cara menguraikan sesuatu ditinjau dari sepuluh aspek.

2. De Interpretatione, berisikan pembahasan tentang bentuk-bentuk keterangan dan bagian tersebut biasa juga disebut dengan perihermenis.

3. Analytica Pruora, berisikan pembahasan tentang bentuk-bentuk susunan pikiran yang dipergunakan didalam berfikir.

4. Analytica Posteriora, berisikan pembahasan tentang jenis-jenis bahan pikiran yang berkekuatan menyakinkan.

5. Topica, berisikan pembahasan tentang jenis-jenis bahan pikiran yang berkekuatan sebagai pegangan dasar.

6. Sophistici, berisikan pembahasan tentang pemukauan melalui bahan pikiran ataupun bentuk pikiran.

Salah seorang murid Aristoteles yang terbesar adalah Theoprastes (371-287 SM), menggantikannya untuk mengepalai aliran peripatetik di Athena dan ikut berjasa menyemputrnakan logika ynag diwariskan oleh gurunya. Menurut J. Lukasiewics didalam bukunya: Aristotel’s Sylogistic bahwa Theoprastes itu menemukan lima ikat pikiran yang baru dalam susunan pikiran-mengurai, yang diberi nama dengan rangka pikiran-keempat. Sumbangan Theoprastes yang terpenting menurut I. M. Bochenski ialah penafsiran tentang yang mungkin dan tentang sebuah sifat yang azasi dari setiap keimpulan. Sesuatu yang mungkin menurut penafsirannya adalah “yang tidak mengandung kontradiksi didalam dirinya”. Sedangkan setiap kesimpulan, menurut azas yang dirumuskannya mesti mengikuti unsur terlemah didalam alas pikiran. Yang dimaksud dengan unsur terlemah ialah sifat menidak dan sifat membagi dan sifat tak meniap didalam alas fikiran.

logika itu kemudian mencapai puncaknya pada tulisan-tulisan kaum Stoik dan kaum Megaria. Aliran Megaria itu mula-mula dibangun oleh Euclid salah seorang murid Socrates (470-399 SM). Diantara murid Euclid yang terkenal ialah Eubulides Liar Paradox (Paradoks si Pembohong). Disamping itu ialah Ichtyas, menggantikan Euclidmengepalai aliran Megaria itu serta Trasymachnus dari Korintus yang menjadi guru Stilpo. Salah seorang murid Stilpo yang termasyhur ialah Zeno (350-260 SM) sebagai pembangun aliranm Stoik (Stoicisme). Selanjutnya penyambung aliran Zeno yang amat harum nmanya sampai saat ini ialah Cleanthes (abad ke03SM) dan Chrysippus (280-206SM). Chtysippus adalah seorang ahli logika yang sangat tajam pikirannya dan amat produktif, sehingga ada pemeo “jika Chrusippus tidak ada, niscaya kaum Stoa tidak akan ada”.Kita kenal juga para komentator lainnya pada masa itu, yaitu Appolinus Cronus, Diodorus Cronus dan Philo. Philo adalah ahli pikir Yahudi di Alexanderia pada awal abad masehi dan amat harum namanya. Selain itu yang tidak kurang perhatiannya terhadap logika ialah Sextus Empiricus, Diogenes Laertius, Cicero (106-43 SM), Gellius, Galenus (130-200 M), Lucius Apuleus, Origen, Proclus, Stobaeus, Epictitus (abad ke-1 Masehi), Seneca (wafat 65 M).

Agar lebih lengkap lagi ada baiknya dikemukakan pula seorang tokoh yang menaruh perhatian terhadap logika ialah murid plotinus (205-270 M) yang bernama porphyrius(233-306 M), pembangun aliran Neoplatonism. Tokoh ini berjasa menambah satu bagian baru dalam pelajaran logika. Bagian baru itu disebut Eisagoge yaitu pengantar kepada Categoriae. Didalamnya dibahas tentang lingkungan-lingkungan zat dan lingkungan sifat didalam alam semesta. Bagian baru ini sekarang disebut dengan Klassifikasi. Pada masa Porphyrius itu alam pikiran Grik telah memperoleh pusat-pusat pelajarannya pada empat tempat diantaranya Athena, Antiokia, Rome, dan Alexanderia. Pertumbuhan dan perkembangan logika ini kita lihat membawa pengaruh yang amat menarik terhadap agama Kristen, sebagaimana terlihat dibawah ini.

Constantine the Great (306-37 M) adalah Kaisar Imperium Roma yang pertama-tama memeluk agama Kristen pada tahun 325 M atas anjuran kaisar tersebut berlangsung Sidang Gereja sedunia yang pertama kali di Nicae, yang terkenal dengan Konsili Nicae tahun 235 M. Konsili tersebut diadakan guna menyelesaikan perbedaan pokok keyakinan dalam agama Kristen antara aliran Arianism yang berkeyakinan bahwa Allah itu Maha Esa tanpa oknum dan Yesus Kristus itu adalah manusia biasa tetapi menjabat Prophet of God (Rasul Allah), dengan aliran Athanasianism yang berkeyakinan bahwa Allah Maha Esa tetapi terdiri atas tiga (Trinity Faith) dan Yesus Kristus itu adalah Son of God (Anak Allah) yang sengaja menjelma dibumi.

Konsili Nicae tahun tersebut memutuskan Trinity Faith sebagai keyakinan resmi dalam agama Kristen dan Arianism itu dinyatakan sebagai ajaran bid’ah. Tetapi Kaisar Konstantine sendiri berbalik menganut Unitary Faith dan mengumumkannya sebagai keyakinan resmi didalam agama Kristen. Hal itu berkelanjutan sampai kepada pemerintahan Kaisar Theodosius (379-395 M) yang berbalik mengumumkan bahwa, Trinity Faith sebgai keyakinan resmi dalam agama Kristen.

Keputusan penting lainnya dari Konsoli Nicae itu menutup pusat-pusat pelajaran filsafat Grik di Athena (Yunani) dan Antiokia dan Roma. Selanjutnya melarang pelajaran logika kecuali beberapa bab seperti Categoriae, Eisagoge, dan Perinhermenias dan selebihnya dinyatakan sebagai bab-bab terlarang. Keputusan Nicae tersebut merupakan pukulan dahsyat bagi filsafat Grik dan bagi logika. Manlius Severinus Boethius (480-524 M), ahli pikir Roma terakhir masih mencoba mengarang buku tentang bab-bab terlarang itu. Boethius kemudian dijatuhi hukuman mati pada tahun 524 M. Dengan keputusan Konsili Nicae tersebut berarti padamlah perkembangan alam pikiran di Barat hampir seribu tahun lamanya da dikenal dengan zaman gelap (Dark Ages). [6]

Pada masa penerjemahan ilmu-ilmu Yunani kedalam dunia Arab yang dimulai pada abad II Hijriyah, Logika merupakan bagian yang amat menarik minat kaum muslimin. Selanjutnya logika dipelajari secara meriah dalam kalangan luas yang menimbulkan berbagai pendapat dalam hubungannya dengan masalah agama. Ibnu Salah dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari mantiq sedangkan menurut Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.[7] Perkembangan selanjutnya yang dipansang penting dikemukakan sebagai berikut:

a. Logika Pada Zaman Islam

Pada abad VII M Agama Islam berkembang di Semenanjung Arabia dan menjelang abad VIII M, wilayah kekuasaan Islam sudah meluas. Di sebelah Timur di Thian Shan dan disebelah Barat di Pyrenses. Baghdad dibelahan Timur dan Cordova dibelahan Barat merupakan pusat kegiatan egiatan filsafat dan ilmiah yang sangat gemilang sepanjang Zaman Tengah. Karya-karya Grik dan karya-karya Sankrit, karya-karya Pahlevi serta karya Siryani dan lainnya disalin kedalam bahasa Arab. Termasuk diantaranya Karya Grik dalam bidang logika yang diberi nama dengan Ilmu Mantiq.[8]Ilmu mantiq dengan demikian, dipelajari oleh umat islam sehingga banyak dari mereka yang menjadi pakar mantiq. Diantara mereka, disamping ahli juga menulis buku ilmu mantiq dan mengembangkannya serta dalam berbagai segi, mengislamisasikannya melalui contoh-contoh yang mereka munculkan. Mereka menggunakan ilmu mantik, tidak saja untuk mempertajam dan mempercepat daya pikir dan aplikasi penarikan kesimpulan yang benar, melainkan juga membantu mengokohkan hujjah-hujjah agamawi, ternasuk wujud Tuhan dan kebaharuan alam semesta[9]

Mantiq berasal dari kata “nathaqa” yang berarti berpikir “naathiqun” yang berarti yang berpikir, “mangthuuqun” yang berati alat berpikir.Abu Abdi Yasue bin Bahris, menurut Ferdinant Tottle dalam bukunya Munjid Fil Adabi Wal Ulum(1956 M) telah menafsirkan beberapa bagian dari logika itu kepada Khalifah Al-Makmun (813-833 M) dari Daulah Abbasiyah di Baghdad. Penyalin pertama kali mengenai logika itu dilakukan oleh Yohana bin Patrik (lahir 815). Bukunya bernama Maqulat Asyarat Li Aritsu (Kategori Karya Aristoteles). Kemudian disusul dengan penyalinan bagian lainnya oleh berbagai penulis.

Ibnu Sikkit Yakub Al-Nahwi (803-859 M) memberi komentar dalam karyanya Islah Fil Mantiqi (Perbaikan Ilmu Mantiq). Selanjutnya salinan yang lebih lengkap dilakuakan oleh pertama kali yaitu oleh Al-Kindi (719-863 M) dia seorang ahli pikir islam yang besar. Akan tetapi salinan-salinan mengenai logika pada dunia Islam belahan Timur itu masih berada diluar “bab-bab terlarang”. Hal itu terbukti dari kritikan yang dilontarkan oleh Abdul Qasim bin Ahmad Al-Qurthubi dari Cordova dalam bukunya Thabqatul Umam, yang berbunyi: “Buku-buku Al-Kindi tidak memuat tentang Analytica Posteriora, sedangkan pengenalan dan pemisahan kebenaran dari kepalsuan hanya dapat diperoleh dengan kedua bagian itu. Melalui bentuk-bentuk keterangan saja yang banyak mengisi buku-buku Al-Kindi. Tidak banyak membawa faedah jika tidak disertai pengetahuan tentang susun pikiran dan bahan pikiran. Pengetahuan tentang itu hanya bisa didapat dalam pelajaran tentang Analytica.

Al-Qurthubi adalah menjabat Hakim Tinggi di Cordova dibawah Daulah Bani Umayyah. Kritikannya itu membuktikan bahwa penyalinan dalam dunia islam belahan Barat itu telah melewati bab-bab terlarang. Selanjutnya penyalinan bagian-bagian pada duia Islam belahan Timur ,asih tetap berkelanjutan ditangan Ishak bin Husein (wafat 911 M) dan Yakum Al-Dimsyiqy (wafat 914 M) dan Matta Al-Manthiqy (wafat 940 M) yang telah mencapai bab-bab terlarang sepenuhnya. Namun demikian, penyalinan-penyalinan istilah-istilah Grik kedalam bahasa Arab masih kacau, belum ada keragaman. Penyempurnaan terakhir baru berlangsung ditangan Abu Mashar Al-Farabi (873-950 M). Istilah-istilah yang telah disempurnakan oleh Al-Farabi itu tidak mengalami perubahan sampai sekarang ini. Buah tangannya dalam lapangan logika ada empat buku, diantaranya:

1. Kutubul Manthiqil Tsamaniyat, berisikan salinan lengkap dari tujuh bagian logika dan menambahkan satu bagian baru, sehingga berjumlah delapan bagian.

2. Mukaddamat Isaguji Allati Wadla’aha Purpurius, berisikan pembahasan panjang lebar tentang Eisagoge karya Porphyrius.

3. Risalat Fil Qiasi Fushulun Yuhtajju Ilaiha Fi Shina ‘atil Manthiqi, berisikan pembahasan panjang lebar tentang susun pikiran beserta ragam bentuk dan hukumnya.

4. Risalat Fil Manthiqi, Al-qaulu Fi Syarithil Yaqini, berisikan pembahasan tentang bahan pikiran.

Selain menyalin Organon selengkapnya beserta komentar atas beberapa bagian logika itu, Al-Farabi pun menyalin karya-karya Aristoteles dalam bidang filsafat dan berbagai cabang ilmiah dan memberikan komentar atas karya Aristoteles itu. Pada suatu ketika Al-Farabi pernah ditanya orang; “Manakah yang lebih besar, apakah anda atau Aristoteles?”, ia pun menjawab: “Jika saya hidup pada masa Aristoteles, niscaya saya menjadi muridnya yang terbesar.” Al-Farabi pada zaman kebangunan di Eropa dikenal dengan Guru Kedua disebabkan ulasan-ulasannya atas buah tangan Aristoteles yang dipandang sebagai Guru Pertama. Pada masa itu Abu Ali Ibnu Sina (980-1037 M), banyak memberi komentar atas buah tangan Al-Farabi, Aristoteles, Plato, Hypocrate, dan Euclid. Khusus mengenai logika Ibnu Sina (Avicienna) menulis dalam sebuah bukunya bernama Isyarat Wal Tanbihat Fil Manthiqi. Kemudian bukunya itu disalin oleh Napier kedalam bahas Perancis pada tahun 1658 M dan sebagai akibat dari penyalinan itu lahirlah logika aliran Port Royal dikota Paris, yang menjadi standard pelajaran logika di Barat sejak abad ke tujuh belas.

Kemudian ada lagi Abu Ali Al-Haitsam (965-1039 M), di Eropa dikenal dengan nama Alhazem, yang mengarang dua buah buku mengenai logika, diantaranya:

1. Talkhisu Muqaddamati Purpurius wa Kutubi Aristhathalis.

2. Mukhtasharul Manthiqi.

Pada masa itu berkembang pula gagasan Para sarjana untuk mengadakan perkumpulan untuk mengadakan diskusi dan riset dalam berbagai lapangan ilmiah dan filsafat. Perkumpulan itu dikenal denagn Ikhwanus Shaffa. Dari 52 risalat yangmereka hasilkan atau himpun, mengenai logika terdapat dalam risalat X, XI, XII, XIII, dan xiv. Disitu sistematik logika dibahas panjang lebar. Literatur logika itu terus berkembang ditangan komentator-komentator seperti: Al-Ghozali (1059-1111 M), Al-Tibrizi (wafat 1109 M), Ibnu Bajah aatu Avempas (1100-1138 M), Al-Asmawi (1198-1283 M), Al-Samarkandi (wafat 1291 M), dan Al-Abhari (wafat 1296 M).

b. Logika Pada Masa Kemunduran Islam

Menjelang abad ke XIV M sudah ada reaksi terhadap pelajaran logika dan perkembangan filsafat karena dipandang terlampau memuja akal didalam mencari kebenaran sehingga melahirkan paham-paham yang dituduh zindiq, ilhad dan kufur. Muhyiddin Al-Nawawi (1233-1277 M) dan Ibnu Shilah (1181-1243 M) yang mengumumkan fatwa bahwa mempelajari logika hukumnya haram. Akan tetapi arus reaksi itu baru mencapai puncaknya pada abad XIV M, sejalan dengan kemunduran kekuasaan Islam dan pada masa itulah Taqiyuddin Ibnu Thaimiyah (1263-1328 M) menentang logika dengan sengit dan mengarang buku yang berjudul Fashihatu ahli Iman fil Raddi ‘ala Manthiqil Yunani (ketangkasan pendukung keimanan menangkis logika Yunani). Tokoh besar ini adalah pemuka gerakan Puritarism, yaitu gerakan pemurnian agama Islam kembali seperti halnya pada zaman Rasulullah SAW .

Gerakan ini disusul oleh Saaduddin Al-Taftazani (1322-1389 M) dengan bukunya berjudul Tahzibul Manthiqi Wal Kalam (Seleksi terhadap logika dan ilmu kalam). Didalam bukunya itu dia mengukuhkan hukum haram mempelajari logika. Pengaruh fatwa itu sangat kuat terhadap masyarakat Islam. Sejak saat itu mulai padam dan terhenti kegiatan dan perkembangan alam pikiran dalam dunia Islam. Sebaliknya warisan itu disambut dengan gembira oleh dunia Barat. Sehingga lahirlah zaman kebangunan atau kebangkitan (Renaissance) di Eropa.

Roger Bacon (1214-1294 M) menganjurkan mempelajari bahasa Arab, sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh pengetahuan disebabkan versi-versi salinan yang terlampau kacau dan membingungkan. Kendatipun keadaan sudah sedemikian rupa tetapi dalam dunia Islam masih keluar karya-karya baru dalam bidang logika. Akan tetapi semangatnya sudah dilumpuhkan. Catagoriae (Maqulat Asyarat) telah disingkirkan didalam karya-karya baru itu. Logika sudah dijadikan alat embelan bagi Theologi semata sehingga telah kehilangan semangat kreativitas.

Said Syarif Ali Al-Jurjani 91339-1413 M) mencarikan jalan penyelarasan logika dengan theologi didalam bukunya Tahzibul Manthiqi wal Kalam dengan mempergunakan nama yang sama karya Taftazani. Muhammad Al-Duwani (lahir 1428 M) memberikan komentar atas Qadliyat Al-Kubra (Mayor Premisse) dan atas Qadliyat Al-Sughra (Minor Premisse)yaitu alas besar dan alas kecil didalam alas pikiran yang tulisannya dalam buku Kubra wal Sughra fi Manthiqi. Selanjutnya Abdu Rahman Al-Akhdari (abad XVI M)menyusun dasar-dasar pelajaran logika dalam bentuk sajak yang bernama Sulam fil Manthiqi. Bukunya itu diberi komentar (syarh) dan dijadiakn dasar bagi pelajaran logika diberbagai dunia Islam termasuk di Indonesia.

Kemudian ada lagi tokoh yang bernama Muhibbullah Al-Bisyari Al-Hindi (wafat 1707 M). Dia berasal dari Pshawar yang menagrang tentang logika bernama Sullamul Ulum fil Manthiqi. Bukunya itu lahir dan tersebar pada masa kebesaran Imperium Moghul pada anak benua India. Tokoh lain adalah Ahamd Al-Malawi (abad XVIII M) memberi komentar atau syarh atas karya Al-Akhdari bernama Syahrul Sullam fil Manthiqi. Kemudian diulasnya lagi dengan panjang lebar dalam buku Syahrul Kabir (Komentar Terbesar). Kemudian muridnya bernama Muhammad Al-Syubban (abad XVIII M) memberiakan annotasi-annotasi (al-hasyiat) atas karya gurunya itu dalam bukunya yang berjudul Hasyiat ‘ala Syahril Sullami. Menjelang penghujung abad XIX M bangkit angkatan pembaharuan dalam islam atas prakarsa Jamaludin A-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridla. Sejalan dengan itu perhatian terhadap logika muncul kembali di Mesir dan kemudian gerakan itu cepat meluas keseluruh dunia Arab.

c. Ars Vetus Atau Logiak Tua


Setelah menderita zaman gelap hampir seribu tahun lamanya sejak abad ke-13 dan abad ke-14, Eropa mulai menggali kembali pelajaran logika. Peter Abelard (1079-1142 M), adalah tokoh yang pertama kali menghidupkan kembali pelajaran logika pada perguruan yang dibangunnya dikota paris. Pelajaran logika pada masa itu masih terbatas diluar bab-bab terlarang yaitu terbatas sekitar Catagoriae, Eisagoge, dan De Interpretatione saja. Akan tetapi karena kesungguhan Abelard menggali naskah-naskah tua, maka ia akhirnya menemukan juga naskah peninggalan Cicero tentang Topica dan komentar Apuleus tentang Periherminias dan buah tangan Boethius tentang De Syllogismo Catagorice dan De Syllogismo Hypothetica dan sebuah komentar tentang De Interpretatione.

Himpunan keseluruhan itulah yang disebut dengan Ars Vetus (Logika Tua). Pada masa itu hanya beredar dua belas buku saja dalam lapangan logika. Isinya boleh dikatakan hampir bersamaan dan tidak satupun belakangan dipandang bernilai untuk dicetak secara luas.

d. Ars Nova Atau Logika Baru


Perkenalan dunia Barat dengan Organon selengkapnya adalah sesudah berlangsug penyalinan-penyalinan yang luas dari karya-karya ahli pikir Islam kedalam bahasa latin. Al-Farabi digelari guru kedua dan Ibnu Sina digelari guru ketiga. Beberapa bagian dari karya Ibnu Sina disalin kedalam bahasa latin pada penghujung abad ke-12 M. Akan tetapi salinan yang lebih sempurna dan lebih lengkap adalah himpunan komentar Ibnu Rusyd (Averroes), mengenai logika itu yang disalin pada awal abad ke-13 M dan sengaja diedarkan secara serentak pada masa itu dikota Paris dan di Oxford (Inggris). Inilah sebagai penyebab lahir aliran baru di Eropa yang terkenal dengan sebutan Averroists. Kedua kota Perguruan Tinggi itu merupakan pusat kegiatan ilmiah disepanjang abad ke-13 dan abad berikutnya.

Setelah penyalinan itu mata dunia Barat terbuka kembali terhadap alam pikiran Grik Tua melalui penafsiran alam pikiran Islam. Didalam bidang logika mereka menyambut keseluruhan Organon. Karena segenap bagian-bagian logika beserta tambahannya dari ahli-ahli pikir Islam telah ditemukan. Himpunan keseluruhan itulah yang disebut pada masa itu dengan Ars Nova (Logika Baru). Bahan-bahan baru itu menghasilkan karya dari Albertus Magnus (1206-1280 M) dalam bidang logika. Beberapa orang komentator yang semasa dengan Albertus Magnus memberikan sumbangan penting bagi perkembangan logika kembali di Barat. Diantaranya ialah Robert Grosseste (wafat 1253 M), yang memberikan ulasan tentang Analytica Posteriora dan St. Thomas Aquinas (1225-1274 M) yang memberikan komentar Periherminias serta muridnya Giles of Rome (wafat 1336 M) yang memberikan komentar lengkap tentang keseluruhan Organon.

Sejak itu literatur mengenai logika berkembang cepat di Barat. Petrus Hispanus (wafat 1277 M) yang kemudian menjadi paus dengan panggilan Paus John XXI (1276-1277 M). Dia menyusun pelajaran logika itu berbentuk sajak seperti hal nya Al-Akhlaq dari dalam dunia Islam. Bukunya menjadi buku dasar bagi pelajaran logika sampai kepada abad ke-17. Penulis-penulis lainnya mengenai logika dari golongan Oxford adalah Roger Bacon (wafat 1292 M), Thomas Sutton (1300 M), Walter Burleigh (1275-1345 M). Sedangkan dari golongan Paris adalah Jean Buridan (1295-1366 M), Albert of Saxony (1316-1390 M), Ramon Lull (1232-1315 M) dan St. Vincent Ferrer (wafat 1372 M).

e. Kemunduran Logika Kaum Skolastik


Menjelang penghujung abad ke-15 pengaruh logika kaum Skolastik mulai mengalami kemunduran karena lebih banyak memperdebatkan hal-hal yang tidak berarti. Logika itu makin lama makin dirasakan sebagai sesuatu yang hampa dan kosong untuk dipergunakan sebagai alat untuk memperkembangkan pengetahuan. Francis Bacon (1561-1626 M) melancarkan serangan sengit terhadap logika dalam bukunya Novum Organon 9Organon Baru) dan menganjurkan penggunaan sistem Induksi secara lebih luas. Serangan Bacon itu mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan di Barat dan perhatian ditujukan kepada penggunaan sistem Induksi dan kemudian lahir gerakan Empiri. Kebangkitan gerakan Empiri itu menyebabkan pengaruh logika kaum Skolastik lenyap sama sekali.[10]

Sejalan dengan itu seperti telah disinggung, dunia Islam menjadi mundur dibidang Ilmu Pengetahuan.Namun dengan demikian, diawal kebangkitan Islam (mulai pada penghujung abad ke-19) yang ditandai dengan gerakan pembaharuan, ilmu-ilmu yang tadinya disigkirkan, termasuk ilmu mantik, mulai didipelajari dan dikembangkan kembali. Gerakan pembaharuan ini dipelopori oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid dan lain-lain. Pengaruh ini meluas keseluruh dunia Islam termasuk ke Indonesia.[11]

f. Logika Golongan Port Royal


Pada tahun 1658 M karya Ibnu Sina dalam bidang logika disalin oleh Napier kedalam bahasa Perancis. Karya Ibnu Sina itu kelihatannya sangat berpengaruh terhadap kebangkitan kembali logika ditangan tokoh-tokoh yang dikenal dengan sebutan Golongan Port Royal. Tulisan-tulisan mereka menganjurkan pergantian keterangan-keterangan didalam susunan pikiran dengan simbol-simbol agar lebih umum sifatnya dan lebih mudah melakukan analisa. Mereka tidak dapat menyelesaikan dan menyempurnakan gagasan itu, namun telah meletakkan landasan yang pertama bagi pertumbuhan Logika Simbolik.

Logika Simbolik itu bertujuan menjabarkan logika itu agar menjadi bagian dari ilmu pasti. Setiap keterangan, pengertian dan setiap hubungan diganti dengan tanda-tanda (simbul). Gagasan itu mula-mula dicetuskan oleh Leibniz, tetapi baru pada pertengahan abad ke-19 mendapat perhatian yang sungguh-sunguh. Karya terpenting dalam bidang ilmu ini adalah buah tangan Erns Schroeder, terdiri atas tiga jilid yang diterbitkan berangsur-angsur dari tahun 1896 sampai tahun 1905. Proyek atau gagasan itu mencapai kematangannya ditangan Bertrand Russel dan A. N. Whitehead dalam bukunya Principia Mathematica dan buku tersebut sampai sekarang masih merupakan standard didalam bidang Logika Simbolik.

g. Logika Di Indonesia

Kalau diperhatikan mengenai logika di Indonesia agak memperhatinkan karena logika tidak pernah menjadi mata pelajaran atau bidang studi pada perguruan umum selama dalam penjajahan Belanda. Pelajaran logika itu dapat dijumpai di pesantren-pesantren Islam dan perguruan-perguruan Islam lainnya dengan menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Tan Malaka dalam bukunya Madilog dikemukakan: “pada beberapa negara Barat dan Amerika, disekolah menengah atas, logika itu sudah diajarkan sebagai vak pelajaran yang khusus bersama-sama dengan Ilmu Bukti yang lain. Sudah tentu mahasiswa mendapat pelajaran tersendiri mengenai logika sebelum diajarkan Ilmu Bukti (Ilmu Pasti. Pen.). Selanjutnya dalam buku logika zaman sekarang. Contoh logika diambil dari Ilmu Bukti. Logika dan Ilmu Bukti itu keduannya saling mengisi. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya logika sebagai ilmu berfikir”.

Bagi bangsa Indonesia besar kemungkinan, karena politik penjajahan menyebabkan logika tidak mendapat tempat dalam suatu lembaga pendidikan sebagaimana telah disinggung diatas. Namun para ulama yang mengelola atau perguruan agama Islam lainnya mempunyai pandangan jauh. Kepada para santri diajarkan logika(Ilmu Mantiq) supaya berfikir logis dan kritis. Kenyataan juga menunjukkan bahwa tidak semua lembaga pendidikan tersebut mengajarkan logika itu, bahkan ada yang menentangnya sebagaimana dilakukan oleh sebagian ulama terdahulu.[12] Ilmu mantik pada mulanya dipelajari secara terbatas diperguruan-perguruan agama dan pesantren. Ilmu ini kemudian semakin mendapat perhatian berkat semangat positif gerakan pembaharuan tadi. Tetapi meskipun pakar mantik mungkin banyak di Indonesia, ternyata buku-buku mantik atau logika yang mereka susun dalam bahasa Indonesia masih amat sedikit. Sementara itu mereka mengakui besarnya signifikansi dan peranan ilmu mantiq atau logika itu bagi pengembangan ilmu pada umumnya dan peningkatan daya pikir untuk memperoleh kesimpulan yang benar pada khususnya.[13]


Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan materi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu mantik atau logika adalah kaidah bernalar baik dan benar. Dewasa ini ilmu logika sudah mengalami revolusi besar semenjak Immanuel Kant dan disempurnakan oleh Einstein, Kuhn, Popper, dan lain-lain terutama abad XXI ini. Maka ilmu mantiq sudah tidak dapat dipadankan dengan ilmu logika karena logika memiliki varian yang begitu banyak akan tetapi logika formal masih dapat dipadankan dengan ilmu mantiq. 

Sejarah ilmu mantiq tidak lepas dari filafat Yunani yang diadopsi oleh ulama muslim, akan tetapi pada hakekatnya semenjak manusia pertama sudah berkegiatan berfikir sudah ada, meski belum sistematis (secara mantiq), manusia yang menciptakan sistemisasi berfikir adalah Aristoteles bin Nicomakhus dilahirkan disebuah kota yang bernama Stafira pada tahun pertama pemerintahan Raja Artaxerxes bin Darius dan memasuki dunia Islam pada masa Daulah Abbasiyah.

Ilmu mantiq dapat dijadikan manusia yang manusiawi (makhluk sempurna) yang mana dapat menjadikan manusia mampu memfungsikan akal dan jiwanya sesuai fungsinya. Jadi setiap orang harus mempelajari ilmu mantiq agar seseorang dalam mengambil kesimpulan tak lagi salah. Ilmu mantik yang menuntun mereka untuk sampai pada kesimpulan yang benar. Karena bisa saja seseorang melakukan kesimpulan yang benar tanpa melalui ilmu mantik. Itu mungkin saja kebetulan karena yang dapat menghasilkan kesimpulan atau hasil akhir yang benar adalah ilmu mantik. Oleh sebab itulah ilmu mantik disebut sebagai jembatan dari segala ilmu.

Sumber :

Baihaqi. 2012. Ilmu Mantik. Jakarta: DARUL ULUM PRESS.

Djalil, Basid. 2010.Logika Ilmu Mantik. Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP.

Hasan, Ali. 1992. Ilmu Mantiq Logika. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Mundiri. 1998.LOGIKA. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tiam, Sunardji Dahri. 2016. Ilmu Manthiq. Malang: Intrans Publishing.

[1] Baihaqi, Ilmu Mantik (Jakarta: DARUL ULUM PRESS, 2012), hlm. 1.


[2] Sunardji Dahri Tiam, Ilmu Manthiq (Malang: Intrans Publishing, 2016), hlm. 13-14.


[3] Baihaqi, Ilmu Mantik (Jakarta: DARUL ULUM PRESS, 2012), hlm. 2.


[4] Basid Djalil, Logika Ilmu Mantik (Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP, 2010), hlm. 3.


[5] Baihaqi, Loc. Cit.


[6]Ali Hasan, Ilmu Mantiq Logika, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,1992), hlm. 5-9.


[7] Mundiri, LOGIKA, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), hlm. 3.


[8] Ali Hasan, Op. Cit, hlm. 9-10.


[9] Baihaqi, Ilmu Mantik (Jakarta: DARUL ULUM PRESS, 2012), hlm. 4.


[10] Ali Hasan, Op. Cit, hlm. 10-16.


[11]Baihaqi, Ilmu Mantik (Jakarta: DARUL ULUM PRESS, 2012), hlm. 5.


[12] Ali Hasan, Op. Cit, hlm. 16-18.


[13] Baihaqi, Loc. Cit.

Author : Rina Aprilia 

Related Posts



0 komentar:

Post a Comment

Panduan Berkomentar, Klik disini